Tahun telah berganti, namun banyak resolusi finansial yang dibuat pada tahun lalu seringkali masih berakhir sebagai wacana belaka. Mulai dari keinginan sederhana untuk rutin menikmati kuliner hingga rencana besar liburan ke luar negeri, banyak target yang gagal terwujud bukan karena kurangnya niat, melainkan akibat pola lama yang terus diulang tanpa adanya evaluasi mendalam. Berdasarkan rilis data dari OCBC Financial Fitness Index 2025, terdapat beberapa kebiasaan buruk yang harus segera ditinggalkan agar kondisi keuangan di tahun 2026 menjadi lebih sehat.
Kebiasaan pertama yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan untuk meminjam uang kepada orang terdekat guna menutupi gaya hidup. Sebanyak tiga puluh sembilan persen masyarakat tercatat masih sering melakukan hal ini demi memenuhi kebutuhan yang sebenarnya di luar kemampuan. Selain menandakan adanya masalah finansial yang serius karena pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, pola ini juga berisiko merusak hubungan personal dengan teman maupun keluarga.
Selanjutnya, perilaku impulsif saat menerima gaji juga menjadi hambatan besar. Seringkali uang bulanan habis tanpa jejak bahkan sebelum pertengahan bulan karena belanja yang tidak terencana. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan selalu pada nominal gaji yang kurang, melainkan pada pola belanja yang tidak sejalan dengan realitas ekonomi masing-masing individu, sehingga membuat rencana menabung atau investasi menjadi sulit tercapai.
Ketergantungan pada pembayaran tagihan minimum, terutama pada kartu kredit, juga menjadi jebakan yang membahayakan. Lebih dari separuh masyarakat masih terjebak dalam kebiasaan ini karena merasa beban sesaat menjadi lebih ringan. Padahal, di balik kemudahan tersebut terdapat bunga yang terus menumpuk yang justru membuat utang sulit dilunasi dan berubah menjadi beban jangka panjang yang menghambat kebebasan finansial.
Tekanan sosial atau fenomena FOMO (Fear of Missing Out) turut menjadi faktor penghambat yang signifikan. Sebanyak tujuh puluh enam persen orang mengaku menghabiskan uang hanya demi mengikuti tren di lingkungan sekitarnya, seperti nongkrong di tempat hit atau membeli barang terbaru. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, fokus pada tujuan finansial jangka panjang akan hilang hanya demi mendapatkan pengakuan sesaat dari lingkungan sosial.
Terakhir, keinginan untuk mendapatkan keuntungan instan secara cepat atau spekulasi berlebihan tanpa pemahaman risiko menjadi penutup daftar kebiasaan yang harus dihindari. Tergiur oleh cerita sukses instan di media sosial tanpa pengetahuan dan strategi yang matang sering kali berakhir pada kerugian yang lebih besar. Membangun keuangan yang sehat pada dasarnya memerlukan proses dan disiplin, bukan sekadar keberanian mengambil risiko buta demi cuan instan. (*)
Editor : Indra Zakaria