PENAJAM- Produksi perikanan tangkap di Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perikanan PPU Andi Trasodiharto saat ditemui di ruangannya, Rabu (4/10). Pemicu penurunan adalah cuaca ekstrem, gelombang besar disertai angin selatan hingga kemarau pada periode Juli, Agustus, September.
“Ini memasuki triwulan keempat. Biasanya di triwulan ketiga tahun berjalan, dari data kami, kurang lebih sekitar 6.000 ton perikanan tangkap per tahunnya,” kata Andi. Saat ini masih di angka 4.300 ton. Biasanya, puncak kenaikan perolehan hasil tangkap ikan terjadi pada November–Desember.
“Di bulan itu (November dan Desember), pasang air dan gelombang laut sudah tenang, tangkapan biasanya akan lebih banyak untuk menutupi kekurangan hasil tangkapan pada Juli hingga September tadi,” ujarnya.
Berbeda dengan perikanan tangkap, perikanan budi daya tidak menunjukkan angka penurunan yang signifikan. Sebab, pemanfaatannya hanya melalui lahan-lahan masyarakat yang dikelola. Baik itu perikanan budi daya air tawar, seperti nila, gurame, bawal hingga patin.
“Perikanan budi daya itu masih stabil. Memang untuk saat ini, yang agak sedikit menurun perikanan tangkap,” jelasnya.
Namun, tingkat kerawanan perikanan budi daya juga patut diwaspadai ketika memasuki musim penghujan. Biasanya ada kejutan air yang masuk. Sehingga, nilai derajat keasaman (pH) jadi menurun.
“Mengantisipasi itu, Dinas Perikanan PPU juga sudah menyosialisasikan hal tersebut kepada para pembudi daya,” tuturnya.
Menurutnya, air yang paling bagus untuk perikanan budi daya air tawar itu pH-nya di atas 6 -7. Ikan air tawar, lanjut Andi, itu bisa hidup dan tumbuh sehat karena tiga faktor.
“Pertama, yakni kondisi lingkungan baik itu kualitas air, bibit, dan yang terpenting adalah pakannya,” katanya. (far/k15)
AHMAD MAKI/KP
maki@kaltimpost.co.id
Editor : izak-Indra Zakaria