Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Delapan Tahun Vakum, Lanjong Art Festival Kembali Bersua di Tenggarong dengan Tema “Habis Barat Terbitlah Timur”

Elmo Satria Nugraha • Rabu, 20 Agustus 2025 - 01:33 WIB
Jumpa Pers Lanjong Art Festival tahun 2025 di Kafe Kong Tjie Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Jumpa Pers Lanjong Art Festival tahun 2025 di Kafe Kong Tjie Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

TENGGARONG – Kearifan lokal, budaya, bahasa ibu kini mulai tergerus zaman, termasuk di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Para penerus bangsa, dari Gen Z hingga Gen Alpha sudah mulai merasa malu atau canggung memperlihatkan kearifan lokal mereka. Jika dahulu seorang ibu biasa dipanggil anaknya “Emek”, kini mereka seringkali dipanggil “Mama”. Sebuah nama yang tidak berasal dari tanah Kutai.

Meski secara pengucapan Emek dan Mama terpaut jauh, namun esensi dari bahasa ini tetap sama. Tidak lebih unggul, tidak lebih kurang, namun memiliki keiistimewaan satu sama lain. Bagaikan fajar yang terbit dari barat dalam hal ini kata “Mama”, dan timur yang terbit setelah barat dalam hal ini “Emek”. Generasi penerus tidak perlu malu dengan bahasa mereka yang kaya akan kebudayaan, justru lebih percaya diri.

Keresahan ini yang mendorong Lanjong Art Foundation untuk menetapkan tema “Habis Barat Terbitlah Timur” dalam perhelatan ketujuh Lanjong Art Festival Tahun 2025. Sebuah festival akbar bertaraf internasional, yang mempertemukan para pelaku seni pertunjukan kontemporer. Berpusat di Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong, mulai tanggal 22 hingga 27 Agustus gratis tanpa pungutan biaya.

Akan terlaksananya event ini disampaikan pada kegiatan jumpa pers di Kafe Kong Tjie Tenggarong, Selasa (19/8). Perwakilan Eksternal Lanjong Art Festival, Dedi Nala Arung menyampaikan kegiatan ini sudah vakum selama sewindu, padahal biasanya dilaksanakan dua tahun sekali. Tepat tahun 2017 lalu, Lanjong Art Festival terakhir dilaksanakan bersama dua kegiatan bertaraf internasional Kukar lainnya.

“Dulu saat tahun 2017, event festival prioritas di Kukar yang ditetapkan Bekraf RI ada tiga. Yaitu Rock in Borneo, Erau dan Lanjong Art Festival ini. Mereka punya daya Tarik khusus ketimbang daerah lain. Namun karena berbagai hal terjadi termasuk pandemi Covid-19, kegiatan ini kecuali Erau harus berhenti,” ungkap pria yang akrab disapa Nala tersebut.

Nala menyebut, event ini memiliki “Gizi” lebih. Lantaran akan mempertemukan pelaku seni kontemporer dari dalam daerah, luar daerah hingga luar negeri. Sebagai pusat pertemuan pelaku seni pertunjukan kontemporer, Nala berharap event ini menjadi pemantik sekaligus membuka pintu-pintu berpikir terhadap apa yang diinginkan Kukar.

“Kami ingin event ini menjadi ajang pertemuan, tempat gagasan-gagasan baru timbul untuk Kukar,” pinta Nala.

Direktur Lanjong Foundation, Kosis menyebut adanya Lanjong Art Festival ini berangkat dari kurang familiarnya seni pertunjukan kontemporer di Kota Raja, terkhusus Kukar. Seni pertunjukan sendiri menjadi salah satu fokus Yayasan ini, dan adanya festival ini diharapkan akan menjadi stimulus para pelaku seni lainnya.

“Kita dulu di Kukar disegani dengan kekayaan budayanya. Dan sekarang kita perlu kembali ke posisi itu. Event ini adalah stimulusnya,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Lanjong Art Festival Mimi Nuryanti mengatakan akan ada beberapa kegiatan selama festival. Yang pertama adalah kompetisi teater, yang saat ini sudah ada 11 kelompok mendaftar. Kelompok ini, berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan ratusan peserta.

Selain kompetisi, akan ada workshop yang diharapkan menjadi lintas pengetahuan antar seniman maupun pemuda yang hendak menapaki seni pertunjukan. Adapun eksibisi yang dilakukan pelaku seni pertunjukan nasional hingga internasional. Menampilkan kekayaan budaya mereka di Tenggarong.

“Nanti akan ada pertunjukan gratis dari berbagai pelaku seni daerah lain. Juga negara lain dari Brazil, Jepang, Singapura, Malaysia, Amerika," sebutnya.

Nantinya juga akan ada karya kolaboratif pementasan yang melibatkan pelaku seni lokal dan nasional, Mawang dan Panji Sakti. Dan terakhir adalah sarasehan, yang disiapkan untuk menjadi tempat diskusi kebudayaan. Lengkap dengan dekor yang menstimulus dan membangun nilai festival bagi penonton dan penampil, sesuai dengan tema festival.

“Festival ini kami harapkan menjadi penguatan ekosistem seni pertunjukan, dengan menggabungkan pelaku luar dan dalam daerah,” tutup Mimi. (moe)

Editor : Indra Zakaria