Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Miris, Melayani Tiga Kampung tapi Pusat Kesehatan Masyarakat di Suaran Kekurangan Tenaga Medis

Faroq Zamzami • Rabu, 12 Februari 2025 - 18:40 WIB
KESEHATAN: Lamlay Sarie saat menanggapi kekurangan tenaga medis dan nakes di PKM Suaran saat Musrenbang Sambaliung, Selasa, 11 Februari 2025.
KESEHATAN: Lamlay Sarie saat menanggapi kekurangan tenaga medis dan nakes di PKM Suaran saat Musrenbang Sambaliung, Selasa, 11 Februari 2025.

 

PROKAL.CO, SAMBALIUNG –Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Suaran, Kabupaten Berau, kekurangan tenaga medis. Hal ini dikeluhkan Kepala Kampung Suaran Arif Sugiarto.

Keterbatasan tenaga kesehatan (nakes) di PKM Suaran berdampak signifikan pada pelayanan kesehatan. 

Dikatakan Arif, PKM Suaran harus melayani tiga kampung terdekat. Yakni, Sukan Tengah, Gurimbang dan Tanjung Prengat. Pengurangan tenaga honorer kesehatan sangat berdampak pada pelayanan kesehatan di sana.

 Baca Juga: Belajar Program Makan Siang Bergizi dari Jepang yang Sudah Dimulai Sejak Ratusan Tahun Lalu  

"Makanya kami mau mengusulkan penambahan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan menjadi sangat terdampak," ucapnya.

Harapannya bukan hanya dari segi SDM, tetapi juga fasilitas PKM harus ditingkatkan. Karena, tanpa SDM dan fasilitas yang memadai, pelayanan kesehatan tidak akan optimal.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Berau, Lamlay Sarie, menjelaskan kekurangan tenaga medis bukan hanya menjadi permasalahan di Berau, tetapi juga terjadi secara nasional.

Salah satu penyebab utama adalah banyaknya dokter umum yang memilih melanjutkan pendidikan spesialis melalui program beasiswa dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

"Sebelumnya, PKM Suaran memiliki tiga dokter. Namun, karena kebijakan pusat yang membuka kesempatan luas bagi dokter umum untuk melanjutkan pendidikan spesialis, banyak dokter yang hanya bertugas dalam waktu singkat sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan," jelasnya.

 Baca Juga: Culture Shock di Penajam Paser Utara, Kabupaten Penyangga Ibu Kota Nusantara

Diskes Berau bertekad untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis di 21 PKM di daerah ini. Bahkan, isu nasional ini telah dibawa oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk dirumuskan bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Mengingat adanya keterkaitan dengan implementasi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) Nomor 20 Tahun 2023 dan Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 yang menegaskan bahwa pemenuhan SDM kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah.

"Secara teknis, kami akan terus berkoordinasi dengan kepala PKM dan kepala kampung terkait untuk mencari solusi terbaik dalam menangani kekurangan tenaga kesehatan ini," tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, menekankan keterbatasan dalam merekrut tenaga medis juga dipengaruhi oleh aturan dalam UU ASN yang mengatur penataan pegawai hingga Desember 2024. Sehingga, pada awal tahun 2025 ini Kabupaten Berau ikut terkena imbasnya.

Selain itu, status PKM di Berau yang belum berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menjadi kendala dalam fleksibilitas penganggaran dan perekrutan tenaga medis.

 Baca Juga: Angin Kencang Hantam Pulau Wisata Maratua, Sekolah dan Kantor Pemerintahan Kena Imbas

"Jika PKM sudah berstatus BLUD, penganggaran bisa lebih fleksibel, dan tenaga medis dapat direkrut kapan saja sesuai kebutuhan," katanya.

Hanya, proses untuk menuju BLUD tersebut bukan hal mudah. Bahkan, RS Pratama Talisayan masih dalam proses mendapatkan status BLUD tersebut.

Selain itu, dalam formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2024, Kabupaten Berau mendapatkan kuota 450 formasi, tetapi tidak semua dapat terisi, terutama untuk dokter dan tenaga kesehatan yang ditempatkan di daerah pesisir atau pedalaman.

"Kami berharap ada dokter spesialis yang mau bertugas di RS Pratama Talisayan. Namun, hingga akhir pendaftaran, tidak ada yang mendaftar," katanya.

Padahal, untuk memenuhi syarat rumah sakit tipe pratama, minimal harus memiliki empat dokter spesialis. Yakni, spesialis bedah, kandungan (obgyn), anestesi, dan penyakit dalam.

Lebih lanjut, Muhammad Said mengungkapkan, salah satu tantangan utama dalam penempatan tenaga medis di daerah terpencil adalah minimnya tenaga kesehatan yang bersedia bertugas dalam jangka waktu lama.

 Baca Juga: Pasangan Muda Pengedar di Samarinda Ditangkap Polisi, Ganja Setengah Kilo Disita

Ini menjadi tantangan besar dalam memastikan pelayanan kesehatan di daerah pesisir, perbatasan, dan pedalaman tetap berjalan optimal.

"Empat dokter spesialis yang ada di RS Pratama rata-rata hanya bertahan kurang dari dua tahun sebelum akhirnya pindah ke rumah sakit lain," tuturnya. (*/aja/far)

Editor : Faroq Zamzami
#berau #kesehatan #PKM #tenaga medis #kampung #masyarakat