PROKAL.CO- Belum sempat dinikmati warga sebagai solusi kemacetan, Jembatan Cemara Ujung-Sungai Andai (Cusa) di Banjarmasin justru menjadi sasaran empuk aksi kriminalitas. Material vital berupa baut pengunci dan mur besar pada struktur jembatan dilaporkan raib, diduga kuat akibat dicuri oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Berdasarkan pantauan di lapangan, titik-titik baut tampak melompong dan tidak selaras jika dibandingkan dengan bagian lainnya. Mirisnya, kehilangan material ini paling banyak ditemukan di sisi Cemara Ujung, tepat pada bagian yang menyambung dengan penyangga gantung jembatan. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena menyangkut keamanan langsung pada kekuatan struktur bangunan.
Aulia (46), warga setempat yang sehari-hari beraktivitas di sekitar lokasi, mengaku sering melihat baut-baut tersebut mulai kendur hingga akhirnya hilang. Ia menduga pengerjaan yang kurang kuat membuat material tersebut mudah dilepas. “Longgar duluan, bila terkunci kuat tidak gampang dibuka karena harus pakai alat untuk membukanya,” ujarnya pada Selasa (12/5). Aulia juga menyayangkan kondisi jembatan yang terkesan mangkrak sehingga mengundang tangan-tangan nakal, baik untuk mencuri maupun melakukan vandalisme.
Merespons laporan tersebut, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Banjarmasin, Kartika Estaurina, menyatakan akan segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Ia menegaskan bahwa jembatan ini dibangun menggunakan uang pajak rakyat untuk kepentingan umum. “Merusak dan mengambil komponen dari jembatan akan menghambat mobilitas ekonomi warga,” jelas Kartika.
Ironisnya, kasus pencurian ini terjadi di tengah ketidakpastian operasional Jembatan Cusa. Pemerintah Kota Banjarmasin menyebut adanya kondisi force majeure terkait struktur tanah rawa dan arus bawah air di sisi Sungai Andai yang berisiko menggerus oprit jembatan. Akibatnya, diperlukan revisi perencanaan yang melibatkan tenaga ahli dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Dengan proses audit dan revisi yang masih berjalan, penyelesaian total Jembatan Cusa diprediksi akan terlambat tahun ini, kecuali jika anggaran tambahan melalui APBD Perubahan dapat segera disetujui. Sementara itu, warga hanya bisa menatap nanar fasilitas yang seharusnya menjadi urat nadi transportasi baru, kini justru rusak sebelum digunakan. (*)
Editor : Indra Zakaria