Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Puluhan Mahasiswa Unmul Bedah Buku Inche Abdoel Moeis, Cerita Pemuda Kaltim Hentikan Agresi Militer Belanda di Jawa

Muhamad Yamin • 2024-09-04 16:39:18

Puluhan Mahasiswa Unmul Bedah Buku Inche Abdoel Moeis, Cerita Pemuda Kaltim Hentikan Agresi Militer Belanda di Jawa

Buku Inche Abdoel Moeis
Buku Inche Abdoel Moeis

SAMARINDA - Usai proklamasi 19 Agustus 1945 dengan berdirinya Republik Indonesia, pemerintah Presiden Soekarno mendapat ancaman wilayahnya diduduki oleh Belanda.

Tentara dimiliki Indonesia pun jumlahnya terbatas dan hanya di pulau Jawa. Kekuatan itu tak cukup bisa melawan Belanda yang masih menguasai Kalimantan. Para pemuda di Kalimantan yang ingin merdeka hendak bergabung ke Indonesia terhalang.

Tak mati langkah, salah satu tokoh pemuda Kalimantan nasionalis, Inche Abdoel Moeis menyusun strategi. Ia berjuang melalui diplomasi dan menyuarakan tekad bangsa Indonesia untuk merdeka kepada dunia internasional.

Demikian hal ini terungkap saat puluhan mahasiswa Universitas Mulawarman mengikuti bedah buku "Inche Abdoel Moeis Pejuang Nasionalis Tanpa Pamrih" di Gedung Unmul Hub, Rabu 4 September 2024.

Hadir menjadi pembicara bedah buku tersebut yaitu Ir H Izedrik Emir Moeis, anak dari Inche Abdoel Moeis. Emir Moeis pun berharap sejarah perjuangan ayahnya dan pemuda Kaltim ini membuat bangga generasi muda Kaltim dan tak berkecil hati.

Bahwa pemuda Kaltim juga sangat berjasa dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Saya ingin generasi Kaltim itu tahu, bahwa generasi pendahulunya berjuang keras untuk mendirikan NKRI. Jadi, kita bukan saja daerah yang menghasilkan sumber daya alam buat Republik. Tapi kita ini ikut mendirikan Republik ini," katanya.

Emir Moeis menambahkan ketika nantinya ada Ibu Kota Nusantara di Kaltim, generasi muda Kaltim jiwanya mesti lebih terpanggil karena sejarah pendahulunya ikut mendirikan NKRI. "Jadi ada kebanggaan bagi generasi muda Kaltim," katanya.

"Jadi, generasi muda Kaltim ikut bergerak (ketika revolusi Kemerdekaan). Memang bukan berjuang di bidang fisik ya. Tetapi berjuang di bidang diplomasi. Saya juga mau jelaskan, saat itu ya ada nada sinis, seolah-olah pemuda Kaltim wakil pemerintah Hindia Belanda. Tapi sebetulnya kemerdekaan itu secara de facto masih di pulau Jawa," kata Emir Moeis.

Kemerdekaan Indonesia yang baru sebatas di pulau Jawa, dikatakan Emir Moeis, mendorong pemuda Kaltim bersuara keras berjuang ke dunia internasional agar agresi militer Belanda dihentikan. Suara pemuda di Kaltim akhirnya di dengar oleh delegasi negara lain dan melarang Belanda melakukan agresi militer.

"Ini terus terang saja, pemuda Kaltim lah yang paling vokal minta Belanda supaya tidak melakukan agresi atau gerakan militer. Dulu, setelah Jogja yang direbut oleh Pak Harto, kalau diteruskan (agresi Belanda) pulau Jawa itu habis semua dikuasai Belanda," kata Emir Moeis.

Namun, adanya permintaan pemuda Kaltim dan para pemuda dari pulau lainnya di Indonesia meminta hentikan agresi Belanda, ternyata di dengar oleh delegasi negara lain yang akhirnya melarang Belanda untuk lakukan agresi militer.

Dilarangnya Belanda lakukan agresi, pemuda Kaltim ketika itu bilang kepada delegasi negara lain "jangan hanya dengar suara Bung Karno dan Belanda. Tapi dengar suara rakyat dan Bung Hatta".

Editor : Indra Zakaria