Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Surga yang Tersembunyi: 1.618 Spesies Flora dan Fauna Ditemukan di Wehea-Kelay

Redaksi Prokal • 2026-01-25 11:30:00
Stasiun Penelitian Wehea di Muara Wahau, Kutai Timur. (ant/kp)
Stasiun Penelitian Wehea di Muara Wahau, Kutai Timur. (ant/kp)

 

SAMARINDA– Kolaborasi riset skala besar yang melibatkan Universitas Mulawarman (Unmul), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) baru saja mengungkap kekayaan hayati yang menakjubkan di Bentang Alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur. Penelitian komprehensif ini berhasil mengidentifikasi sebanyak 1.618 jenis flora dan fauna yang menghuni kawasan seluas 532.143 hektare tersebut, sebuah fakta yang mempertegas pentingnya perlindungan ekosistem di wilayah utara Kaltim.

Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah status lahan di kawasan ini. Meskipun memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, nyatanya hanya 19 persen dari total wilayah Wehea-Kelay yang berstatus sebagai kawasan lindung resmi. Sisanya tersebar di area konsesi kehutanan, perkebunan, hingga lahan kelola masyarakat. Fenomena ini membuktikan bahwa wilayah di luar hutan lindung memiliki peran krusial sebagai benteng terakhir bagi satwa-satwa yang terancam punah.

Rektor Unmul, Prof. Abdunnur, menjelaskan bahwa dari ribuan spesies yang terdata, komposisi fauna mencakup persentase yang signifikan dari total kekayaan spesies di Kalimantan, termasuk 38 persen mamalia darat, 47 persen burung, 20 persen reptil, serta 70 persen amfibi. Selain itu, ditemukan 88 varietas serangga seperti kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 spesies tumbuhan hutan tropis. Kehadiran satwa ikonik yang sulit dijumpai, seperti Orangutan Kalimantan, Macan Dahan, Kucing Merah, Trenggiling, hingga burung Rangkong Gading, semakin mengukuhkan nilai konservasi wilayah ini.

Lonjakan data keanekaragaman hayati ini juga didukung oleh penggunaan teknologi pemantauan modern. Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, mengungkapkan bahwa terdapat penambahan 275 jenis baru dibandingkan inventarisasi tahun 2016. Pencapaian ini berkat implementasi kamera jebak (camera trap) untuk mendeteksi satwa pemalu dan teknologi bioakustik yang mampu mengidentifikasi spesies melalui rekaman suara di tengah rimbunnya hutan.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, mengingatkan bahwa peran Bentang Alam Wehea-Kelay melampaui sekadar rumah bagi satwa. Kawasan ini merupakan jantung hidrologis yang menjadi hulu bagi dua sungai besar, yakni Sungai Mahakam dan Sungai Segah. Keberadaannya sangat vital dalam menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Pengelolaan berbasis bentang alam yang melibatkan lintas sektor menjadi kunci agar jasa lingkungan dan kelestarian hutan tropis tetap terjaga bagi generasi mendatang.(*)

Editor : Indra Zakaria