TARAKAN – Minimnya kesadaran nelayan dalam menggunakan life jacket sebagai alat keselamatan ketika berlayar di laut terlihat saat KSOP Kelas III Tarakan bersama Pelindo IV Tarakan, Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Tarakan dan Pelni Cabang Tarakan melakukan pembagian 130 life jacket kepada nelayan di laut.
Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli pada KSOP Kelas III Tarakan, Syaharuddin mengatakan, dari pantauan di lapangan ketika pembagian 130 life jacket kepada nelayan di laut, nelayan-nelayan yang ditemui rata-rata tidak menggunakan atau menyediakan life jacket di dalam perahunya.
“Tidak adanya nelayan yang menggunakan atau menyediakan life jacket di atas perahunya membuat kami merasa miris melihatnya. Mengingat life jacket merupakan benda yang sangat penting bagi setiap orang ketika akan berlayar,” ujarnya.
Pentingnya menggunakan life jacket, mengingat keberadaannya sangat vital bila sewaktu-waktu dalam pelayaran ada badai ataupun terjadi kecelakaan. Dikatakan Syaharuddin, menggunakan life jacket memberikan peluang untuk tetap hidup ketika terjadi musibah di laut lebih besar.
“Dibandingkan orang yang tidak menggunakan life jacket dan orang yang menggunakan life jacket, peluang lebih besar selamat ketika terjadi kecelakaan di laut ada pada orang yang menggunakan life jacket,” ucapnya.
Ia mengharapkan nelayan tidak menyepelekan penggunaan life jacket ketika berlayar di luat. Meskipun seseorang tersebut dapat berenang, tidak menjamin dapat selamat ketika terjadi kecelakaan di laut. “Buktinya dari kasus-kasus sebelumnya di mana kecelakaan yang melibatkan nelayan, peluang untuk selamat sangat kecil, sehingga sering kita menemukan setiap kasus nelayan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia ketika terjadi kecelakaan di laut,” tuturnya.
Dirinya menjelaskan, pembagian 130 life jacket kepada nelayan kali ini merupakan bentuk kepedulian terhadap para nelayan, yang selama ini mencari nafkah di laut tanpa memiliki alat keselamatan seperti life jacket.
“Kita harapkan dengan pemberian life jacket ini nelayan lebih sadar akan keselamatannya ketika berada di laut. Mengingat keluarganya pasti sudah menunggu di rumah, pemberian life jacket ini juga merupakan rangkaian dari peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) tahun ini,” ujarnya.
Terkait masih minimnya kesadaran nelayan dalam menggunakan life jacket, sebelumnya Ketua Kesatuan Nelayan Tradisionoal Indonesia (KNTI) Kaltara, Rustan mengatakan, hanya sedikit saja nelayan di Kaltara yang melengkapi dirinya ketika melaut dengan alat keselamatan. “Masih sedikit yang sadar, kalau dipersentasekan mungkin hanya sekitar 10 persen saja yang memiliki alat keselamatan di perahunya,” bebernya.
Alat keselamatan yang dirinya maksud tidak lain adalah life jacket yang berfungsi sebagai alat keselamatan ketika terjadi kecelakaan di laut. Sejauh ini nelayan kebanyakan lebih baik membeli perlengkapan lain dibandingkan alat keselamatan tersebut.
“Kebanyakan nelayan mikirnya bisa berenang, jadi tidak perlu membeli alat keselamatan. Padahal kalau kita pikir, orang yang bisa berenang saja bisa tidak selamat ketika terjadi kecelakaan. Hal tersebut bisa dilihat dari kasus-kasus sebelumnya, dimana ada nelayan ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia tanpa menggunakan alat keselamat seperti life jacket,” ucapnya.
Ada beberapa hal juga yang mendasari nelayan lebih mementingkan perlengkapan lain dibandingkan alat keselamatan, yakni faktor ekonomi. “Nelayan berpikir membeli alat keselamatan tentunya mengeluarkan dana lagi yang membuat kebutuhan lain harus dipangkas, sementara alat keselamatan tersebut hanya dipakai ketika terjadi kecelakaan. Ketika terjadi kecelakaan mereka hanya akan bertahan dengan memegang benda yang bisa timbul seperti jerigen plastik,” aku Rustan. (jnr/fly/eza)
Editor : izak-Indra Zakaria