MALINAU – Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun terakhir, struktur ketenagakerjaan di Kabupaten Malinau mengalami perubahan fundamental. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sektor jasa resmi mengukuhkan diri sebagai penyerap tenaga kerja terbesar, menggeser sektor pertanian yang sejak berdirinya kabupaten ini selalu menjadi tumpuan utama masyarakat.
Kepala BPS Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, mengungkapkan bahwa pergeseran ini merupakan fenomena bersejarah. Data menunjukkan sektor jasa kini menyerap 43,50 persen tenaga kerja, unggul tipis dibandingkan sektor pertanian yang berada di angka 43,48 persen. Sektor jasa ini mencakup cakupan yang luas, mulai dari pelayanan publik, pemerintahan, jasa profesional, hingga sektor real estate dan usaha persewaan.
Menariknya, pergeseran ini bukan disebabkan oleh perpindahan profesi para petani lama ke sektor jasa. Yanuar menjelaskan bahwa fenomena ini lebih dipicu oleh pilihan angkatan kerja baru. Generasi muda yang baru memasuki dunia kerja cenderung tidak lagi melirik sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama dan lebih memilih bekerja di sektor non-pertanian.
“Bukan berarti orang yang sebelumnya bertani lalu pindah ke jasa. Tetapi mereka yang baru masuk dunia kerja sudah tidak melirik pertanian dan lebih memilih sektor jasa,” jelas Yanuar.
Selain pertumbuhan di sektor jasa, lapangan usaha manufaktur juga menunjukkan tren positif dengan kontribusi mencapai 13,03 persen. Di sisi lain, sektor pertanian mengalami penurunan keterlibatan tenaga kerja yang cukup signifikan, dari yang sebelumnya berada di kisaran 48 persen menjadi 43 persen.
Terkait kehadiran program pemerintah seperti Satgas Pertanian, BPS melihat program tersebut lebih banyak berperan dalam mengubah status pekerjaan dibandingkan menciptakan tenaga kerja baru. Banyak warga yang sebelumnya bertani secara mandiri kini beralih status menjadi buruh tani di bawah naungan pemerintah, sehingga secara substansi bidang pekerjaannya tetap sama namun dengan pola kerja yang lebih rutin.
Meski terjadi modernisasi sektor pekerjaan, tantangan besar masih membayangi kualitas sumber daya manusia di Malinau. Hingga saat ini, struktur tenaga kerja masih didominasi oleh penduduk berpendidikan rendah, di mana lulusan SD atau warga yang tidak tamat SD mencapai 30,29 persen. Hal ini dipengaruhi oleh populasi usia tua yang pada masa lampau memiliki akses pendidikan yang sangat terbatas. (*)
Editor : Indra Zakaria