Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ketika Cinta Saja Tak Cukup Menahan Badai Perceraian: Menakar Ulang Arti "Sekufu" di Era Modern

Redaksi Prokal • Selasa, 7 Juli 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi pria dan wanita,
Ilustrasi pria dan wanita,

 
PROKAL.CO- Di tengah melonjaknya angka perceraian belakangan ini, masyarakat sering kali langsung menunjuk masalah ekonomi atau kehadiran orang ketiga sebagai kambing hitam utamanya. Namun, jika ditelisik lebih dalam, para pakar pernikahan dan pemuka agama kini mulai menyuarakan akar masalah yang jauh lebih mendasar namun kerap luput dari perhatian, yaitu hilangnya esensi kufu atau kesetaraan sebelum pasangan melangkah ke pelaminan. Banyak anak muda terjebak dalam romantisasi hubungan dan meyakini bahwa getaran cinta saja sudah cukup untuk menaklukkan segala rintangan, padahal tanpa keserasian yang mendalam, fondasi rumah tangga akan sangat rapuh saat dihantam realitas kehidupan nyata.

Konsep kufu atau kafa'ah sendiri sebenarnya memiliki arti setara, sebanding, atau sesuai. Sayangnya, terjadi pergeseran makna di masyarakat modern yang sering kali menyempitkan istilah ini hanya sebatas kesetaraan materi, status sosial, atau sekadar penampilan fisik. Padahal dalam sudut pandang spiritual, kufu yang sejati melampaui seberapa mewah kendaraan atau seberapa menawan paras wajah seseorang. Konsep ini justru menekankan pada tiga pilar kesetaraan utama:

Kesetaraan dalam Pemahaman Agama (Deen): Memiliki frekuensi spiritual yang sama untuk berjalan menuju Tuhan.

Keselarasan Karakter dan Akhlak: Kesamaan standar moral dan bagaimana cara bersikap satu sama lain.

Kecocokan Gaya Hidup dan Prinsip Dasar: Keselarasan dalam memandang esensi kehidupan sehari-hari.

Hal ini sejalan dengan pesan mendalam Nabi Muhammad ﷺ yang mengingatkan bahwa meskipun wanita dinikahi karena empat hal—harta, nasab, kecantikan, dan agama—pilihan utama harus dijatuhkan pada kualitas agamanya. Islam tidak menolak faktor fisik atau materi, namun menegaskan bahwa keselarasan spiritual harus menjadi kompas utama dalam mengambil keputusan besar bernama pernikahan.

Menikah tanpa landasan kufu ibarat menanam bom waktu yang siap meledak kapan saja. Fase kehancuran hubungan ini biasanya berjalan melalui tiga tahapan:

Fase Awal (Ilusi Cinta): Getaran emosi dan ketertarikan fisik bertindak sebagai peredam yang membuat perbedaan prinsip seolah bisa dimaklumi dan dianggap bisa diubah seiring berjalannya waktu.

Fase Realitas (Benturan Hidup): Pasangan mulai dihadapkan pada urusan riil seperti manajemen keuangan, gesekan dengan keluarga besar, hingga perbedaan pola pengasuhan anak (parenting).

Fase Keretakan (Jurang Pemisah): Perbedaan yang awalnya dianggap ketegangan kecil perlahan melebar. Kisah yang awalnya penuh bunga cinta berakhir tragis, memisahkan dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama namun berbicara dalam "bahasa" yang berbeda dan tidak lagi saling memahami.

Pada akhirnya, level tertinggi dari konsep kufu bukanlah menemukan sosok yang sempurna tanpa cela, melainkan menemukan seseorang yang memiliki arah hidup yang sama. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengikat janji suci, setiap individu perlu merenungkan empat pertanyaan krusial terkait masa depan mereka:

Pertumbuhan Spiritual: Apakah kita bisa tumbuh dan melangkah menuju Allah bersama-sama?

Ketahanan Badai: Mampukah kita tetap solid dan saling menguatkan saat menghadapi badai kesulitan hidup?

Manajemen Konflik: Bisakah kita tetap berkomunikasi dengan penuh kasih sayang saat ego masing-masing mulai naik?

Komitmen Jangka Panjang: Bisakah kita tetap saling menghormati ketika percikan emosi cinta di awal pernikahan mulai memudar?

Menikah dengan seseorang yang memiliki frekuensi hati yang sama dalam berjalan menuju Tuhan adalah kunci utama ketahanan sebuah rumah tangga, karena keserasian dalam agama, karakter, dan nilai kehidupanlah yang akan menjaga sebuah hubungan tetap utuh melintasi waktu. (*)

Editor : Indra Zakaria
#pernikahan