HOKKAIDO – Di balik modernitas Jepang yang berkilau, terdapat kisah kelam dan perjuangan panjang dari sebuah kelompok minoritas yang nyaris terlupakan, yakni suku Ainu. Sebagai penduduk asli yang secara historis mendiami Hokkaido, Kepulauan Kuril, dan Sakhalin, suku Ainu memiliki identitas yang sangat kontras dengan budaya Jepang arus utama. Mereka adalah masyarakat pemburu-pengumpul yang menyembah alam, berbicara dalam bahasa unik yang tidak terkait dengan bahasa lain mana pun di dunia, serta memiliki tradisi fisik yang mencolok seperti tato bibir pada wanita dan janggut lebat pada pria.
Selama berabad-abad, seiring dengan pertumbuhan Jepang sebagai negara, suku Ainu terus terdesak ke wilayah utara yang dingin. Puncak marginalisasi mereka terjadi pada tahun 1899 di bawah Restorasi Meiji, di mana pemerintah saat itu mengambil paksa tanah tradisional mereka dan melarang praktik budaya serta bahasa Ainu. Kebijakan asimilasi paksa ini membuat suku Ainu dilarang berburu dan memancing, bahkan dipaksa menggunakan nama Jepang. Dampaknya sangat fatal, membuat bahasa dan warisan leluhur mereka berada di ambang kepunahan selama ratusan tahun.
Secara kultural, suku Ainu memiliki gaya hidup yang sangat terikat dengan konsep animisme. Mereka percaya bahwa setiap benda di dunia dihuni oleh roh yang disebut Kamuy. Salah satu dewa terpenting adalah Kim-un Kamuy atau dewa beruang dan gunung. Berbeda dengan masyarakat Jepang yang gemar mengonsumsi makanan mentah, suku Ainu selalu memasak hasil buruan mereka seperti rusa, salmon, hingga beruang. Salah satu tradisi mereka yang paling sakral namun kontroversial di mata dunia luar adalah Iomante, sebuah ritual pengorbanan beruang yang dianggap sebagai cara untuk melepaskan roh dewa kembali ke dunia ruh.
Titik balik bagi pengakuan identitas mereka baru muncul pada tahun 2008, ketika pemerintah Jepang secara resmi mengakui suku Ainu sebagai penduduk asli dengan bahasa, agama, dan budaya yang berbeda. Pengakuan parlemen ini menjadi fondasi awal bagi upaya pelestarian yang lebih serius. Kerusakan budaya yang terjadi selama era Meiji kini mulai ditangani melalui berbagai kebijakan afirmatif, termasuk pembangunan fasilitas kebudayaan yang terintegrasi di Hokkaido untuk memperkenalkan warisan mereka kepada dunia internasional.
Saat ini, upaya bersama sedang dilakukan untuk mengembuskan kembali kehidupan ke tanah yang mereka sebut sebagai Ainu Mosir atau "tanah manusia". Meski tantangan asimilasi masih menyisa, semangat untuk melestarikan dialek dan tradisi tato serta busana khas Ainu terus diperjuangkan oleh generasi muda. Melalui edukasi dan pengakuan identitas yang lebih terbuka, Jepang perlahan mulai merangkul keanekaragaman sejatinya, memastikan bahwa suara dari utara ini tidak akan hilang ditelan zaman. (*)
Editor : Indra Zakaria