Jonatan Christie sedang memiliki kepercayaan diri tinggi. Dia belum pernah kalah sejak All England, Badminton Asia Championship, hingga Thomas Cup.
Selain tak pernah kalah, tiga ajang besar itu dijadikan Jojo –sapaan akrabnya– untuk bayangan menuju Olimpiade. Sebab, atlet terbaik bakal tampil di ajang tersebut.
’’Semua pemain mau menang. Itu mirip Olimpiade,’’ tutur Jojo saat diwawancarai di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (8/5).
Di final Thomas Cup saat menghadapi Li Shi Feng, misalnya, dia merasakan bagaimana tekanan hingga harapan publik ke pundaknya.
Apalagi, saat itu Indonesia tertinggal 0-2 seusai Anthony Sinisuka Ginting di tunggal pertama dan Fajar Alfian/Rian Ardianto di ganda pertama takluk.
’’Itu simulasi paling bagus menurut saya. Ketika semua rasanya benar-benar ada di pundak saya, justru itu latihan yang bagus buat Olimpiade.
Dan, itu saya coba terapkan waktu sebelum masuk lapangan pas di final lawan Li (Shi Feng),’’ ujarnya.
Apalagi, di partai final, lawan bermain di kandang sendiri. Semua stadion berpihak ke lawan. Bahkan, legenda badminton Tiongkok seperti Lin Dan turut hadir menyaksikan pertandingan.
’’Pertandingan besar, gengsinya beda, spotlight beda, nonton beda, suporter beda. Dia (Li) ambisi ada, motivasi juga pasti ingin menampilkan terbaik, apalagi di rumah sendiri,’’ ujarnya.
Ketua Tim Ad Hoc M. Fadil Imran juga langsung menggelar rapat koordinasi untuk persiapan menjelang Olimpiade per Rabu (8/5).
’’Kalau anak-anak sedang di luar (tanding) kita online, tapi kalau sedang break kita ketemu langsung di Cipayung,’’ bebernya saat diwawancarai kemarin.
Intinya, sambung Fadil, pertemuan itu dihadiri para penanggung jawab bidang analisis performance, psikologi, fisik, kesehatan, dan aspek-aspek hospitality lainnya. ’’Kita minta rapornya lah istilahnya,’’ tuturnya.
Mantan Kapolda Metro Jaya itu ikut menyoroti performa Jojo yang bisa menang rubber game atas Li Shi Feng (21-16, 15-21, 21-17).
’’Berarti kan lawan sudah mempelajari Jojo. Li Si Feng juga mengatakan bahwa dia mempelajari Jojo, tapi waktunya tak cukup panjang. Ternyata Jojo sudah melakukan langkah antisipasi,’’ ungkapnya.
Sementara itu, pelatih ganda putra Aryono Miranat menuturkan, secara kesiapan sebetulnya sudah cukup baik.
’’Waktu di final juga cukup bagus, cuma ya masalahnya masalah di poin-poin terakhir saja kita kalah di situ,’’ ucapnya.
Di Olimpiade nanti, ganda putra hanya diwakili Fajar Alfian/Rian Ardianto. Namun, di Thomas Cup lalu, FajRi memiliki beberapa catatan.
Misalnya, di final takluk pada Liang Wei Keng/Wang Chang (18-21, 21-16, 17-21). Salah satu catatan adalah di servis dan penerimaan servis.
Terlebih, ketika di poin-poin akhir banyak salah di dua itu. ’’Itu akan kami perhatikan terus,’’ kata pelatih PB Djarum tersebut.
FajRi hanya mengikuti Singapore Open (28 Mei–2 Juni) dan Indonesia Open (4–9 Juni). Aryono memiliki alasan tersendiri kenapa FajRi hanya mengikuti dua turnamen di Asia Tenggara.
’’Karena kalau ikut ke Thailand juga nggak memengaruhi untuk ranking, sekarang kan di posisi ketujuh. Kalaupun naik keenam sama saja, mereka akan ada di posisi kelima sampai kedelapan,’’ jelasnya. (raf/drw/c7/bas/jpg/tom)
Editor : Indra Zakaria