Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Menengok Sejarah Keberadaan Lokalisasi di Kampung Kajang

izak-Indra Zakaria • Selasa, 27 Oktober 2020 | 10:41 WIB
SEPERTI KAMPUNG BIASA: Saat siang, kompleks Kampung Kajang sepi aktivitas. Namun, berbeda kondisinya jika di malam hari.  Lela Ratu Simi/KP
SEPERTI KAMPUNG BIASA: Saat siang, kompleks Kampung Kajang sepi aktivitas. Namun, berbeda kondisinya jika di malam hari. Lela Ratu Simi/KP

Keberadaan lokalisasi di Kampung Kajang disebut sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Meski pernah dinyatakan telah ditutup, aktivitas prostitusi disebut masih menggeliat.

---

Kampung Kajang berada di Kelurahan Singa Geweh. Memiliki luasan 4.627.54 kilometer persegi ini dulunya merupakan wilayah pinggiran sungai yang masih sepi penduduk.

Sekira 1970–1980, perkampungan di Dusun Sendawar (lebih dikenal Kampung Kajang), dihuni oleh suku asli pribumi, yakni Kutai. Namun, saking sepinya, hanya berkisar 10 kartu keluarga (KK) yang menetap di bantaran sungai tersebut. Mereka itulah perajin nipah yang pada zaman itu sangat laris di pasaran.

Warga setempat berprofesi nelayan dan petani dengan mata pencarian lain, yakni pembuat atap nipah atau lebih dikenal dengan sebutan "Kajang". Atas dasar itu, daerah itu dicetus menjadi Kampung Kajang. Fakta ini masih sangat jarang diketahui masyarakat banyak.

Meski dicap sebagai kawasan lokalisasi, di kampung ini juga dihuni masyarakat umum lainnya. Di dalam kawasan ini banyak para pencari nafkah dengan menggeluti sektor lain, ada yang berdagang, bertani, berkebun, buruh, bahkan pekerja tambang.  

Camat Sangatta Selatan Hasdiah menjelaskan asal usul Kampung Kajang. Putri daerah satu ini menceritakan sejak dulunya rumah di Sangatta rata-rata beratapkan kajang. Namun, masih sulit mencari pembuat selain di kampung satu ini. Karena menjadi pusat pembuatan, akhirnya daerah ini dicetuskan menjadi nama yang terngiang hingga masa kini.  

"Di situlah pusat pembuatan kajang, karena mereka juga dekat dengan Muara Sangatta yang memang sumber bahan nipah, akhirnya disebut-sebut jadi Kampung Kajang sebagai nama wilayah," ungkapnya.  

Saat itu Kampung Kajang belum dikenal dengan konotasi miring, malah lokalisasi awalnya bertempat di Masabang, salah satu dusun di Kecamatan Sangatta Selatan. Namun, dengan alasan padatnya penduduk di Masabang itulah, kompleks tersebut dipindah ke kawasan Kampung Kajang yang masih rimbun dengan pepohonan. 

Terlebih angka pendatang kian meningkat setiap tahun. Pekerja seks komersial pun semakin bertambah. Hingga difokuskan pada satu titik tempat tersepi, yaitu Kampung Kajang.  

"Di Masabang itu permukiman warga, makanya lokalisasinya dipindah. Supaya warga tidak terganggu, karena saat itu banyak pekerja seksnya berdatangan dari luar daerah," ungkapnya.  

Sejak kepindahannya di medio 1980-an, tempat itu sering terbakar. Hingga kini diperkirakan sudah mencapai lima kali tumbuh kembali bangunan baru. Artinya, sudah sekira lima kali juga lokalisasi ini terbakar tapi ada lagi.  

"Sering betul kebakaran, tapi muncul lagi, terbakar lagi, ada lagi dibangun," bebernya. Kompleks itu kini dikelilingi oleh permukiman yang kian bertambah. Di sekitarnya bukan lagi pepohonan, melainkan rumah-rumah warga yang sekarang sudah mencapai 7.119 orang, terbagi atas 3.302 perempuan dan 3.817 laki-laki. 

Di Kelurahan Sige (sebutan Singa Geweh), saat ini memiliki 35 RT dari tujuh dusun. Jika dihimpun, 1.878 KK ada di tempat itu. Kenaikannya terus bertambah signifikan sejak 50 tahun lalu. 

Tempat ini terletak tepat di Kecamatan Sangatta Selatan yang memiliki luas wilayah sebesar 135.929.56 kilometer persegi dari empat desa 34 dusun dan 130 RT dan dihuni oleh 24.215 penduduk terdiri atas 6.430 KK. "Sekarang malah lokalisasi itu jadi di tengah permukiman. Sebab, makin padat penduduk, warga malah membangun rumah di sekitar situ," jelasnya.  

Banyak pula upaya yang dilakukan pemerintah untuk mensterilisasi lokalisasi. Ada tujuh tempat berupa kafe dan karaoke di kompleks itu. Kompleks yang bangunannya berhadapan di dalam gang kecil yang memiliki luasan jalan sekira kurang-lebih 1,5 meter. Diketahui, tempat ini diupayakan agar ditutup. Hanya, sering kebobolan dan beroperasi kembali.  

"Sudah sejak 2013 dicoba untuk tutup. Sempat mau memindahkan mereka tapi pemerintah tidak punya tempat alternatif. Akhirnya mereka dibayar supaya pulang kampung. Namun, kadang ada saja yang mucil dan kembali," terang perempuan berjilbab itu.  

Tidak hanya itu, lanjut dia, upaya penutupan kawasan prostitusi ini telah dilakukan oleh pemerintah bersama Satpol PP. Mulai proses mediasi hingga penertiban telah dilaksanakan. Namun, tetap saja, tempat ini sering beroperasi secara diam-diam. Memang antara pemilik lokalisasi dan petugas seperti menjadi kucing-kucingan.   

"Setahu saya pokoknya saat ini mereka sudah ditutup, itu aturannya," ujarnya. Kondisi saat ini tidak ada sekat di antara mereka, antara pekerja seks komersial maupun orang kampung sekitar. Memang kalau belum ke kawasan ini, biasanya orang hanya tahu kulitnya. Disebut Kampung Kajang di situ pula berkonotasi lokalisasi. (*/la/rdh/k16) 

 

Editor : izak-Indra Zakaria