Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Protes Masih Berlanjut, Polisi Masih Brutal

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 6 Juni 2020 - 19:46 WIB
Aksi protes atas kematian George Floyd di AS masih berlanjut di hari ke-10. Massa tampaknya masih tersulut emosi melihat kondisi beberapa hari terakhir. Apalagi, video dan informasi yang menunjukkan kebrutalan aparat terus bermunculan.
Aksi protes atas kematian George Floyd di AS masih berlanjut di hari ke-10. Massa tampaknya masih tersulut emosi melihat kondisi beberapa hari terakhir. Apalagi, video dan informasi yang menunjukkan kebrutalan aparat terus bermunculan.

WASHINGTON – Aksi protes atas kematian George Floyd di AS masih berlanjut di hari ke-10. Massa tampaknya masih tersulut emosi melihat kondisi beberapa hari terakhir. Apalagi, video dan informasi yang menunjukkan kebrutalan aparat terus bermunculan.

Video yang sedang panas diperbincangkan datang dari Kota Buffalo, New York. Dalam video tersebut, seorang pria kulit putih mendekati sekelompok polisi antihuru-hara yang sedang berjalan. Tak lama setelah itu, pria yang dikabarkan berusia 75 tahun tersebut didorong dua petugas dan jatuh.

Kepalanya terbentur beton trotoar. Darah pun keluar dari telinga pria tersebut. Menurut Wali Kota Buffalo Byron Brown, pria itu sedang dirawat di rumah sakit karena luka di kepala serta kemungkinan gegar otak.

’’Saya benar-benar terkejut melihat video tersebut. Apalagi, demo beberapa hari ini berjalan damai,’’ ungkap Brown seperti yang dilansir The Guardian.

Jubir Kepolisian Buffalo Jeff Rinaldo mengatakan, mereka sudah melakukan investigasi soal insiden tersebut. Dua petugas yang mendorong pria itu sudah diskors tanpa gaji.

Di New York City, polisi terekam mengusir paksa demonstran. Mereka terlihat membanting salah seorang pendemo dan mengejar yang lain. Aparat juga dikabarkan menangkap kurir yang berada di luar 27 menit setelah jam malam berlaku. Padahal, pemerintah menjamin bahwa pekerja-pekerja yang dibutuhkan jasanya, termasuk kurir, bisa tetap berada di luar meski jam malam diterapkan.

Kecaman pun datang langsung ke Gubernur New York Andrew Cuomo. Awalnya, Cuomo mengatakan bahwa aparat yang melakukan kekerasan pasti punya alasan. Beberapa jam kemudian, dia mengubah sikap setelah melihat video tersebut. ’’Benar-benar memalukan. Polisi seharusnya menegakkan, bukan menyalahgunakan hukum,’’ ungkapnya seperti dilansir CNN.

Kritik yang paling tajam tentu masih tertuju kepada Presiden AS Donald Trump. Mantan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey ikut gelombang tersebut. Dia mengatakan, perintah Trump untuk militer benar-benar bermasalah. Apalagi, Trump berkali-kali mengatakan bahwa aparat harus mendominasi demonstran.

’’Anggapan bahwa militer harus menekan protes yang sebagian besar berjalan damai sangat berbahaya,’’ ungkapnya kepada National Public Radio.

Beberapa grup advokasi HAM sudah mempersiapkan gugatan untuk Trump dan pejabat Gedung Putih lainnya. Mereka merasa bahwa aksi pemerintah membubarkan paksa massa di depan Gedung Putih agar Trump bisa berfoto di Gereja St John melanggar konstitusi.

Namun, Trump masih kukuh menyebut pendemo itu sebagai pembuat onar. Kamis (4/6), dia mengunggah sebuah surat. Surat itu ditulis John Dowd kepada mantan Menteri Pertahanan AS James Mattis. Dowd mengatakan bahwa pernyataan Mattis soal insiden pembubaran demonstran salah besar.

’’Mereka adalah teroris yang menggunakan pelajar yang sudah dipenuhi kebencian untuk membakar dan menghancurkan semuanya. Mereka tak menghormati polisi yang sedang menjaga kebijakan jam malam,’’ tulis Dowd dalam unggahan Trump.

Sementara itu, demonstran negara-negara lain juga ikut bangkit mendukung gerakan Black Lives Matter. Di Inggris, ribuan orang memenuhi London untuk menuntut solusi permasalahan rasisme di negara mereka. Wali Kota London mengizinkan aksi itu, tapi meminta pendemo tetap tenang dan taat terhadap aturan social distancing.

Berbeda dengan Australia. Otoritas tak ingin warganya ikut melakukan gerakan solidaritas Black Lives Matter. Perdana Menteri Australia Scott Morrison meminta masyarakat untuk tak mengikuti aksi tersebut. Bahkan, hakim Mahkamah Agung New South Wales Desmond Fagan sudah melarang rencana aksi besar-besaran yang dijadwalkan akhir pekan ini.

’’Sudah banyak yang harus dikorbankan untuk mengalahkan penyakit ini. Dan kunci utamanya adalah social distancing,’’ ungkapnya kepada BBC. (bil/c7/dos)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara