Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Alarm Merah di Jantung Borneo: Ancaman Karhutla 2026 Mengintai Lahan Gambut Kalteng

Redaksi Prokal • Kamis, 14 Mei 2026 | 08:18 WIB
ilustrasi karhutla
ilustrasi karhutla

 
PROKAL,CO-Bayang-bayang kabut asap tebal kembali menghantui Kalimantan Tengah seiring dengan prediksi peningkatan intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2026. Di tengah transisi cuaca menuju musim kemarau, peringatan serius mulai bergulir karena wilayah gambut kini berada dalam status siaga tinggi. Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, memberikan peringatan keras mengenai kondisi ini.

"Kalau berbicara terkait seberapa besar potensi yang akan terjadi di Kalteng pada tahun 2026 ini, menurut kami kemungkinan naik 20 persen dari sebelumnya. Artinya potensi kebakaran akan semakin tinggi," ujar Janang saat memberikan keterangan resmi. Ia menekankan bahwa meskipun guyuran hujan masih membasahi sejumlah titik, hal tersebut bukanlah jaminan wilayah ini aman dari api. Janang mengingatkan agar semua pihak merujuk pada data iklim yang ada. "Prediksi BMKG sebelumnya kan April-Mei ini mulai kemarau, meskipun sekarang masih terjadi hujan. Tapi prediksi kami di sebagian daerah, kemungkinan ke depan kalau memang masuk musim kering dan kemarau, nanti akan terjadi kebakaran yang luar biasa," tambahnya.

Fokus kerawanan saat ini tertuju pada kabupaten-kabupaten yang didominasi oleh hamparan gambut. "Nah yang paling rawan itu wilayah yang memang banyak lahan gambutnya seperti Pulang Pisau, Kapuas, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat," sebut Janang dengan tegas. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak ada daerah yang benar-benar aman jika pengawasan mengendur. "Tidak tertutup kemungkinan juga wilayah-wilayah lain akan terjadi kebakaran hutan dan lahan," tuturnya lagi.

Persoalan menjadi semakin pelik ketika kebijakan mitigasi yang ada dinilai masih belum menyentuh akar masalah. Janang mengkritik pola penanganan yang selama ini cenderung hanya bersifat reaktif. "Kelemahannya hari ini memang kita hanya fokus pada infrastruktur saja, tapi kebijakan mitigasi bencana di Kalimantan Tengah menurut kami belum utuh," tegasnya. Menurutnya, pemerintah perlu lebih serius melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan lahan, khususnya gambut, menjadi sangat mudah terbakar akibat aktivitas manusia.

Ia juga menyoroti bagaimana ekspansi investasi dan proyek besar berdampak pada lingkungan. "Kalau kita melihat, banyak sekali aktivitas investasi yang berada di kawasan gambut dan cukup luas di Kalteng. Ditambah lagi beberapa tahun terakhir ada aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan di area Proyek Strategis Nasional," ungkap Janang. Ia berharap pemerintah tidak hanya sibuk saat api sudah membesar, melainkan memperkuat perlindungan kawasan gambut sejak dini agar tragedi asap besar di masa lalu tidak kembali terulang dan melumpuhkan aktivitas masyarakat Kalimantan Tengah. (*)

Editor : Indra Zakaria
#kalteng