Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Anies Baswedan Kritik "Kerusakan Ganda" Indonesia: Rakyat Belum Sejahtera, Alam Sudah Rusak

Redaksi Prokal • 2026-01-19 08:40:00
Anies Baswedan. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Anies Baswedan. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

PROKAL.CO- Anggota Kehormatan 001 Gerakan Rakyat, Anies Baswedan, melontarkan kritik tajam mengenai paradoks pembangunan di Indonesia dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat di Hotel Aryaduta Menteng, Sabtu malam. Dalam pidatonya, Anies menyoroti fenomena memprihatinkan yang ia sebut sebagai "kerusakan ganda", di mana kesejahteraan rakyat belum tercapai namun kondisi alam sudah terlanjur mengalami kerusakan parah.

Anies membandingkan situasi Indonesia dengan banyak negara maju yang secara historis memang merusak lingkungan demi mengejar kemakmuran ekonomi bagi seluruh rakyatnya. Menurutnya, kondisi di Indonesia justru berjalan sebaliknya karena ketidakadilan ekonomi dan ekologi berjalan beriringan tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Ia menekankan bahwa di saat perekonomian belum mampu menyejahterakan rakyat secara merata, ekosistem alam justru telah dieksploitasi hingga melampaui ambang batas.

Salah satu poin krusial yang diangkat mantan Gubernur DKI Jakarta ini adalah isu deforestasi yang terjadi secara legal. Anies mengungkapkan data bahwa mayoritas kerusakan hutan di Indonesia, yakni lebih dari 90 persen, justru terjadi di bawah payung hukum yang resmi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar pembalakan liar, melainkan keberadaan regulasi dan aturan main yang memberikan legalitas pada perusakan hutan. Ia menegaskan perlunya perombakan total pada kebijakan negara agar tidak lagi memberi celah bagi penggundulan hutan secara terstruktur.

Dalam kesempatan tersebut, Anies juga memberikan apresiasi kepada Gerakan Rakyat yang berani memasukkan isu ekologi ke dalam agenda utama organisasi. Ia mengingatkan bahwa berbagai bencana alam yang baru-baru ini terjadi di Sumatera merupakan alarm keras bagi semua pihak. Baginya, peringatan tersebut tidak akan berguna jika tidak diikuti dengan perubahan nyata dalam kebijakan pembangunan yang harus mulai berfokus pada konsep ekonomi ekologi yang berkeadilan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, menegaskan bahwa Rakernas kali ini memang sengaja mengusung tema Keadilan Ekologis dan Mengembalikan Hutan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa perjuangan organisasi kini meluas dari sekadar keadilan politik menuju keadilan ekologis, mengingat pengusiran spesies dan kerusakan habitat sudah sangat masif. Gerakan Rakyat mendesak pemerintah untuk segera menghadirkan regulasi yang berpihak pada kelestarian hutan demi menyelamatkan masa depan bangsa. (*)

Editor : Indra Zakaria