BANYUWANGI– Kamis lalu (18/3) warga dunia maya dihebohkan beredarnya video cabai yang warnanya luntur saat ditumis. Video dengan durasi 29 detik itu diunggah akun Facebook Agung Emfet Putra Blambangan milik Agung Prasetyo Hadi, 31, warga Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur.
Dalam video itu diceritakan, cabai yang sedang ditumis mengeluarkan cairan warna oranye kemerahan. Lama-lama cairan itu terlihat semakin kental. ’’Lombok iso dicet lho. deloken to. Ati-ati tenan dulur-dulur kabeh. Konco-konco kabeh lek ngumbah sing tenanan. Deloken iki lho cet iki lho. cat oren warna lombok iki lho (Lombok bisa dicat lho. Lihatlah. Hati-hati saudara-saudara semua, teman-teman semua. Kalau mencuci yang bersih. Lihatlah ini kan cat. Cat warna oranye lombok),’’ ujar Agung dalam video itu.
Kejadian tersebut berawal saat Suyati, 73 (nenek Agung), membeli cabai dengan berat 1 ons. Suyati membelinya dari seorang mlijo yang biasa keliling di sekitar rumahnya. Karena harga 1 kilogram cabai rawit mencapai Rp 120 ribu, Suyati hanya mampu membeli 1 ons seharga Rp 11 ribu.
”Saat dicuci, belum ada tanda-tanda kalau cabai itu dicat. Saat itu catnya tidak luntur, bahkan tidak ada cat pada gagang cabai. Cuma, kondisi cabainya dipegang agak basah dan lebih mengkilap,” cerita Suryati kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Tidak merasa curiga, cabai rawit tersebut langsung ditumis bersama bawang merah dan bawang putih pada minyak yang sudah panas. Saat itulah mulai muncul kecurigaan. Saat ditumis, cabai tersebut meletus dan muncul bau cat. ”Saya langsung memanggil cucu saya,” ujar Suyati.
Begitu mendapat laporan dari neneknya, istri Agung, Novianti, 30, melapor ke suaminya. Tak seberapa lama, Agung bikin video untuk diunggah di media sosial. Menurut Novianti, waktu ditumis cabai itu memang sedikit aneh. Aromanya mirip cat. ’’Di wajan itu ada bawang merah, bawang putih, warnanya ikutan oranye. Seperti dilumuri saus, padahal belum diberi saus,” ujar Novianti.
Kasus cabai yang diduga dicat itu sampai ke Polresta Banyuwangi. Kemarin siang (22/3) penyidik satreskrim memanggil Agung. Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifuddin menerangkan, Agung dipanggil untuk membuktikan kebenaran video yang dia unggah. Selain itu, Agung diminta menjelaskan dari mana asal cabai yang katanya dicat oranye tersebut. ”Kami terus lakukan pemeriksaan lebih mendalam,” imbuhnya. Selain memeriksa Agung, polisi akan menguji cabai yang diduga dicat tersebut ke Laboratorium Forensik (Labfor) Surabaya. ”Kami belum bisa memastikan itu cairan cat jenis apa. Kami harus menunggu uji laboratorium forensik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kadis Pertanian dan Pangan Pemkab Banyuwangi Arief Setyawan berjanji mengecek kebenaran kabar tersebut. Arief menjelaskan, berdasar data sistem informasi ketersediaan dan perkembangan harga bahan pokok (siskaperbapo), harga cabai rawit di Banyuwangi rata-rata hampir menyentuh Rp 100 ribu per kilogram. ’’Kami harap masyarakat tidak resah dengan isu yang belum diketahui kebenarannya tersebut,” imbaunya.
Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinkes Banyuwangi Mujito mengaku belum mendapat laporan tentang cabai bercat tersebut. Meski demikian, jika kabar itu benar dan cabai sudah beredar di masyarakat, patut diwaspadai dampak buruk bagi kesehatan.
Mujito menjelaskan, cat tembok maupun cat minyak memiliki senyawa berbahaya. Jika masuk ke dalam tubuh, dalam jangka pendek bisa terjadi keracunan. Dalam jangka panjang, bisa merusak organ vital seperti liver dan ginjal.
Mujito mengatakan, laboratorium dinkes siap memeriksa kandungan cat dalam cabai tersebut. ”Biasanya tidak sampai seminggu kita bisa menemukan kandungan berbahaya yang ada di sampel makanan,’’ katanya.
Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur Nanang Triatmoko mengatakan, pihaknya akan mencari tahu kebenaran video cabai dicat tersebut. Jika benar, pelakunya harus dihukum dengan berat. ’’Perlu diketahui, video ini tak mewakili petani cabai di Jatim. Kalaupun ada oknumnya, itu tidak akan sampai mencakup 1 persen cabai rawit yang beredar di pasar,’’ ungkapnya.
Saat ini, lanjut Nanang, harga cabai rawit memang sedang melambung. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, harganya mencapai Rp 112 ribu per kg. Nanang menjelaskan, hal tersebut terjadi karena banyak penanaman cabai di tanah kering yang gagal.
Nanang memaparkan, petani cabai dibagi menjadi dua. Yakni, petani yang menanam di lahan tandus dan yang menanam di sawah. ’’Banyak daerah yang memanfaatkan lahan kering. Tapi, risiko gagal panennya besar jika curah hujan tinggi,’’ paparnya. Alhasil, petani yang biasanya bisa memanen 8 ton cabai per hektare kini hanya bisa mendapatkan 30 persen. Ditambah lagi, lahan cabai yang menyusut 15 persen dibanding tahun lalu. Menurut dia, banyak petani yang ragu menanam cabai rawit karena tahun lalu harganya jatuh sampai Rp 15 ribu per kg.
Pada bagian lain, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui harga cabai yang melonjak. Menurut Mendag, hal itu terjadi karena penyusutan pasokan di sejumlah daerah dan terlambatnya masa panen. ”Penyusutan stok juga disebabkan belum ada tempat penyimpanan yang memadai untuk menjaga stok tetap awet dalam jangka panjang. Sementara harga juga naik turun karena belum panen raya,” ujar Lutfi dalam konferensi pers Jumat lalu (19/3).
Lutfi menerangkan, terjadi lonjakan harga 29 persen jika dibandingkan dengan data month-to-month, yakni dari Rp 74.607 per kg pada 11 Februari 2021 menjadi Rp 96.247 per kg pada 12 Maret 2021. Lutfi meyakini harga cabai akan turun perlahan-lahan menjelang puasa dan Idul Fitri. ”Beberapa daerah produsen cabai yang sebelumnya mengalami kerusakan dan gagal panen sudah mulai panen,” tambahnya. (fre/rio/aif/bil/agf/c6/oni)
Editor : izak-Indra Zakaria