Pemkab Berau berhasil meraih predikat cum laude untuk kategori very good region in an featured program on local economic empowerment, dalam parameter ekonomi untuk indikator pemberdayaan ekonomi dalam ajang Mulawarman University (Multy) Award 2023, Sabtu (28/10). Keberhasilan ini diraih melalui program pengembangan kakao.
KEPALA Disbun Berau Lita Handini mengatakan, program ini diharapkan bisa membuat petani kakao di Berau termotivasi dan konsisten untuk terus berusaha menjadi petani kakao yang makmur serta komoditas kakao bisa menjadi unggulan Kaltim.
Untuk saat ini, Berau belum bisa menjadi daerah sentra kakao karena luasannya yang semakin berkurang. “Program ini saya buat karena memang semakin ke sini luas tanaman kakao berkurang karena ekspansi sawit dan tambang, akhirnya minat orang untuk berusaha menjadi petani kakao itu menurun, makanya kami melakukan pendampingan ini untuk meningkatkan produksi,” terang Lita
Program ini berkolaborasi dengan Pemkab Berau, Non Governmental Organization (NGO) seperti Solidaridad, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dan perusahaan swasta. “Saat ini, ada dua perusahaan swasta yang ikut berkolaborasi bersama kami, yaitu PT Berau Cocoa dan PT Khatulistiwa Agro Sentosa Serasi,” paparnya.
Disbun Berau juga berhasil mendorong pemkab melahirkan surat keputusan (SK) Bupati tentang penetapan kawasan pengembangan kakao di Kabupaten Berau. Ada 19 daerah potensial yang disentralkan dan dikerjakan bersama pihak kolaborator dan memberikan bantuan sesuai kapasitas masing-masing.
Dalam program Si Bang Koko Mantap, Disbun Berau memberikan bantuan pembinaan, sarana produksi, dan pelatihan-pelatihan. Sementara, NGO berperan memberikan pendampingan di lapangan seperti budi daya, manajemen kelompok, dan penanganan pascapanen sampai pengemasan hasil produksi.
Juga perusahaan swasta yang kegiatannya selain menampung hasil biji, mereka juga memberikan bantuan, yaitu pembinaan, pengolahan pascapanen, dan sarana produksi. “Harga kakao aman karena ada kesepakatan dan kerja sama antara perusahaan dan petani,” kata Lita.
Perusahaan membeli dengan harga yang sesuai kualitas biji yang dihasilkan, bisa menjual dalam bentuk biji kering, basah, atau fermentasi. Dan sistem penjualannya memudahkan petani. Pembelinya datang ke kampung untuk membeli, jadi bukan petani yang menjual. Pembeli datang sendiri untuk menjemput bijinya.
Walaupun belum bisa memproduksi dalam jumlah besar, namun produk kakao Berau ini mampu menyasar pasar domestik maupun mancanegara. “Kami bersama dua perusahaan tersebut sudah punya partner yang membeli secara rutin kakao asal Berau. Pasar domestik dari Bali, Bandung dan Jakarta, dan ekspor ke Amerika, Swiss, Belanda, dan Jerman,” kata Lita.
Tak lupa pula hasil itu sebagian diproduksi sendiri oleh kelompok tani perempuan. Lita juga berencana membuat brand cokelat khusus oleh-oleh Berau, yang nanti bisa dijadikan bagian dari pendukung sektor wisata di Kabupaten Berau.
Selai itu, untuk Disbun bersama BUMK Surya Jaya Abadi Kampung Labanan Makarti, Disperindagkop Berau, dan PT Berau Coal mempersiapkan kampung Labanan Makarti menjadi Kampung Cokelat. “Disbun Berau persiapkan kebun 2 hektare serta benih untuk ditanami. Dekat kebun itu, nantinya ada rumah produksi cokelat, harapannya bisa menjadi sarana belajar sekaligus rekreasi,” bebernya
Menjelang panen terbesar yang diprediksi pada November sampai Desember nanti, Disbun memberikan bantuan alat pengolahan untuk kelompok wanita tani. Bantuan itu berupa mesin pembuat pasta, penghancur biji, dan mesin sangrai untuk biji coklat.
“Karena pada saat ini masih memakai alat dapur biasa, seperti wajan, blender. Melihat itu, kami berinisiatif menganggarkan untuk alat pengolahan yang lebih modern agar hasilnya berkualitas dan pembuatannya bisa lebih efektif dan efisien,” terang Lita.
Untuk produktivitas lahan dalam satu hektare bisa menghasilkan satu ton biji kakao bahkan lebih jika pemeliharaannya bagus. Namun, untuk saat ini, produktivitas lahan di Berau hanya di angka 600 sampai 800 kilogram per hektarenya. “Tapi ini sudah bagus lah, dan mudah-mudahan dengan dukungan tersebut harapannya produktivitas bisa meningkat dan luas lahan juga bisa lebih meningkat,” jelas Lita.
Karena produktivitas lahan yang masih terbatas sedangkan permintaan biji kakao yang luar biasa, Berau belum mampu memenuhi semua permintaan. “Kami baru bisa memenuhi hanya 20 persen dari permintaan yang masuk,” terang Lita.
Pihaknya menawarkan peluang Investasi kepada siapa saja. “Jika ada perusahaan swasta yang berminat untuk berinvestasi dan mengembangkan kebun kakao dalam skala besar kami menyediakan lahan untuk itu sebanyak 3 ribu hektare di Kampung Merasa,” jelas Lita. Mengenai hal itu, Disbun memberikan fasilitas perizinan yang lebih mudah nantinya untuk para investor.
Ekspor kakao Berau ini dimulai dari 2019. Sekarang, perusahaan terkait masih rutin mengekspor walau tidak dalam jumlah banyak. Beberapa waktu lalu ada launching ekspor oleh bupati Berau sebesar 15 ton ke Virginia, Amerika Serikat. Meskipun permintaan ekspor biji kakao ini banyak namun para petani masih belum mampu memenuhinya.
“Kadang permintaan sampai 200 ton karena tidak mampu, kami beri semampunya sebagai jalinan pertemanan agar pembeli bisa mengingat bahwa Kabupaten Berau itu punya cokelat yang berkualitas walaupun tidak mampu memenuhi permintaan mereka seratus persen, kami jalin kerja sama saja dulu,” pungkasnya. (ndu/k15)
NASYA RAHAYA
Charmycaramel0122@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria