Sawit Rakyat Paser Didorong Tembus 30 Ton per Hektare, Produktivitas Jadi Kunci Tanpa Buka Lahan Baru

Wawan • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 06:38 WIB
 Peningkatan produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mulai diarahkan tidak lagi bergantung pada penambahan luas lahan. Perbaikan teknik budidaya dan peningkatan produktivitas tanaman dinilai menjadi kunci untuk mendongkrak
Peningkatan produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mulai diarahkan tidak lagi bergantung pada penambahan luas lahan. Perbaikan teknik budidaya dan peningkatan produktivitas tanaman dinilai menjadi kunci untuk mendongkrak

 

PROKAL.co, BALIKPAPAN – Peningkatan produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mulai diarahkan tidak lagi bergantung pada penambahan luas lahan. Perbaikan teknik budidaya dan peningkatan produktivitas tanaman dinilai menjadi kunci untuk mendongkrak hasil panen sekaligus menekan biaya produksi.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Sebanyak 298 pekebun asal Kabupaten Paser mengikuti pelatihan yang berlangsung pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDMP) Perkebunan 2026.
Materi pelatihan difokuskan pada penerapan Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik budidaya perkebunan yang baik. Para pekebun dibekali pengetahuan mengenai penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga penggunaan pestisida secara bijak.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., mengatakan peningkatan produktivitas harus dimulai dari perubahan cara petani mengelola kebunnya.
Menurutnya, pengalaman yang dimiliki petani selama bertahun-tahun perlu dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan hasil penelitian. Dengan pendekatan tersebut, setiap keputusan dalam pengelolaan kebun dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan tanaman, bukan sekadar kebiasaan.
“Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian,” ujar Idum, Senin (3/8/2026), di Balikpapan.
Ia mencontohkan, pemilihan benih unggul, pemberian pupuk sesuai kebutuhan tanaman serta pemeliharaan kesehatan tanah merupakan bagian penting yang menentukan produktivitas kebun.
Penerapan GAP secara konsisten, lanjut dia, juga dapat membuat penggunaan pupuk, tenaga kerja dan berbagai sarana produksi menjadi lebih efisien. Dengan demikian, peningkatan produksi tidak harus ditempuh dengan membuka areal perkebunan baru.
“Tujuan akhirnya adalah kebun yang lebih produktif, biaya budidaya lebih efisien, dan hasil panen yang semakin baik,” katanya.
Pelatihan teknis budidaya tersebut juga menjadi kelanjutan dari pelatihan panen dan pascapanen yang sebelumnya telah diberikan kepada para pekebun. Rangkaian pelatihan itu diharapkan membuat petani memahami bahwa kualitas hasil kebun tidak hanya ditentukan saat panen, tetapi sejak tanaman dibudidayakan.
Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mendapat pengalaman praktik lapangan melalui kunjungan ke perkebunan PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN), anak usaha PT Astra Agro Lestari.
Di lokasi tersebut, peserta melihat langsung penerapan praktik budidaya yang baik, termasuk pengelolaan tanaman, strategi pemupukan dan sistem pemeliharaan kebun yang efisien.
Produktivitas Masih di Bawah 20 Ton
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, mengatakan produktivitas perkebunan sawit rakyat di wilayahnya masih memiliki ruang peningkatan yang cukup besar.
Saat ini, rata-rata produktivitas kebun sawit rakyat di Paser masih berada di bawah 20 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Padahal, dengan penerapan teknik budidaya yang tepat, produktivitas lebih dari 30 ton TBS per hektare per tahun dinilai realistis untuk dicapai.
“Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun,” kata Djoko.
Karena itu, ia meminta para peserta tidak menjadikan pelatihan sekadar sebagai tambahan pengetahuan, tetapi menerapkannya ketika kembali mengelola kebun masing-masing.
Penerapan tersebut mencakup pemilihan bibit, pemupukan, penyemprotan hingga perawatan tanaman.
Menurut Djoko, peningkatan produktivitas juga harus dibarengi dengan perbaikan kualitas TBS. Salah satu indikator penting yang perlu menjadi perhatian adalah rendemen minyak sawit.
Ia menyebut rata-rata rendemen minyak sawit saat ini masih berada di bawah 25 persen. Sementara rendemen yang baik berada pada kisaran 25–32 persen.
“Kalau berbicara produksi tanpa memperhatikan rendemen, sama saja. Karena rendemen inilah yang menentukan berapa banyak CPO yang dihasilkan,” ujarnya.
Sepanjang 2026, dukungan BPDP, Ditjenbun dan AKPY telah memfasilitasi pelatihan bagi 556 pekebun asal Kabupaten Paser. Jumlah tersebut mencakup peserta pelatihan panen dan pascapanen serta pelatihan teknis budidaya.
Djoko menilai peningkatan kompetensi petani melalui program tersebut merupakan investasi jangka panjang. Selain berpotensi meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, peningkatan kapasitas petani juga dapat memperkuat penerapan prinsip perkebunan berkelanjutan.
Idum berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kebun masing-masing dan menularkannya kepada pekebun lainnya.
Menurutnya, perkembangan industri perkebunan menuntut petani untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi serta ilmu pengetahuan terbaru.
“Petani yang hebat adalah petani yang selalu mau belajar karena dunia terus berkembang,” ujarnya.

Dengan peningkatan kompetensi tersebut, produktivitas sawit rakyat di Paser diharapkan dapat didorong melalui optimalisasi lahan yang sudah ada. Strateginya bukan memperluas kebun, melainkan meningkatkan hasil dari setiap hektare melalui budidaya yang tepat, penggunaan input produksi secara efisien dan pengelolaan kebun sesuai standar GAP.

Editor : Wawan
sawit kelapa sawit paser