Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tragedi di Palaran: Polisi Ungkap Wakar Sudah "Siaga" Parang Sebelum Duel Maut di Palaran

Redaksi Prokal • Rabu, 13 Mei 2026 | 07:45 WIB
Tim Inafis Polresta Samarinda mengevakuasi jasad tanpa identitas dari sebuah kapal kecil yang tambat di kawasan galangan kapal Jalan Rambutan, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran.
Tim Inafis Polresta Samarinda mengevakuasi jasad tanpa identitas dari sebuah kapal kecil yang tambat di kawasan galangan kapal Jalan Rambutan, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran.

 
Misteri di balik tewasnya seorang pria berinisial BA dalam duel berdarah di galangan kapal Jalan Rambutan, Kelurahan Bukuan, kini mulai tersingkap. Polsekta Palaran menegaskan bahwa penjaga malam (wakar) di lokasi tersebut memang sudah dalam posisi bersiaga dengan senjata tajam sebelum korban dan dua rekannya menginjakkan kaki di area tersebut.

Kapolsekta Palaran, Kompol Iswanto, mengungkapkan bahwa tindakan siaga tersebut dipicu oleh keresahan pengelola galangan kapal yang sudah dua kali menjadi sasaran pencurian sebelumnya. “Wakar ini memang sudah persiapan, dia sudah membawa parang terlebih dahulu. Jadi bukan parang milik pelaku yang direbut lalu digunakan,” tegas Iswanto pada Selasa (12/5/2026).

Iswanto menjelaskan kronologi singkat saat BA bersama dua temannya datang menggunakan perahu kecil. Belum sempat melakukan aksi apa pun, kehadiran mereka sudah tercium oleh penjaga. “Korban ini dikejar sampai ke bawah, ke bibir pantai. Saat hendak kabur, dia disabet menggunakan parang oleh wakar,” ujarnya. Polisi mengidentifikasi pelaku penyabetan tunggal tersebut adalah seorang pria berinisial AA.

Menariknya, meskipun terjadi duel maut, polisi memastikan belum ada bukti tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh korban. Posisi korban saat disergap masih berada di area luar atau batas air. “Belum ada tindak pidana pencurian. Mau disebut percobaan pun belum, karena mereka baru sampai di bibir pantai,” tambah Iswanto.

Terkait kondisi jasad korban yang ditemukan dalam keadaan tangan terikat saat dievakuasi tim Inafis Polresta Samarinda, pihak kepolisian memberikan klarifikasi bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya pelumpuhan. “Tangannya diikat supaya tidak kabur. Itu untuk pengamanan saja,” jelasnya lagi.

Hingga saat ini, pihak kepolisian telah memeriksa sekitar delapan orang saksi untuk menyusun rangkaian peristiwa secara utuh. Sementara itu, AA selaku pelaku utama penganiayaan masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Editor : Indra Zakaria
#samarinda