PROKAL.CO-Dunia sains Islam abad ke-13 mengenal sosok Qutb al-Din Shirazi sebagai salah satu pemikir paling cemerlang dan serba bisa. Cendekiawan Muslim asal Persia yang wafat pada tahun 1311 ini bukan sekadar ilmuwan biasa; ia adalah seorang astronom, matematikawan, ahli kimia, sekaligus penyair Sufi yang meninggalkan warisan pemikiran mendalam bagi peradaban dunia.
Salah satu kontribusi terbesarnya tercatat pada tahun 1284, saat ia mempresentasikan model-model gerak planet yang revolusioner. Menariknya, di era tersebut, Shirazi sudah mulai mendiskusikan kemungkinan heliosentrisme—sebuah konsep yang menempatkan matahari sebagai pusat tata surya—jauh sebelum teori ini menjadi arus utama di dunia Barat.
Ketertarikan Shirazi tidak berhenti di langit. Ia mendalami Qanun fi al-Tibb (Kitab Suci Kedokteran) karya Ibnu Sina (Avicenna) yang legendaris. Setelah menelaah komentar Fakhr al-Din Razi terhadap karya tersebut, Shirazi menemukan berbagai isu krusial yang mendorongnya untuk menulis ulasan dan komentarnya sendiri. Namun, sepuluh tahun kemudian, ia memutuskan untuk meninggalkan profesi kedokteran demi mengejar pendidikan lanjutan yang lebih tinggi.
Langkah ini membawanya ke bawah bimbingan sang guru besar, Nasir al-Din al-Tusi. Saat Al-Tusi mendirikan observatorium Maragha yang termasyhur, Shirazi terpikat dan menjadikannya pusat penelitian. Pengembaraan intelektualnya kemudian berlanjut ke berbagai kota besar seperti Qazvin, Isfahan, Baghdad, hingga Konya di Anatolia pada tahun 1268. Di Konya, Shirazi dilaporkan sempat bertemu dengan penyair besar Jalal al-Din Muhammad Rumi yang saat itu tengah berada di puncak kemasyhurannya.
Di penghujung karier aktifnya, Shirazi mencurahkan waktu untuk mengajar karya-karya besar Avicenna, yakni Al-Qanun dan Ash-Shifa, di wilayah Suriah. Dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan terus berkobar hingga ia memutuskan untuk berangkat ke Tabriz. Tak lama setelah tiba di kota tersebut, sang polimatik legendaris ini mengembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di pemakaman Čarandāb, Tabriz, meninggalkan jejak keilmuan yang tetap abadi hingga hari ini. (*)
Editor : Indra Zakaria