Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menelusuri Jejak Aminah Syukur: Sang Srikandi Pendidikan Keturunan Belanda di Jantung Kota Samarinda

Redaksi Prokal • 2026-01-19 14:45:00
Aminah Syukur. (IST)
Aminah Syukur. (IST)

SAMARINDA- Bagi warga Kota Samarinda, nama Aminah Syukur mungkin lebih akrab terdengar sebagai deretan aksara yang menghiasi plang nama jalan di pusat kota. Jalan Aminah Syukur yang membentang di Kelurahan Karang Mumus menjadi saksi bisu hiruk-pikuk ekonomi dan mobilitas warga setiap harinya. Namun, di balik keramaian aspal tersebut, tersimpan kisah kepahlawanan seorang perempuan yang mendedikasikan seluruh napasnya untuk satu hal yang sangat fundamental bagi bangsa ini: pendidikan.

Aminah Syukur bukanlah sosok yang memanggul senjata di garis depan pertempuran fisik, melainkan seorang pejuang pena yang gigih meruntuhkan tembok kebodohan. Lahir di era di mana akses pendidikan bagi perempuan masih dianggap sebagai kemewahan yang tabu, Aminah justru yang keturunan Belanda ini tampil sebagai pendobrak. Ia merupakan sosok pendidik sejati yang percaya bahwa pembebasan sejati dimulai dari ruang-ruang kelas yang tercerahkan.

Dedikasinya dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan hingga memasuki era awal kedaulatan Indonesia. Beliau dikenal sebagai pelopor berdirinya sekolah-sekolah di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda. Saat itu, ia berjuang keras meyakinkan para orang tua agar mengizinkan anak-anak mereka, terutama kaum perempuan, untuk mengecap bangku sekolah. Baginya, perempuan yang terdidik adalah tiang penyangga peradaban yang akan melahirkan generasi-generasi hebat di masa depan.

Perjalanan Aminah Syukur dalam dunia pendidikan bukanlah tanpa rintangan. Keterbatasan fasilitas, anggaran, hingga stigma sosial terhadap pendidikan perempuan menjadi tantangan sehari-hari yang ia hadapi. Namun, dengan keteguhan hati, ia terus membina guru-guru muda dan menggerakkan roda literasi di Bumi Etam. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan bukan sekadar untuk penghormatan administratif, melainkan sebagai pengingat abadi bahwa di kota ini pernah hidup seorang srikandi yang meletakkan batu pertama pembangunan sumber daya manusia.

Kini, setiap kali masyarakat melintasi jalan tersebut, semangat Aminah Syukur seharusnya kembali bergema. Di tengah modernisasi Kota Samarinda yang kian pesat, sosoknya tetap relevan sebagai simbol bahwa pendidikan adalah investasi terbaik bagi sebuah daerah. Menjadikan namanya sebagai nama jalan adalah cara Samarinda memuliakan masa lalu, sekaligus menanamkan inspirasi bagi generasi muda agar terus melanjutkan estafet perjuangan literasi yang telah ia mulai puluhan tahun silam. (*)

Editor : Indra Zakaria