PROKAL.CO- Buah zakar atau testis bukan sekadar organ reproduksi pria yang memproduksi sperma dan hormon testosteron, melainkan juga salah satu bagian tubuh dengan sistem adaptasi paling unik. Secara evolusi, testis terletak di dalam kantong skrotum yang menggantung di luar rongga tubuh utama. Posisi ini bukan tanpa alasan; suhu di dalam skrotum harus tetap lebih rendah dari suhu tubuh inti demi menjamin produksi sperma yang sehat.
Secara alami, skrotum bersifat sangat fleksibel. Melalui otot kremaster, organ ini akan menyesuaikan diri secara otomatis terhadap kondisi lingkungan. Ketika suhu panas, skrotum akan mengendur untuk melepaskan panas, dan saat suhu dingin, ia akan mengencang mendekat ke tubuh untuk menjaga kehangatan. Namun, banyak pria mulai menyadari bahwa seiring bertambahnya usia, skrotum mereka tampak menetap dalam posisi kendur tanpa pengaruh suhu maupun aktivitas.
Para ahli menjelaskan bahwa fenomena skrotum yang terlihat semakin kendur seiring waktu umumnya bukanlah kondisi yang berbahaya. Hal ini merupakan dampak alami dari berkurangnya elastisitas kulit di area tersebut. Sebagaimana kulit di bagian tubuh lainnya, kulit skrotum juga mengalami kehilangan kolagen secara bertahap. Akibatnya, daya ikat jaringan kulit melemah dan respons otot yang mengatur posisi testis tidak lagi sekuat sebelumnya.
Meski demikian, pria disarankan untuk tetap memperhatikan perubahan fisik yang terjadi. Skrotum yang kendur harus dibedakan dengan kondisi medis tertentu. Jika rasa kendur disertai dengan sensasi sangat berat, pembengkakan yang tidak simetris antara sisi kiri dan kanan, atau rasa nyeri yang konsisten, hal tersebut bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan seperti varikokel atau hidrokel.
Varikokel sendiri merupakan kondisi pelebaran pembuluh darah vena di dalam skrotum, mirip dengan varises pada kaki. Sementara itu, hidrokel adalah penumpukan cairan yang menyebabkan skrotum tampak membesar dan terasa tidak nyaman. Dalam kasus-kasus medis seperti ini, dokter biasanya akan mempertimbangkan opsi pembedahan, baik berupa operasi varikokel untuk memperbaiki pembuluh darah, maupun tindakan drainase untuk mengeluarkan penumpukan cairan pada hidrokel.
Untuk menjaga kenyamanan sehari-hari, para ahli menyarankan penggunaan pakaian dalam yang memberikan dukungan (support) yang baik, terutama saat melakukan aktivitas fisik berat atau olahraga. Penggunaan jockstrap atau celana dalam olahraga dapat membantu menyangga skrotum dan mengurangi tekanan pada jaringan ikat.
Selain itu, gaya hidup sehat tetap memegang peranan penting. Menjaga berat badan ideal, memastikan hidrasi tubuh tercukupi, serta rutin berolahraga secara tidak langsung membantu kesehatan jaringan kulit di seluruh tubuh. Penting pula bagi para pria untuk bersikap kritis terhadap informasi di internet; hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung adanya latihan khusus atau penggunaan krim tertentu yang diklaim mampu mengencangkan skrotum secara permanen.
Secara keseluruhan, melihat skrotum yang perlahan mengendur seiring bertambahnya usia adalah bagian normal dari proses penuaan tubuh manusia. Selama perubahan tersebut tidak disertai nyeri hebat, benjolan abnormal, atau perubahan bentuk yang terjadi secara mendadak, maka tidak ada alasan kuat untuk merasa panik. Namun, pemeriksaan medis tetap menjadi langkah paling bijak jika muncul keraguan terkait kesehatan organ reproduksi. (*)
Editor : Indra Zakaria