Beberapa kawasan di Kota Banjarmasin kembali terendam air. Seperti Jalan Zafry Zamzam di Banjarmasin Barat, Kayu Tangi di Banjarmasin Utara, dan Jalan Lambung Mangkurat di Banjarmasin Tengah. Genangan akibat banjir rob ini kian rutin dan sulit dielakkan.
Menurut pakar tata kota, Nanda Febryan Pratama Jaya, penyebab utama banjir adalah berkurangnya daya tampung sungai akibat sedimentasi.
Contoh nyata adalah Sungai Martapura, yang dulunya memiliki kedalaman hingga 12 meter pada 2010, kini hanya menyisakan 5-6 meter saja. Pendangkalan juga terjadi pada anak-anak sungai yang berada di dalam kota. Diperparah oleh pembangunan yang masif, di mana metode uruk kerap digunakan pada tanah rawa, memutus jalur alami aliran air.
"Selama ini yang terjadi justru pembiaran pendangkalan. Semua proyek teknis sipil seperti sungai, kanal, dan drainase harus dipelihara secara berkala. Bahkan, lebih baik lagi kalau ditingkatkan kualitasnya," ujar Nanda, Senin (5/5).
Untuk mengatasi banjir secara menyeluruh, menurutnya Banjarmasin memerlukan pembangunan pintu air dan pompanisasi. Saat ini, Banjarmasin baru memiliki satu pompa dan pintu air yakni di Sungai Belasung, samping Balai Kota.
Untuk mengerjakan semua itu, baik pengerukan dan membangun pintu air, membutuhkan anggaran besar, yang harus dikelola dengan prinsip money follow program. Dengan kata lain, setiap pengeluaran harus berorientasi pada program prioritas. "Kebencanaan ini tidak bisa ditawar. Anggaran tidak boleh dipangkas, karena bebas dari bencana adalah hak dasar masyarakat," tegas Nanda.
Ia menuntut Wali Kota Muhammad Yamin dan Dinas PUPR untuk menyusun roadmap pengerjaan yang jelas. Titik-titik lokasi rawan banjir juga perlu dikaji, supaya pengerjaan tidak menimbulkan mubazir anggaran.
Proyek urgen seperti ini tak boleh ditunda, berbeda dengan pembangunan infrastruktur lain yang masih bisa menunggu. "Untuk menyusun rencana yang tepat, diperlukan kajian teknis mendalam. Ini tidak bisa hanya berdasarkan observasi biasa," tutup Nanda. (*)
Editor : Indra Zakaria