Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Digitalisasi Keuangan Kaltim Melesat: Pengguna QRIS Tembus 841 Ribu Sampai Akhir 2025

Indra Zakaria • 2026-01-26 10:39:33
infografis
infografis

SAMARINDA – Arus digitalisasi ekonomi di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren penguatan yang signifikan. Hingga pengujung November 2025, jumlah masyarakat yang mengadopsi sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Benua Etam telah mencapai 841,6 ribu pengguna, meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 832,6 ribu orang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini juga berbanding lurus dengan sisi penyedia layanan atau merchant. Hingga periode yang sama, sebanyak 780,6 ribu pelaku usaha telah menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran resmi, melonjak dari posisi sebelumnya yang sebesar 763,1 ribu merchant.

Meskipun penggunaan QRIS tumbuh subur dengan nominal transaksi yang fantastis, sistem pembayaran non-tunai secara umum justru mengalami kontraksi volume sebesar 20,6% (yoy). Fenomena ini terjadi di tengah posisi peredaran uang tunai di Kaltim yang mencatatkan net outflow sebesar Rp491,2 miliar.

"Pertumbuhan ekonomi dari sisi perbankan juga menunjukkan dinamika yang terjaga. Penyaluran kredit di Kaltim tumbuh sebesar 3,90% (yoy), yang didominasi oleh kuatnya permintaan pada sektor konsumsi dan investasi," jelas Budi dalam keterangannya.

Kesehatan sistem keuangan di Kaltim dinilai masih sangat stabil, terlihat dari tingkat risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang berada di angka rendah, yakni 1,70%. Stabilitas ini menjadi fondasi penting meskipun penyaluran kredit modal kerja masih mengalami tekanan.

Di sisi lain, perbankan di Kaltim masih menghadapi tantangan dalam penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengalami kontraksi sebesar 6,74% (yoy). Penurunan ini dipicu oleh menyusutnya penempatan dana pada instrumen giro dan deposito, yang masing-masing turun sebesar 16,08% dan 11,50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Capaian ini menunjukkan bahwa meskipun ada pergeseran perilaku masyarakat menuju transaksi digital yang lebih praktis, sektor perbankan tetap perlu waspada dalam menjaga keseimbangan likuiditas guna mendukung keberlanjutan investasi di Kalimantan Timur.(*)

Editor : Indra Zakaria