Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Unis Sagena, Dosen Unmul yang Luncurkan Dua Buku Puisi Sekaligus, Ini kata Syafruddin Pernyata dan Dua Pembedahnya

Faroq Zamzami • Senin, 27 Januari 2025 - 16:12 WIB
Photo
Photo

PROKAL.CO, SAMARINDA-Unis Sagena meluncurkan dua buku puisi sekaligus.

Unis adalah dosen Program Studi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda.

Buku puisinya yang berjudul Buat Apa Rindu Kau Terjemahkan dan Tiada Jembatan yang Tak Luka diluncurkan sekaligus dibedah pada Ahad, 26 Januari 2025, pukul 19.30 Wita.

Digelar di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Jalan Juanda, Samarinda.

Juga melalui dalam jaringan (daring) via aplikasi Zoom Meeting.

Agenda ini kerja sama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim, Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kaltim, Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltim, dan Jaring Penulis Kaltim (JPK).

Sejumlah seniman dan sastrawan kesohor hadir dalam ajang itu. Sebut saja Syafruddin Pernyata, penulis dan tokoh literasi, yang sudah menghasilkan banyak karya. Juga Syafril Teha Noer, wartawan senior dan budayawan.

Kedua seniman dan sastrawan itu berkesempatan memberikan kata sambutan dalam ajang ini.

Saat memberi sambutan, Syafruddin, mengatakan puisi yang dibuat Unis enak dinikmati dan pembaca dapat merasakan apa yang ingin disampaikan penulis.

Dalam hal ini dia mencontohka puisi tentang ibu. Banyak orang yang mudah bercerita tentang ibu. Tapi sedikit yang enak dinikmati. Dari yang sedikit itu salah satunya karya Unis tersebut.

“Apalagi sosok ibu pada masa lalu membuat kerinduan pada kita,” ujarnya.

Baca Juga: Kampus Kelola Tambang Jadi Kontroversi, Dua Universitas di Samarinda Sikapi dengan Hati-Hati

“Saya mengapresiasi karya Unis. Mudah-mudahan ini jadi pemicu penyair dari menara-menara kampus. Kita tahu banyak seniman juga dari kampus-kampus kita,” lanjutnya.

Ke depan, dia berharap akan bermunculan Unis-Unis lainnya dari Samarinda yang merupakan salah satu kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dalam kesempatan itu, tak hanya memberi sambutan, Syafruddin juga beberapa kali membacakan kutipan puisi dari buku Unis tersebut.

Sementara pembeda dalam agenda itu adalah Dahri Dahlan, penulis dan akademisi Unmul. Juga Hendra Gunawan, penulis dan akademisi Universitas Hasanudin (Unhas), Makassar.

Acara ini juga dipandu oleh moderator yang merupakan penulis yang sudah kesohor, Amien Wangsitalaja.

Dahri dahlan saat membedah buku itu mengaku membuat sejumlah catatan. Di antaranya, puisi-puisi dari Unis punya konsistensi dengan gayanya sendiri.

“Membaca karya Unis bagi saya bukan hal yang baru. Beginilah Unis dengan gayanya,” ujar Dahri.

Puisi-puisi Unis juga berbicara bahwa dia bukan penulis pemula. Beberapa puisinya bermakna sublim (amat indah) dengan makna yang luhur.

Beberapa karyanya juga sangat halus dan enak dinikmati. Banyak menampilkan diksi-diksi yang kurang akrab dengan anak-anak masa kini. Salah satunya istilah jelaga.

Kata ini akan membuat pembaca masa kini ingin mencari tahu, melalui Google misalnya, yang kemudian jadi penghubung antara masa kini dan masa lalu.

“Zaman sekarang kalau kita menyebut jelaga anak-anak muda umumnya tidak tahu. Dari mana sumbernya asap. Kalau dulu kan kita tahu dapur. Sekarang orang sudah pakai rice cooker dan lainnya. Jadi puisi-puisi Unis juga jadi salah satu jembatan penghubung generasi sekarang,” katanya.

Sementara itu, pembedah kedua, Hendra Gunawan, penulis dan akademisi Unhas, mengatakan dalam kumpulan puisi di buku Tiada Jembatan yang Tak Luka, dirinya merasakan sebuah dialektika diskusi.

Sajak-sajak monolog yang dialektis dengan imajinasi penulis tentang pemikiran tokoh lain.

“Sajak-sajak yang merupakan dialog dengan pemikiran lain itu justru terlahirkan sebagai sebuah sajak, bukan sebuah esai atau makalah jurnal,” katanya.

Kata dia, pada empat rangkaian sajak yang ditulis oleh Unis Sagena terkait refleksi empat negara, Vietnam hingga Burma, di situ dirinya merasakan ada nuansa sewarna ketika menyimak puisi-puisi M Iqbal dalam karyanya Pesan dari Timur.

M Iqbal atau yang dikenal Allama Iqbal adalah salah satu ilmuan muslim di bidang filsafat, politik, hingga sastra pada abad 20.

“Ini tentu bukan mengglorifikasi Bu Unis tapi sebagai seorang penulis ini adalah pengalaman yang dialami secara utuh,” katanya.

Rangkaian bedah buku dengan MC Rachmawati, seorang pustakawan, itu juga diisi dengan pembacaan puisi.

Yakni, dari Nur Aliyah Aini (Berau), Arniyati Amin (Makassar), Sri Musdikawati (Polman), Rini Intama (Tangerang), Nur Hira Abdul Kadir (Makassar), Ulfah Diana Sagena (Majene), dan Fitriani Um Salva (Samarinda).

Hamdani, seniman kesohor lainnya juga tampil membacakan puisi secara spontan. (far)

Editor : Faroq Zamzami
#buku #puisi #fisipol #IKN #UNMUL #samarinda #HI