Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kampanye Pemilu Israel Meresahkan Palestina dan Dunia, Ingin Caplok Sepertiga Tepi Barat

izak-Indra Zakaria • Senin, 16 September 2019 - 18:24 WIB

Benjamin Netanyahu berjanji mencaplok Lembah Jordan dan Laut Mati Utara jika kembali terpilih sebagai perdana menteri (PM) Israel. Janji itu membuat berang warga Palestina dan dunia.

 

SITI AISYAH, Jawa Pos

 

’’INI bukan hal baru.’’ Ahmed Atiyat mengatakannya sambil memandang ladang yang menghampar luas di depannya. Penduduk Ras Ain Al Auja, Lembah Jordania, Tepi Barat, Pelestina, tersebut kian resah setelah mendengar pernyataan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu Selasa (10/9). Yaitu, dia akan mencaplok Lembah Jordania dan Laut Mati Utara jika kembali terpilih sebagai PM.

Politikus yang biasa dipanggil Bibi itu memang butuh banyak dukungan agar bisa meraup banyak suara pada pemilu 17 September. Sejatinya, pemilu sudah digelar April. Partai yang digawangi Netanyahu dan lawan politiknya, Benny Gantz, sama-sama mendapat 35 di antara 120 kursi di parlemen.

Untuk bisa membentuk pemerintahan, dibutuhkan minimal 61 kursi. Netanyahu dan Gantz sama-sama tidak berhasil membentuk koalisi untuk mendapatkan jumlah kursi yang diperlukan. Pemilu ulang pun akhirnya harus kembali diadakan Selasa mendatang.

Netanyahu tak ingin kembali terjerumus pada masalah yang sama. Karena itulah, dia mengumbar janji. Harapannya, orang-orang sayap kanan dan mereka yang pro pendudukan bisa ramai-ramai memberikan dukungan untuknya.

Bibi tak peduli meski PBB dan beberapa pemimpin dunia mengecam aksinya. Toh, selama ini tidak ada sanksi yang dijatuhkan kepada Israel jika menggerogoti wilayah Palestina. Pemilu itu juga menjadi pertaruhan kemerdekaannya. Sebab, jika Gantz menang, dia tidak akan lolos dari kasus korupsi yang membelitnya.

Jika rencana Netanyahu terealisasi, Ras Ain Al Auja termasuk yang akan diambil paksa. Ada 350 keluarga yang tinggal di desa itu. Jauh sebelum pernyataan kontroversial Netanyahu muncul, sudah banyak permukiman Israel yang didirikan secara ilegal di Lembah Jordan.

’’Tanah kami sudah dicaplok dan kami hidup di bawah pendudukan Israel,’’ terang Atiyat. Pria 48 tahun itu mengungkapkan bahwa ladang kurma yang membentang di hadapannya hingga ke Laut Mati adalah milik Israel.

Penduduk Ras Ain Al Auja sudah bisa membayangkan deretan nestapa yang harus mereka hadapi. Sebab, saat ini pun Israel sudah membatasi akses air bersih. Penduduk Palestina dan lembaga HAM Israel mengungkapkan bahwa pemerintahan Netanyahu melarang penduduk Palestina tinggal di Lembah Jordan dan area lain di Tepi Barat. Akses terhadap lahan, air, dan listrik dibatasi sehingga kondisi penduduk kian sulit.

’’Secara de facto, Israel telah mencaplok Lembah Jordan,’’ terang Roi Yellim, direktur lembaga HAM B’Tselem seperti dikutip Al Jazeera. ’’Ada upaya terus-menerus yang dilakukan Israel untuk membuat kondisi kehidupan penduduk Palestina di Lembah Jordan sulit sehingga mereka meninggalkan tanahnya,’’ tambahnya.

Kota Jericho yang juga terletak di Lembah Jordan akan jadi pengecualian. Ada ribuan penduduk Palestina yang tinggal di kota itu. Jika mencaploknya, Netanyahu harus memikirkan status mereka. Kota itu kini terancam terpisah dari kota-kota Palestina lainnya di Tepi Barat.

Lembah Jordan yang ingin dikuasai Netanyahu merupakan 30 persen dari keseluruhan luas Tepi Barat. Total ada 65 ribu penduduk Palestina dan 11 ribu pemukim ilegal Israel yang tinggal di area tersebut. Wilayah itu tergolong subur dan penting bagi perekonomian Israel.

Rencana Netanyahu juga mengancam rencana pendirian negara Palestina. Sebab, bisa dipastikan Israel tidak akan mungkin mau mengembalikan wilayah yang sudah dicaploknya. Lambat tapi pasti, wilayah Palestina habis digerogoti.

Kehidupan di Lembah Jordan memang sulit. Namun, Atiyat dan ribuan penduduk Palestina lainnya sudah punya tekad bulat. Mereka tidak akan menyerahkan tanahnya. ’’Kami lebih baik mati di sini daripada diusir dari tanah kami sekali lagi,’’ tegas Atiyat. (*/c10/dos)

 

  

Jejak Takhta Netanyahu

 

- Pertama berkuasa

Netanyahu, ketua Likud Party, menjadi PM ke-27 pada periode 18 Juni 1996–6 Juli 1999.

 

- Kembali berkuasa

31 Maret 2009, Netanyahu terpilih menjadi PM untuk kali kedua.

 

- Krisis dengan Turki

31 Mei 2010, Israel menggerebek kapal-kapal kecil dari berbagai negara yang mencoba menembus blokade Gaza. Salah satunya, MV Mavi Marmara milik Turki. Sembilan aktivis Turki terbunuh. Ankara menarik duta besarnya.

 

- Pemerintahan pro-kolonisasi

18 Maret 2013, partai-partai sayap kanan dan nasionalis religius mendapatkan suara terbanyak di parlemen.

 

- Serangan ke Gaza

8 Juli 2014, Israel menyerang Gaza. Pemantiknya adalah penculikan dan pembunuhan 3 remaja Israel. Perang tak terelakkan. Sebanyak 2.251 warga Gaza dan 74 warga Israel tewas.

 

- Pemerintahan Dominan Tertinggi Sayap Kanan

2016, partai-partai ultranasionalis bergabung dengan pemerintah.

2017, pembangunan permukiman di wilayah pendudukan Palestina disetujui untuk kali pertama sejak 1991.

 

- Dukungan Presiden AS Donald Trump

6 Desember 2017, Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

 

- Bentrok di Gaza

30 Maret 2018, aksi Great March of Return dimulai. Penduduk Gaza ingin agar pengungsi Palestina diperbolehkan kembali ke tanah mereka yang kini menjadi negara Israel.

14 Mei 2018, Kedutaan Besar AS pindah ke Jerusalem. Demo menentang hal tersebut membuat lebih dari 60 penduduk Palestina tewas di sepanjang jalur Gaza.

 

- Pemilu 2019

21 Februari, partai-partai moderat bergabung melawan Netanyahu.

9 April, Netanyahu menang 35 di antara 120 kursi di parlemen. Penantangnya dari kelompok moderat, Benny Gantz, juga mendapatkan kursi sama banyak.

30 Mei, kesepakatan koalisi gagal tercapai. Parlemen memutuskan membubarkan diri dan mengadakan pemilu ulang pada 17 September.

 

Sumber: AFP

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara