Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dapat Pesanan hingga ke Luar Negeri, Diinovasikan Jadi Teh Saset

anggri-Radar Tarakan • 2020-01-09 11:26:05
KREATIF: Ridwan Syafrani, pengusaha kreatif akar bajakah akan mengembangkan inovasinya dalam membuat akar bajakah menjadi teh saset. FOTO: DEDI SUHENDRA/RADAR KALTARA
KREATIF: Ridwan Syafrani, pengusaha kreatif akar bajakah akan mengembangkan inovasinya dalam membuat akar bajakah menjadi teh saset. FOTO: DEDI SUHENDRA/RADAR KALTARA

Pasca viralnya akar bajakah lantaran dari hasil penelitian dua siswi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) karena mampu menyembuhkan penyakit kanker dan mendapatkan penghargaan dunia pada Juli 2019 lalu, menjadi peluang bagu pengusaha kreatif. Salah satunya pengusaha asal Kaltara.

RACHMAD RHOMADHANI

RIDWAN Syafrani, atau dikenal si pengusaha kreatif akar bajakah. Viralnya akar bajakah memang tak ditampik menjadi peluang besar olehnya.

Mengingat, akar bajakah itu memang memiliki manfaat nyata bagi kesehatan tubuh manusia. Bahkan, itu sebelum viral atau sejak dahulu akar bajakah itu sudah banyak dikonsumsi masyarakat di Kaltara.

Memang khasiatnya konon untuk penyakit dalam. Meski, memang saat itu tidak ada penelitian lebih jauh tentang penyakit dalam apa saja yang dapat disembuhkan. Hanya, memang bagi sebagian masyarakat manakala tubuh mereka tak fit. Air dari rebusan akar bajakah itu yang dijadikan obatnya.

“Ya, akar bajakah itu sama seperti yang diteliti oleh dua siswi di Kalteng. Di sini pun ada dan sama persis,” ungkap Ridwan saat diwawancara awak media Radar Kaltara belum lama ini.

Lanjutnya, usai melihat akar bajakah yang viral itu sama persis yang terdapat di hutan belantara di Kaltara. Akhirnya, dirinya mulai memikirkan untuk bagaimana dapat menjajakannya sebagai olahan herbal bagi masyarakat. Tapi, sebelumnya ia memastikan dahulu khasiatnya secara benar sebelum dijajakan.

“Setelah saya cari di hutan belantara, saya potong dan keringkan. Benar bahwa khasiat dari akar itu, khususnya untuk mengembalikan stamina begitu cepat. Yakni sekitar satu jam tubuh yang lemas bisa segar kembali setelah mengonsumsi rebusan air akar bajakah,” ujarnya.

Akan tetapi, lebih lanjut dikatakannya, saat ini mengenai akar bajakah itu sudah cukup banyak masyarakat mengetahuinya. Apalagi, mereka yang biasa masuk ke hutan sehingga akar bajakah itu banyak diburu dan diperjualbelikan. “Penjualannya memang bermacam-macam. Ada yang hanya sekadar dipotong-potong atau dibungkus kecil-kecil,” katanya.

Ditanya apakah populasi akar bajakah di hutan belantara itu masih cukup banyak, ia menjelaskan bahwa selama masih ada hutan belantara dengan pohon-pohon besar. Maka, populasinya itu diklaim tak pernah habis atau musnah. Akar bajakah itu ada di antara pohon-pohon besar dan lahan gambut.

“Seperti yang pernah saya ambil. Akar bajah itu ibarat sembunyi di dalamnya, dia bergulung-gulung dan merambat secara tunggal atau sendiri,” jelasnya.

Namun, tambahnya, ia mengimbau bagi masyarakat yang awam dengan tumbuhan akar tunggal itu agar dapat berhati-hati. Pasalnya, ada tumbuhan lain dengan bentuk serupa, namun justru beracun.

“Bedanya itu kalau akar yang berbahaya dan serupa dipotong getahnya warna merah. Dan kalau akar bajakah yang baik itu tidak ada getahnya. Mengenai ruasnya yang baik itu akar bajakah saling berpasangan,” jelasnya kembali.

Di sisi lain, pihaknya yang sudah cukup lama menekuni usaha akar bajakah ini, sudah cukup banyak hasil penjualannya dan menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bali, Malang, Sulawei Tenggara (Sulteng), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim) dan beberapa wilayah lainnya.

“Pernah juga bule (warga negara asing, Red) yang beli kepada saya dan kirim via online. Paling banyak mereka pesan tiga sampai lima batang,” ucapnya.

Disinggung mengenai apa inovasinya ke depan sebagai pengusaha akar bajakah, ia mengatakan bahwa inovasinya akan membuat akar bajakah ini laiknya teh saset. Dan progres terus berjalan, mengenai pengujian sudah dilakukannya. Termasuk, pembuatannya sendiri.

“Tapi, saya belum produksi dalam jumlah besar. Ya, belum berani lebih luas lagi karena masih banyak yang harus dilengkapi. Termasuk, izin edar dan lainnya,” tuturnya.

Hanya saja, dikatakannya lagi, untuk desain kotak dari saset teh akar bajakah itu sudah ada dan siap semua. Artinya, nanti setelah ada izin baru akan dilakukan penjualan secara luas. Masyarakat tinggal mengonsumsi dengan mudahnya. “Nanti, kalau beli lansung rebus. Ide saya ini berawal dari pengolahan teh tentang sistem peningkatan mutu dengan cara diuapkan di IPB,” jelasnya.

Di sisi lain, permasalahan belum dilakukannya inovasi itu dikarenakan menurutnya harus membutuhkan modal yang sangat besar. Oleh karenanya, ia sejauh ini masih dalam produksi rumahan saja. “Mudah-mudahan ke depan dapat terus berkembang teh dari akar bajakah ini,” harapnya. (***/eza)

Editor : anggri-Radar Tarakan