Di bawah langit Kota Mentaya, berdiri megah sebuah gereja dengan arsitektur khas, dominasi kayu, bentuk segitiga yang menjulang tinggi, serta nuansa tradisional yang berpadu dengan kesakralan suasana rohani.
Itulah Gereja Maranatha, gereja tertua milik Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) beralamat di Jalan S. Parman Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Memasuki halaman depan gereja, jemaat disambut oleh patung Yesus yang berdiri dengan tangan terulur, seolah merangkul setiap umat yang datang beribadah. Sentuhan visual ini menjadi penanda bahwa gereja ini bukan sekadar bangunan, tetapi simbol keteguhan iman dan kasih yang hidup dalam kebersamaan.
Ketua Majelis Resort GKE Sampit, Pdt. Mediorapano, menjelaskan bahwa menjelang peringatan Jumat Agung (18 April 2025) dan Hari Paskah (20 April 2025), mereka melakukan berbagai persiapan, sehingga suasana di Gereja Maranatha menjadi lebih khusyuk.
“Jumat Agung dan Paskah adalah puncak perayaan iman Kristiani. Jumat Agung memperingati penderitaan dan kematian Yesus Kristus, sementara Paskah merayakan kemenangan-Nya atas kematian. Ini esensi dari pengharapan umat Kristen,” ungkap Pdt. Mediorapano saat ditemui Radar Sampit, Rabu (16/4).
Ia kemudian menuturkan sejarah panjang Gereja Maranatha yang tak lepas dari semangat pelayanan dan kebersamaan umat. Kekristenan pertama kali masuk ke daerah Mentaya pada 1924, tepatnya di Desa Kandan, dibawa oleh perantau dari Kapuas. Pelayanan dilakukan oleh para zending yang kemudian mendorong pertumbuhan gereja di wilayah ini.
“Tahun 1937, kesadaran umat untuk memiliki tempat ibadah di Sampit semakin kuat. Maka dibangunlah gereja pertama dari kayu yang sangat sederhana, lalu diresmikan oleh seorang zending bernama Tuan Bekker pada 1939, meski belum memiliki nama saat itu,” terangnya. Seiring berkembangnya kota dan meningkatnya jumlah jemaat, kebutuhan akan gereja yang lebih representatif muncul.
Maka pada 1980, dimulailah pembangunan gereja baru, dan lima tahun kemudian, tepatnya 13 Oktober 1985, Gereja Maranatha resmi diresmikan oleh Bupati Kotim saat itu, HA. Kusnan Daryono.
Saat memasuki gereja, sorotan cahaya alami masuk melalui jendela kaca patri berbentuk bintang Daud, memberikan nuansa khidmat dan spiritual. Ornamen kaca patri bergambar anggur, roti, dan burung merpati—simbol darah dan tubuh Kristus serta Roh Kudus. Di altar, sebuah cawan perjamuan dari kayu pohon Zaitun asli Yerusalem menjadi saksi setiap momen sakral Perjamuan Kudus.
Maranatha terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama menjadi ruang utama ibadah, lantai kedua sebagai ruang persiapan pendeta, dan lantai ketiga difungsikan sebagai perpustakaan. Di lantai tiga inilah tersimpan sebuah lonceng kuno yang didatangkan langsung dari Swiss, yang dulu digunakan sebagai penanda waktu ibadah.
“Lonceng ini adalah salah satu benda paling bersejarah di gereja. Dahulu ia dibunyikan untuk memanggil jemaat, tapi kini kami rawat sebagai simbol warisan rohani,” tuturnya. Salah satu keunikan Gereja Maranatha yang mencerminkan nilai keberagaman adalah keberadaan mural kisah-kisah Alkitab di dinding luar sisi timur gereja.
“Yang membuat mural itu adalah seniman Jawa beragama Islam. Ini bentuk toleransi dan gotong royong yang indah, semua hasil sumbangan,” jelas Pdt. Mediorapano. Bersama dengan Gereja Eka Sinta dan Gereja Parapah, Maranatha menjadi bagian dari GKE Resort Sampit yang saat ini melayani sekitar 1.057 kepala keluarga atau sekitar 4.600 jiwa. Kegiatan ibadah pun berlangsung secara teratur, termasuk ibadah khusus kaum ibu di luar hari Minggu.
Semua proses pembangunan, lanjut Pdt. Mediorapano, tak lepas dari semangat gotong royong jemaat. Bahkan, dukungan perusahaan kayu seperti PT Inhutani pada masa itu turut memperlancar penyediaan bahan bangunan. Kini, Gereja Maranatha berdiri bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda sejarah kekristenan, tempat bertemunya tradisi, budaya, dan iman dalam harmoni. Di tengah perayaan Jumat Agung dan Paskah, gereja ini kembali menjadi pusat spiritualitas dan refleksi umat, tempat di mana jejak iman terus dilanjutkan dari generasi ke generasi. (*)
Editor : Indra Zakaria