ISTANBUL – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengklaim bahwa militer Negeri Paman Sam telah memulai langkah-langkah strategis untuk mengambil alih kendali penuh atas Selat Hormuz. Jalur pelayaran paling vital bagi pasokan energi global tersebut kini menjadi titik tumpu utama dalam konfrontasi militer terbuka antara Washington dan Teheran.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Channel 14 Israel pada Minggu (29/3), Trump memberikan jawaban tegas saat ditanya mengenai kemampuan AS dalam menguasai jalur logistik strategis tersebut. "Ya, tentu saja. Itu sudah terjadi," ujarnya, mengisyaratkan bahwa operasi militer untuk mengamankan perairan Teluk telah bergerak maju melampaui sekadar retorika.
Trump juga menegaskan bahwa seluruh langkah operasional ini dilakukan dalam koordinasi yang sangat erat dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menurutnya, aliansi antara Washington dan Tel Aviv dalam menghadapi Iran saat ini berada di titik terkuat yang pernah ada. Ia meyakini bahwa tekanan militer masif, termasuk serangan udara yang terus berlanjut, akan memaksa Teheran untuk menyerah pada tuntutan diplomatik baru.
"Siapa pun akan menginginkan kesepakatan jika Anda sedang dihancurkan, bukan?" tambah Trump, merujuk pada dampak operasi militer terhadap infrastruktur dan kepemimpinan Iran.
Ketegangan ini merupakan buntut dari rangkaian serangan udara hebat yang dilancarkan AS dan Israel sejak akhir Februari lalu. Operasi tersebut dilaporkan telah menelan lebih dari 1.340 korban jiwa, termasuk tokoh kunci Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran terus menggempur aset-aset militer AS di Yordania dan Irak, serta meluncurkan serangan drone ke wilayah Israel, yang kini membuat stabilitas pasar energi dunia berada di ambang ketidakpastian tinggi.
Dengan klaim penguasaan Selat Hormuz ini, dunia kini menanti langkah balasan dari Garda Revolusi Iran (IRGC), mengingat jalur tersebut merupakan "keran" utama bagi distribusi minyak mentah dunia yang selama ini menjadi kartu truf pertahanan ekonomi Teheran.(*)
Editor : Indra Zakaria