Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kereta Api Kalimantan Lebih Cocok Angkut Barang daripada Penumpang

Redaksi Prokal • Rabu, 3 Juni 2026 | 09:01 WIB
Rencana jalur kereta cepat Trans Borneo disebut akan menghubungkan Pontianak, Brunei, Sabah, hingga kawasan IKN. (Dok.Brunergy, Diolah: AI)
Rencana jalur kereta cepat Trans Borneo disebut akan menghubungkan Pontianak, Brunei, Sabah, hingga kawasan IKN. (Dok.Brunergy, Diolah: AI)

PROKAL.CO- Rencana besar pemerintah memasukkan proyek jaringan kereta api Kalimantan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) mendapat respons realistis dari mantan Gubernur Kalimantan Barat periode 2018-2023, Sutarmidji. Ia menilai, proyek ini akan jauh lebih masuk akal dan berdampak nyata jika difokuskan untuk mengangkut barang dan logistik, bukan mengejar sektor penumpang.

Sutarmidji memandang tingkat mobilitas masyarakat antarpovinsi di Pulau Borneo saat ini belum cukup masif untuk menopang operasional kereta api penumpang dalam skala besar. Sebagai indikator paling sederhana, ia mengajak pemerintah untuk melihat realitas di sektor penerbangan antarkota saat ini.

“Kalau dari angkutan orang, kita lihat saja jalur penerbangan. Pontianak penduduknya paling besar. Sekarang Pontianak-Balikpapan ada setiap hari? Pontianak-Samarinda ada setiap hari? Pontianak-Banjarmasin ada? Pontianak-Palangkaraya ada? Kan sesekali saja,” ujar Sutarmidji dengan nada retoris, Selasa (2/6).

Menurutnya, jika frekuensi perjalanan udara antarkota yang notabene lebih cepat saja belum padat, maka pemerintah harus sangat berhati-hati dalam memproyeksikan jumlah penumpang kereta api di masa depan.

Melihat karakteristik Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam dan komoditas perkebunan, Sutarmidji justru melihat peluang emas kereta api ada pada sektor logistik. Menghubungkan kawasan produksi langsung ke pelabuhan dinilai akan memangkas biaya distribusi yang selama ini bertumpu pada jalur darat dan laut yang melelahkan. “Ini (kondisi penerbangan) bisa menjadi cerminan kepadatan mobilitas di Kalimantan. Kecuali untuk angkutan barang, terutama yang mendukung kegiatan ekspor,” jelasnya menekankan.

Jika efisiensi ini tercipta, daya saing produk lokal Kalimantan dipastikan akan melonjak tajam, baik di pasar nasional maupun internasional. Namun, ia mewanti-wanti agar ambisi pembangunan fisik ini tidak melupakan hitung-hitungan di atas kertas. Pemerintah diminta merinci dengan matang aspek break even point (BEP) dan pengembalian modal.

“Harus direncanakan secara komprehensif, termasuk break even point-nya kapan, berapa tahun. Dilihat investasinya berapa besar, pengembalian investasi itu berapa lama. Jangan sampai nanti seperti kereta cepat. Kita sih suka saja dan berharap bisa terwujud, tetapi setelah terwujud jangan malah menjadi masalah,” cetusnya mengingatkan.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Bang Midji ini menegaskan bahwa Kalimantan Barat memiliki modal kuat untuk menjadi simpul utama jika proyek ini berjalan. Alasan utamanya adalah jumlah populasi yang besar serta keberadaan infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Internasional Kijing.

“Harusnya mulainya dari Pontianak, dari Kalbar. Karena penduduk paling besar di Kalimantan ada di Kalbar. Potensi ekonomi ke depan juga Kalbar,” cetus Midji optimis.  Pada akhir penyataannya, Sutarmidji menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menolak kemajuan infrastruktur tersebut. Ia mendukung penuh konektivitas di tanah Kalimantan, dengan satu syarat mutlak: perencanaan harus matang dan bebas dari risiko proyek mangkrak.

“Yang jelas saya berharap kereta api ini benar-benar bisa direalisasikan. Hanya harus dihitung dari sisi visibilitas dan pembiayaannya. Jangan sampai mangkrak di tengah jalan,” pungkasnya. (bar)

Editor : Indra Zakaria
#kereta api kalimantan