Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Isran Noor Ceritakan Pengalamannya Nyaris Gagal Maju di Pilgub Kaltim 2024, Diserang Bertubi-tubi, Berulangkali Coba Dijegal

Rikip Agustani • Selasa, 12 November 2024 - 17:22 WIB

 

 

Isran Noor bercerita perjalanannya di Rakordasus Partai Demokrat. (Foto: Rikip/KP)
Isran Noor bercerita perjalanannya di Rakordasus Partai Demokrat. (Foto: Rikip/KP)

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Isran Noor dan Hadi Mulyadi, menceritakan perjalanan mereka yang hampir gagal maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2024.

Pasangan ini nyaris tidak mendapatkan rekomendasi dari partai politik yang memiliki kursi di DPRD Kaltim. Namun, dengan perjuangan gigih, mereka berhasil mendapatkan dukungan dari dua partai politik, yaitu Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, yang memiliki total 11 kursi di DPRD Kaltim.

Cerita ini disampaikan oleh Calon Gubernur Kaltim, Isran Noor, dalam Rapat Koordinasi Daerah Khusus (Rakordasus) DPD Partai Demokrat Kaltim untuk Pilkada Kaltim 2024 di Ballroom Hotel Grand Tjokro Balikpapan, Sabtu (9/11).

“Terima kasih kepada DPP Partai Demokrat yang telah memberikan kesempatan kepada Isran-Hadi untuk maju sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur. Sesuatu yang tidak bisa dibayangkan,” kata Isran dalam sambutannya.

Mantan Ketua DPW Partai Nasdem Kaltim yang kini kembali menjadi kader Partai Demokrat ini menyebut bahwa perjuangannya bersama Hadi Mulyadi untuk maju dalam Pilgub Kaltim adalah sebuah hal yang menarik dan bisa menjadi topik disertasi.  

“Ini sejarah penting, kalau ditulis menjadi sebuah topik atau judul disertasi, ada 3 sampai 7 topik disertasi yang bisa diselesaikan. Itulah ciri khas dunia politik di Indonesia. Saya tidak mau cerita, tapi itu fakta yang kami alami,” katanya.

Gubernur Kaltim periode 2018-2023 ini juga menyebut bahwa jika tidak bisa maju dalam Pilgub Kaltim karena tidak mendapat rekomendasi partai politik, dirinya akan berjuang melalui jalur lain. Terlebih jika Pilgub Kaltim hanya diikuti oleh satu pasangan calon. “Kalau saya enggak repot-repot, benar. Mau dicalonkan atau tidak dicalonkan, tapi saya punya cara lain. Kalau pun habis partai diborong, kotak kosong yang kita perkuat. Kita bisa habis-habisan,” tegasnya.

Namun, takdir berkata lain. Isran Noor dan Hadi Mulyadi akhirnya bisa maju pada Pilgub Kaltim 2024 dengan mendapat rekomendasi dari Partai Demokrat yang memiliki 2 kursi di DPRD Kaltim dan PDIP Perjuangan yang memiliki 9 kursi.

Dengan total 11 kursi, syarat untuk maju sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terpenuhi.  “Dalam hal mengejar kekuasaan, ada yang mengatakan boleh menggunakan segala cara. Tapi jangan salah-salah. Boleh menggunakan segala cara, tapi tidak semua cara bisa berhasil,” pesan Isran.

Calon Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi, dalam sambutannya menceritakan lebih lugas perjuangannya bersama Isran Noor untuk mendapatkan rekomendasi dari Partai Demokrat. Jika tidak mendapatkan rekomendasi Partai Demokrat, kerja keras mereka untuk maju dalam Pilgub Kaltim akan kandas karena hanya memiliki 9 kursi dari PDI Perjuangan, masih kurang 2 kursi dari Partai Demokrat.

“Pak Irwan Fecho menjadi saksi. Betapa mereka mengintimidasi, mengancam, dan mengintervensi agar Isran-Hadi tidak maju di Kalimantan Timur. Bahkan sudah menyampaikan di media bahwa Pilgub di Kaltim akan melawan kotak kosong. Tetapi kami berterima kasih kepada Partai Demokrat,” katanya.

Ketua DPW Partai Gelora Kaltim ini juga mengungkapkan upaya untuk menjegalnya agar bisa maju dalam Pilgub Kaltim bersama Isran Noor juga dilakukan melalui lobi kepada DPP Partai Demokrat. Mereka mencoba mengimingi petinggi di Partai Demokrat untuk tidak memberikan rekomendasi kepada pasangan calon Isran Noor dan Hadi Mulyadi.

“Mereka ingin ‘menyuntik’ orang-orang tertentu di Partai Demokrat agar Pak Isran-Hadi tidak bisa maju. Pengumuman rekomendasi ditunda berkali-kali. Saya masih ingat mulai bulan Juli, ditunda lagi Agustus, lalu ditunda lagi. Sudah di depan kamar AHY (Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat), masih di telepon. Siapakah namanya itu, Pak Isran saja yang tahu itu. Orangnya putih. Bendahara ditelepon dan teleponnya diberikan kepada AHY, meminta agar Kaltim tidak mengusung Isran-Hadi,” kenang Hadi Mulyadi.

Dia juga menceritakan bahwa terbitnya rekomendasi Partai Demokrat untuk pasangan calon Isran Noor dan Hadi Mulyadi tak lepas dari upaya Irwan, Ketua DPD Partai Demokrat Kaltim, yang langsung melakukan lobi kepada Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hingga akhirnya rekomendasi partai politik pertama diberikan pada pasangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi pada 8 Agustus 2024.

“Pak SBY lewat lobi Irwan Fecho langsung memastikan Kalimantan Timur untuk Isran-Hadi. Luar biasa mereka mengatasnamakan Presiden, mengatasnamakan KIM (Koalisi Indonesia Maju), mengatasnamakan apa saja, dengan duitnya. Tapi, alhamdulillah Partai Demokrat tidak bergeming. Bapak SBY mengatakan hanya satu pilihan untuk Kalimantan Timur, Isran-Hadi calon gubernurnya,” terang Hadi.

Begitu juga di PDI Perjuangan. Hadi Mulyadi mengungkapkan bahwa karena hanya tinggal dua partai politik yang belum menerbitkan rekomendasi pasangan calon pada Pilgub Kaltim, maka salah satunya atau keduanya harus ditundukkan.

Pada PDI Perjuangan, upaya untuk menjegal pasangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi juga dilakukan. Akhirnya, rekomendasi PDIP Perjuangan berhasil diperoleh pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi pada 14 Agustus 2024.

“Bahkan di depan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati, salah satu petinggi negeri setingkat menteri yang tidak boleh saya sebut, menelepon Pak Hasto (Sekjen PDIP Perjuangan). Permintaannya, Isran-Hadi jangan dicalonkan di Kalimantan Timur. Tapi Ibu Megawati tetap bersikeras bahwa untuk Kalimantan Timur, tetap Isran-Hadi. Akhirnya dengan izin Allah, kami dapat 9 kursi dari PDIP dan 2 kursi dari Demokrat. Kursi pas-pasan,” kenangnya.(*)

Editor : Indra Zakaria
#pilkada kaltim 2024 #isran noor