APA arti sebuah nama? Bagi Cerry, nama itu punya arti yang sangat berarti. Karena itu, dalam memilih nama, Ia banyak bertanya pada banyak orang.
Dari sekian nama yang ada dalam pikirannya, Ia hanya melihat posisi dimana warung kopinya berlokasi. Kebetulan di pojok jalan. Tapi, tidak mungkin menggunakan nama warkop pojok. Nama yang sudah dimiliki oleh salah satu warung kopi di Jalan Niaga. Langganan saya.
Makanya, dia pilih nama yang mirip-mirip saja. Dia pakailah nama warung simpang. Iya, lokasinya memang di simpang jalan persis di depan Puskesmas Tanjung Redeb. Lokasi yang tidak terlalu ramai. Atau terinspirasi dengan salah satu nama hotel di Surabaya. Hotel simpang.
Awalnya, Ia melirik konsumen pengunjung dan karyawan puskesmas. Selepas jam berkunjung, menanti para peminum kopi datang bergantian. Dan, saya pun datang pagi-pagi sekali. Biasanya ke warung pojok, beralih dulu ke warung simpang milik Mas Cerry.
Cerry itu putra sahabat saya. Ayahnya Pak Yakobus Linde, dulu pimpinan di PDAM. Saat jumlah pelanggan PDAM belum terlalu banyak. Seperti sekarang, setelah tak lagi bertugas di PDAM, terbukalah pikiran membuka warung.
Awalnya dipakai nama Toko Olala. Dan, Cerry lah yang mengurus semuanya. Yang jualan roti. Saat itu, belum ada toko besar menjual roti seperti sekarang. Laris manis, walau ujungnya tak sanggup juga melakukan perlawanan. Ia menyerah setelah sekian tahun hadir.
Apa berikutnya? Sempat menjadikan sebagai gerai ikan Cuppang. Mengikuti hobinya mencintai Ikan Cupang yang memesona itu. Dan, berjejeralah toples kecil berisi Ikan Cupang. Bermacam warna dan nama. Bertahan lama juga. Itu namanya perjalanan.
Episode berikutnya, Cerry bersama sang istri memulai dengan warung kopi. Tempatnya luas, bisa 8 set kursi di space ruangan yang luas. Mempekerjakan 3 orang karyawan anak muda yang gesit-gesit.
“Baru satu bulan lebih saya buka, daeng,” kata Cerry yang lulusan Universitas Trisakti Jakarta. Semua masih serba darurat. Dia baru bangun tidur ketika saya sudah dua jam di warungnya. Katanya semalam, menemani tamu hingga jam 03.00 wita dinihari.
Saya terlambat informasi. Sudah banyak poelanggannya yang datang dan duduk berlama-lama. Ada dokter spesialis, yang selesai minum kopi hingga tengah malam. Belum lagi karyawan PLN dan banyak lagi.
Ia sadar, banyak warung kopi yang bertebaran di Tanjung Redeb. Semuanya, punya komunitas sendiri. Walaupun baru tampil, tapi masih memiliki nama pelanggan ketika membuka warung roti Olala. Semua butuh proses.
“Pak Daeng minum apa?” tanya Cerry. Sebagai pendatang baru, saya memesan kopi susu racikan baristanya. Karena masih pagi, minum kopi tak masalah. Ada pisang goreng titipan warga sekitar warungnya.
Karena tempat yang luas. Harus ada makanan ataupun minuman yang jadi daya tarik. Kalau racikan kopi, sang barista sudah bisa berinovasi. Bahkan Cerry pun ikut membuatkan olahan kopi dengan rasa khas. “Ini nyaman bila ditambahkan es,” kata Cerry.
“Bagaimana kalau ada menu sarapan bubur Manado?” kata saya. Cerry tertarik. Maklum, sang istri asal Kawanua. Cerry tertarik juga. Khusus untuk konsumen yang mau sarapan. Syaratnya, ikan asinnya pesan ikan asin Kerapu. “Pasti banyak peminatnya,” kata saya.
Lumayan lama di hari pertama berkunjung di warung simpang milik Cerry. Sebetulnya, saya berharap bisa jumpa dengan pak dokter spesialis itu. Saya sudah siapkan banyak pertanyaan. Pertanyaan sekitar saat pak dokter itu menangani pasien Covid-19. Dan, Ia sendiri kebal dengan virus itu.
“Oke Cerry, saya pulang dulu. Malam saya datang lagi, tapi tak bisa begadang seperti Pak Dokter spesialis itu,” kata saya. He he, tuha sudah wal. @cs_daengsikra (*/sam)
Editor : uki-Berau Post