Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dexamethasone Bisa Ditemukan di Toko Online

izak-Indra Zakaria • Senin, 22 Juni 2020 - 00:16 WIB
dr Reisa
dr Reisa

JAKARTA– Dexamethasone banyak ditemukan di toko daring. Padahal Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengimbau agar tak sembarangan mengkonsumsi secara serampangan. Di sisi lain, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan ijin terkait penggunaan obat ini.

Hasil pantauan Jawa Pos, di sejumlah apotik di wilayah Tangerang Selatan, Banten, tidak ada situasi yang khusus terkait penjualan obat deksametason. Salah satu penjaga apotik menuturkan mereka menjual sesuai ketentuan. Bahwa obat tersebut hanya bisa dibeli dengan resep dokter.

Di aplikasi pembelian obat-obatan online seperti Halodoc, obat deksametason juga masih banyak dijual. Diantaranya adalah merek Dexamethasone berlabel generik. Untuk varian 0,5 mg 10 tablet, dibandrol Rp 3.800 untuk satu trip. Sementara itu obat serupa dengan merek Dexa-M 0,75 mg dari Dexa Medica dijual Rp 3.000 per strip berisi 10 tablet. Kedua obat ini bisa dibeli dengan wajib dengan resep dokter.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) menghimbau agar masyrakat tidak membeli maupun menggunakan obat dexamethasone sembarangan tanpa resep dokter. Tim Komunikasi GTPPC-19 Reise Broto Asmoro menegaskan bahwa dexa bukan penangkal COVID-19

Reisa mengungkapkan, semenjak  Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengeluarkan rilis yang merekomendasikan penggunaan obat Dexamethasone untuk penanganan COVID-19 beberapa waktu lalu, diketahui banyak yang kemudian mencari obat ini.

Kendati direkomendasikan oleh WHO, namun faktanya obat tersebut bukan penangkal COVID-19, dan hanya merupakan kombinasi obat-obatan. "Obat ini tidak memiliki khasiat pencegahan. Ini bukan penangkal COVID-19, ini bukan vaksin," kata Reisa (19/6).

Reisa menjelaskan bahwa  Dexamethasone merupakan obat golongan kortikosteroid. Dexamethasone bekerja dengan cara mengurangi peradangan (inflamasi) dan menurunkan sistem kekebalan tubuh, sama seperti steroid yang dihasilkan oleh tubuh secara alami.

Penggunaan Dexamethasone kata Reisa juga tidak boleh sembarangan. Sesuai dengan rekomendasi WHO, obat ini hanya dianjurkan untuk pasien yang terkonfirmasi dengan sakit berat, kritis, membutuhkan ventilator dan bantuan pernafasan. "Obat ini dianjurkan karena dipercaya bisa mengurangi jumlah kematian sebesar 20 sampai 30 persen dari kasus-kasus tersebut," ujar Reisa.

Selain itu, obat ini kata Reisa tidak memiliki dampak atau bukan terapi untuk kasus-kasus konfirmasi yang sakit ringan, atau tanpa gejala. pemakaian obat-obat steroid untuk COVID-19 hanya dibolehkan dalam pengawasan ahli dan para dokter. Terapi yang dilakukan pun harus  berada di sarana dengan fasilitas yang memadai. Paramedis yang terlibat juga  tentunya harus siap untuk menangani efek samping yang dapat terjadi.

 

 Penggunaan Dexamethasone juga tidak boleh sembarangan. Terapi yang sudah dilakukan untuk jangka panjang tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba. Dalam hal ini, dokterlah yang akan menurunkan dosis secara bertahap (tapering off), sebelum menghentikan obat ini.

"Penderita yang telah mengkonsumsi untuk jangka panjang, tidak boleh menghentikan konsumsi obat secara tiba-tiba, tanpa sepengetahuan dokter. Penggunaan untuk jangka panjang juga ada efek sampingnya," jelas Dokter Reisa.

Lebih lanjut, Reisa juga menjelaskan bahwa penggunaan obat tersebut tidak boleh sembarangan diberikan kepada siapa saja dan harus melihat faktor usia. Karena dosis dan lama penggunaan Dexamethasone diberikan berdasarkan usia, kondisi, dan reaksi pasien tersebut terhadap obat.

Dia juga menambahkan, meski harganya terjangkau, namun penggunaan Dexamethasone wajib melalui konsultasi dokter, agar tidak menimbulkan efek samping dari obat tersebut. "Selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini, agar tidak terjadi efek samping. Terutama, bila memiliki alergi pada makanan, obat, maupun bahan lain yang terkandung didalamnya," jelasnya.

Reisa juga mengatakan bahwa Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau BPOM akan memantau peredaran Dexamethasone. Meskipun banyak beredar berita baik soal kemajuan dunia kesehatan, baik dalam negeri, maupun luar negeri, Reisa menegaskan bahwa WHO sampai saat ini belum menentukan obat atau regimen data kombinasi pengobatan yang tetap untuk perawatan pasien COVID-19.

Oleh karena itu, lanjut Reisa,  hingga sejauh ini, WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tetap menganjurkan agar masyarakat dapat mengikuti selalu petunjuk dari dokter.  "Tidak boleh mengobati diri sendiri, hindari penggunaan antibiotik dengan tidak tepat juga, karena dapat menyebabkan resistensi terhadap jenis antibiotik yang dikonsumsi tersebut, dan sekali lagi, belum ada pengobatan COVID-19  sampai saat ini yang dapat mencegah," kata Reisa.

Hingga saat ini, kata Reisa cara terbaik untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 adalah dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan air sesering mungkin dengan minimal 20 detik.

Guru Besar Mikrobiologi dan Bioteknologi Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) Prof Maksum Radji mengatakan para klinisi saat ini masih menunggu hasil lebih lanjut penggunakan obat deksametason untuk pasien Covid-19. Dia mengungkapkan para dokter juga khawatir bahwa penggunaan obat tersebut justru bisa memperburuk kinerja sistem kekebalan tubuh dari serangan virus.

’’Sehingga masih diperlukan uji klinik yang lebih lanjut,’’ katanya kemarin. Maksum menuturkan uji klinik lanjutan itu untuk mengetahui efek samping dari penggunakan deksametason.

Selain itu dia mengatakan, yang perlu dicermatik adalah deksametason bukanlah obat antiviral. Untuk itu jika obat itu akan digunakan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Misalnya dengan cara mengkombinasikan obat deksametason dengan obat antiviral yang mempu menghambat perkembangbakan virus korona.

Dia menuturkan penggunaan obat deksametason ditujukan untuk mengimbangi badai sitokin. Badai sitokin ini umumnya muncul pada pasien Covid-19 dalam kondisi berat. Badai sitokin menyebabkan kelainan paru-paru dan memicu sindrom gangguan pernafasan akut atau acute respiratory distress syndrome (ARDS) pada pesien Covid-19.

Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Dr Masteria Yunovilsa Putra menuturkan obat deksametason tidak bisa digunakan pada pasien Covid-19 dalam kondisi ringan atau sedang. Sebab pada pasien jenis ini, sistem imunitasnya masih cukup kuat.

Untuk kalangan medis di Indonesia, Masteria masih ragu apakah sudah menggunakan obat itu untuk mengobati pasien Covid-19. ’’Untuk pastinya bisa ditanyakan ke dokter paru,’’ katanya. Dia menegaskan obat ini banyak dijual di pasaran. Harganya pun sangat murah.

Namun untuk membelinya wajib menggunakan resep dokter. Dia menegaskan obat deksametason ini bukan antivirus. Jadi tidak ada informasi resmi obat ini mampu membunuh virus korona. Selain itu dia menegaskan deksametason adalah obat, bukan multivitamin.

Dia mengatakan orang sehat tidak perlu minum obat deksametason supaya tidak terinveksi virus korona. Untuk pencegahan masyarakat diminta konsisten menjalankan protokol kesehatan yang sudah dikampanyekan pemerintah. Masteria mengingatkan masyarakat bahwa obat deksametason ini salah satu kerjanya adalah menekan sistem imunitas.

Terkait efek samping, Masteria mengatakan sudah banyak diulas para ahli. Dia menyebutkan diantaranya adalah memiliki efek samping bagi penderita osteoporosis. Selain itu obat ini memiliki efek samping meningkatkan kadar gula. Efek samping juga bisa muncul bagi orang yang memiliki kelainan autoimun. Masteria mengatakan dalam kondisi normal, obat deksametason umumnya dipakai untuk mengatasi peradangan di dalam tubuh manusia.

Saat ini belum terdapat obat yang spesifik untuk COVID-19, walaupun beberapa obat telah dipergunakan untuk penanganan COVID-19 sebagai obat uji.

Kepala BPOM Penny Lukito menyatakan dexamethason tidak dapat digunakan untuk pencegahan Covid-19. Dexamethason yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dapat mengakibatkan efek samping. Terutama digunakan dalam jangka waktu panjang. Efeknya adalah menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan tekanan darah, diabetes, moon face, dan masking effect.

”BPOM terus memantau dan menindaklanjuti hasil lebih lanjut terkait penelitian ini,” ucap Penny. Lembaga tersebut juga akan berkomunikasi dengan profesi kesehatan terkait  seperti WHO dan otoritas obat negara lain untuk melihat apakah obat ini digunakan mengobati Covid-19.

Dia juga meminta masyarakat agar tidak membeli obat dexamethason dan steroid lainnya secara bebas tanpa resep dokter. Termasuk membeli melalui platform online. ”Untuk penjualan obat dexamethasone, termasuk melalui online, tanpa ada resep dokter dapat dikenakan sanksi,” tutur Penny.  

Sementara itu, kasus positif Covid-19 di tanah air terus menerus naik. Per hari Jumat (19/6), GTPPC-19 mencatat  pertambahan 1.041 orang pasien baru sehingga total jumlah nasional menjadi 43.803 orang. Pasien sembuh bertambah 551 orang sehingga menjadi total 17.349 orang.  Selanjutnya untuk kasus meninggal menjadi 2.373 dengan penambahan 34 orang.

Jubir Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, jika dilihat data distribusi dari kasus positif yang dilaporkan hari ini, Sulawesi Selatan menjadi Provinsi dengan pertambahan kasus positif tertinggi di angka 207 kasus baru dan 43 kasus sembuh, ”Disusul DKI Jakarta 141 kasus baru dan 126 sembuh, Jawa Timur 140 kasus baru dan 103 sembuh," kata Yuri.

 

 Kemudian disusul Sumatera Selatan 84 kasus baru dan 31 sembuh, Provinsi Bali 81 kasus baru dan 13 sembuh. Sementara itu, data provinsi 5 besar dengan kasus positif terbanyak secara kumulatif adalah mulai dari DKI Jakarta 9.665 orang, Jawa Timur 9.057, Sulawesi Selatan 3.573, Jawa Barat 2.805 dan Jawa Tengah 2.471.(lyn/tau/wan)

Editor : izak-Indra Zakaria