Kisah Berlian Banjar yang kini tersimpan di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, adalah salah satu babak kelam dalam sejarah kolonialisme dan Perang Banjar. Berlian ini sering disebut juga sebagai Intan Sultan Adam, karena merupakan pusaka (regalia) dari Kesultanan Banjar.
Menurut analisis geologi S. Van Leeuwen dan JC Zwaan, berlian tersebut memiliki berat 38,23 karat, berukuran panjang 21,86, lebar 17,37 serta tinggi 13,86 mm. Berlian berbentuk persegi panjang dan digambarkan sebagai cuttingan hasil tambang lama yang dimodifikasi.
Caroline Drieenhuizen, sejarawan asal Belanda, dilansir BBC mengatakan berlian ini saksi kejadian berdarah di masa lalu, yang tak selayaknya menjadi milik Belanda. Konon, berlian itu tiba di Belanda sebagai harta 'rampasan perang' setelah Belanda mengalahkan Kesultanan Banjar pada tahun 1860. Berlian ini pernah memiliki ukuran 70-80 karat sebelum dipotong menjadi 36-38 karat oleh pihak kolonial.
Asal-Usul Berlian dan Rampasan Perang
1. Berlian Sultan Adam
Berlian yang dimaksud berasal dari kawasan pendulangan intan yang kaya di wilayah Banjar-Martapura, Kalimantan Selatan (sekarang Banjarbaru). Intan ini awalnya merupakan milik Sultan Adam Al-Watsiq Billah, Sultan Banjar yang memerintah hingga tahun 1857. Intan mentah ini konon memiliki berat sekitar 70 karat (ada juga yang menyebut 103 karat sebelum dipotong).
Intan tersebut adalah simbol kedaulatan dan kemewahan Kesultanan Banjar, sebuah warisan penting bagi kerajaan.
2. Konflik dan Penghapusan Kesultanan
Kisah berlian ini tak terpisahkan dari Perang Banjar (1859-1905) dan upaya Belanda untuk ikut campur dalam suksesi kekuasaan Kesultanan Banjar. Setelah Sultan Adam wafat, Belanda campur tangan dan mengangkat Sultan Tamdjidillah II sebagai Sultan, meskipun Pangeran Hidayatullah dianggap sebagai pewaris sah.
Intervensi ini memicu Perang Banjar yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari.
Pada tahun 1860, pasukan kolonial Belanda secara brutal menguasai wilayah Kesultanan Banjarmasin dan menghapuskan kerajaan tersebut.
3. Berlian Diambil sebagai Harta Rampasan
Setelah Kesultanan Banjar dihapuskan, harta benda dan pusaka kerajaan (regalia), termasuk intan Sultan Adam, disita oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Intan besar tersebut diyakini diambil sebagai harta rampasan perang (oorlogsbuit). Perjalanan ke Belanda dan Kontroversi
1. Pengiriman ke Den Haag (1861)
Setelah disita, intan tersebut diangkut dari Banjarmasin ke Batavia (Jakarta). Pada akhir tahun 1861, Gubernur Jenderal Sloet menyarankan kepada Menteri Koloni di Belanda untuk memberikan intan tersebut kepada Raja Belanda Willem III.
Intan tersebut kemudian dibawa dari Pelabuhan Batavia ke Belanda dengan Kapal Perang Ardjoeno.
2. Penolakan Raja dan Pemotongan (1862-1900)
Pada tahun 1862, batu tersebut tiba di Belanda berbentuk intan kasar yang beratnya 70 karat. Fransen van der Putte (1822-1902), mantan Menteri Koloni, pada tahun 1897 mengatakan bahwa sebelum dipotong/dicutting berlian itu “tidak menarik bagi orang awam, malah tampak seperti sepotong arang.”
Di Belanda, intan mentah tersebut ditawarkan kepada Raja Willem III sebagai hadiah. Namun, Raja menolak untuk menerimanya. Para pejabat Belanda kesulitan menentukan nasib berlian tersebut. Karena ukuran aslinya yang besar, sulit untuk menemukan pembeli.
Pada awal tahun 1900-an, seorang menteri kolonial memutuskan untuk memotong berlian mentah 70 karat (atau 103 karat) tersebut. Setelah dipotong dan diasah, ukuran berlian menjadi lebih kecil, dilaporkan sekitar 36 karat atau 37 karat, dan berbentuk persegi panjang.
Antara bulan Mei hingga Agustus tahun 1870, batu/intan itu kemudian dicutting (digosok) di Amsterdam, oleh A.E. Daniels & Son, direktur pelaksana dari pabrik mendiang ME Coster (1791-1849).
3. Menjadi Koleksi Museum (1902)
Bahkan setelah dipotong, berlian tersebut ternyata tetap tidak laku dijual meskipun ditawarkan dengan harga yang murah, memunculkan mitos "kutukan" pada berlian tersebut.
Akhirnya, pada tahun 1902, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk menyimpan berlian tersebut dan memindahkannya ke Rijksmuseum di Amsterdam sebagai pinjaman permanen dari Menteri Koloni. Di museum tersebut, berlian itu dipajang dengan label yang kini dikenal sebagai "The Banjarmasin Diamond".
Status Saat Ini: Repatriasi
Saat ini, Berlian Banjar menjadi fokus perhatian dalam isu repatriasi (pemulangan) artefak bersejarah dari Belanda ke Indonesia. Banyak sejarawan dan keturunan Kesultanan Banjar berpendapat bahwa berlian tersebut harus dikembalikan karena diperoleh secara tidak sah melalui kekerasan dan penjarahan di masa kolonial. (*)
Editor : Indra Zakaria