Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bertaruh Nasib di Kubangan Lumpur: Potret Perjuangan Sopir Menembus Jalan Rusak di Pedalaman Krayan

Redaksi Prokal • Rabu, 25 Maret 2026 - 15:25 WIB

MIRIS : Kondisi jalan penghubung antar kecamatan di Krayan rusak parah dan membuat kendaraan tertahan di tengah jalan.
MIRIS : Kondisi jalan penghubung antar kecamatan di Krayan rusak parah dan membuat kendaraan tertahan di tengah jalan.

NUNUKAN – Kondisi infrastruktur jalan yang menghubungkan antar-kecamatan di Dataran Tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, kian memprihatinkan. Ruas jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas warga kini berubah menjadi medan tempur berlumpur yang memaksa para sopir bertaruh tenaga dan waktu demi mengantarkan orang serta logistik ke tujuan.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengungkapkan betapa drastisnya perubahan waktu tempuh akibat kerusakan jalan tersebut. Dalam kondisi normal, perjalanan dari Kecamatan Krayan menuju Krayan Selatan hanya memakan waktu 1 hingga 2 jam. Namun saat ini, para pengguna jalan harus menghabiskan waktu minimal 1 hingga 2 hari untuk menempuh rute yang sama.

"Kondisinya sangat menyulitkan. Jika ada kendaraan yang tertanam di lumpur, perjalanan bisa tertahan sangat lama," ujar Oktavianus, Selasa (24/3).

Risiko besar yang membayangi membuat para sopir tidak berani melintas sendirian. Mereka terpaksa berangkat dalam rombongan yang terdiri dari 3 hingga 4 mobil. Formasi ini menjadi keharusan agar jika salah satu kendaraan amblas atau "terkubur" dalam lumpur, kendaraan lain dapat memberikan bantuan untuk menariknya keluar. Jika mobil mengalami kerusakan teknis yang parah, para sopir bahkan harus menunggu hingga 4 hari hanya untuk mendapatkan suku cadang.

Perjuangan fisik yang dilakukan para sopir pun tergolong luar biasa. Tak jarang mereka harus bekerja hingga larut malam menggunakan cangkul dan peralatan seadanya untuk menggali jalan di tengah kubangan. "Istilahnya gali satu meter, maju satu meter. Mereka bekerja tanpa mengenal siang atau malam, hanya berhenti saat benar-benar lelah atau mobil berhasil keluar dari lumpur," lanjut Oktavianus.

Kondisi ini praktis mematikan sisi keuntungan bagi para sopir. Selain harus membawa bekal konsumsi yang banyak karena potensi bermalam di tengah hutan, mereka juga kerap kali harus berjalan kaki sejauh 5 hingga 25 kilometer untuk mencari bantuan warga jika kendaraan benar-benar tak bisa bergerak. Di mana mobil terkubur, di situlah para sopir menjadikan kabin kendaraan sebagai rumah sementara mereka.

Masyarakat Krayan sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah terkait perbaikan akses jalan ini. Pasalnya, ketergantungan pada jalur darat ini sangat tinggi, terutama untuk distribusi kebutuhan pokok dan mobilitas warga di wilayah perbatasan yang aksesnya memang sudah terbatas sejak awal. (*)

Editor : Indra Zakaria