KENAIKAN harga bahan baku kedelai mengharuskan para pengusaha tahu dan tempe mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pengusaha tahu-tempe di Tana Tidung tengah menyiapkan cara mengatasi kenaikan harga itu. Salah satunya dengan menyesuaikan ukuran produk.
Muhammad Fuadi, pengusaha tahu-tempe Podo Moro di Desa Sebidai, Kecamatan Sesayap mengakui jika biaya produksi saat ini sudah tinggi. Apalagi dengan adanya kenaikan harga kedelai impor. “Harga kedelai saat ini Rp 595 ribu dan sampai di sini (Tana Tidung) itu Rp 650 ribu per karungnya, ini sama ongkos buruhnya. Makanya disiasati agar tidak rugi yang ukuranya disesuaikan, dikurangi dari sebelumnya,” ujar Muhammad Fuadi kepada Radar Tarakan, Selasa (22/2).
Dijelaskan, menyiasati ukuran produk lebih efektif dibanding menaikkan harga. “Ya harga tahu tempe tidak naik, cuma dipertipis sedikit. Kalau urusan pemasaran itu biasa sebulan menghabiskan 3 ton, tapi sekarang 1 ton saja Senin- Kamis,” keluhnya.
Menurutnya, harga kedelai sudah 3 bulan terakhir mengalami kenaikan.
“Ada beberapa pengusaha di Tana Tidung, ada tiga pengusaha tahu dan tempe. Kesulitan kami di situ jika harga kedelai ini naik pemasarannya yang susah. Kalau harga tahu per biji Rp 1.000. Setiap bungkus berisi 5, kalau tempe biasa Rp 5 ribu dan tempe daun Rp 8 ribu,” tukasnya.
Menurutnya, persaingan produk saat ini sangat terbuka. Tidak hanya produk di Tana Tidung, juga melibatkan mudah ditemui produk dari luar Tana Tidung. “Harusnya pihak terkait mengambil peran terkait produk lokal. Misalnya, yang lokal dulu, nanti jika kekurangan baru memberdayakan produk luar. Belum lagi kalau ada isu-isu yang berkembang, misalnya pakai zat tertentu dan sebagainya,” ungkapnya.
Jumiati, pedagang di Pasar Imbayud Taka mengatakan, saat ini penjualan tahu-tempe masih relatif normal. “Kalau harga tetap. Memang untuk ukuran tahu sekarang agak tipis karena yang buat bilang harga kedelai naik,” ujarnya.
Diakuinya, sempat ada konsumen yang bertanya ukuran tahu yang tidak seperti biasa. “Ada yang tanya kenapa ukuran tahu tipis, ya saya bilang memang dari sana karena kedelai naik. Tidak juga tahu tempe ini selalu habis, kadang itu kan tergantung ramainya pembeli, jadi tidak bisa diprediksi,” jelasnya.
KONDISI DI NUNUKAN
Di Nunukan, meski harga kacang kedelai di Indonesia melambung tinggi, ternyata belum berdampak signifikan. Harga tempe misalnya, dipastikan masih relatif normal di kisaran Rp 5 ribu per potong.
Padahal imbas mahalnya harga kacang kedelai berdampak kepada mogok kerja para pengusaha tahu-tempe Jawa-Bali.
Pabrik tahu-temp milik Fathur Rahman yang terletak di Jalan Lumba-Lumba, Nunukan Timur masih mempekerjakan setidaknya 10 pekerja tanpa mogok kerja. Imbas kenaikan harga yang sebenarnya sampai ke Nunukan, diakali Fathur dengan mengecilkan ukuran tahu dan tempe yang dijual. “Tidak ada yang sampai mogok kerja. Mau dibilang terdampak tidak juga, harga masih normal, cuma memang ukurannya kita kecilin lagi,” ungkap Fathur ketika diwawancarai, Selasa (22/2).
Seperti yang dia alami, biasanya ia membeli kacang kedelai yang didatangkan dari Surabaya, kisaran harga Rp 9 juta per satu kontainer. Namun, sekarang sudah melambung menjadi Rp 11 juta. Dalam satu kontainernya, ada kurang lebih 23 ton kedelai dan membutuhkan waktu sepekan untuk sampai ke Nunukan. “Itulah biasanya harganya Rp 9 juta, paling mentok itu sampai Rp 10 juta, sekarang sudah bisa sampai Rp 11 juta. Habis kami juga tidak ada pilihan lain mau ambil ke mana lagi, karena di situ sudah langganan kami,” kata Fathur.
Dalam sehari saja, dirinya bisa menghabiskan kurang lebih 50 kg kedelai. Hal ini dikarenakan peminat tahu-tempe di Nunukan sangat banyak. Bahkan, pemesan tahu-tempe tidak hanya dari lokal atau Nunukan saja, namun wilayah lain seperti Sei Menggaris dan Sebatik. “Bahkan kadang ada juga masyarakat yang beli untuk dibawa ke Malaysia. Tapi itu tidak tahu dijual kembali atau bagaimana. Kalau yang datang ambil, dibawa ke Sei Menggaris, Sebatik ada memang,” terang Fathur.
Sayangnya, Fathur belum tahu pasti mengenai alasan mengapa harga kacang kedelai naik. (rko/raw/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria