Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jalan Tol Balsam, Sambungan yang Tak Rata Masih Timbulkan Guncangan saat Berkendara

izak-Indra Zakaria • Rabu, 17 Juni 2020 - 21:26 WIB
Photo
Photo

Berbagai kritik dilontarkan terkait Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam). Dari tarifnya yang mahal, fasilitas yang belum memadai, sampai kondisi jalan yang tidak semulus jalan tol di Pulau Jawa.

 

SENIN (16/6) lalu, awak Kaltim Post mencoba membuktikan berbagai keluhan di tol pertama di Kalimantan itu setelah pengenaan tarif pada 14 Juni pukul 00.00 Wita.

Berkendara dari arah Samarinda, keinginan untuk memasuki tol melalui simpang Jembatan Mahkota 2 pupus. Jalan masuk ditutup. Disebut masih ada pekerjaan. Walhasil, perjalanan diteruskan melalui Simpang Pasir, Palaran.

Di mana jika dihitung dengan Google Maps, memerlukan waktu perjalanan sekitar 20 menit dengan rute sepanjang 15 kilometer. Itu dalam kondisi lalu lintas normal dari arah Jembatan Mahakam. “Cukup jauh kalau melalui Simpang Pasir,” kata Udin, warga Samarinda yang ditemui awak media sedang berhenti mengisi e-Toll di Gerbang Tol Palaran.

Memasuki Gerbang Tol Palaran, pengguna memang bisa mengisi atau top-up e-Toll. Rata-rata mereka yang mengisi di gerbang tol karena tidak mengetahui adanya pemberlakukan tarif itu. Atau tak memiliki saldo yang cukup sebesar Rp 75.500 untuk kendaraan golongan 1 agar bisa sampai Gerbang Tol Samboja.

“Tapi pengisian saldo di gerbang tol itu hanya berlaku selama 14 hari sejak pemberlakukan tarif,” kata Direktur Utama PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda (JBS) STH Saragi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Bagi yang top-up di gerbang tol, kendaraan akan dipersilakan melintasi portal terlebih dulu. Lalu diminta parkir di pinggir jalan agar tak menghalangi kendaraan di belakangnya. Proses top-up berlangsung kurang dari 5 menit. Sementara dari keterangan petugas jaga, normalnya pengendara bisa melewati pintu masuk hanya 3 detik setelah kartu ditempelkan ke mesin pembaca.

Di sisi lain, sepanjang jalan menuju gerbang tol, sejumlah banner milik masyarakat menawarkan jasa pengisian saldo e-Toll. Itu menandakan diberlakukannya tarif tol membuka usaha baru bagi warga sekitar. Yang perlu diketahui, dari informasi petugas jaga di gerbang tol, setiap pengisian minimal Rp 100 ribu, maka pengguna hanya mendapatkan saldo Rp 98 ribu. Berlaku untuk kelipatannya.

Saragi mengakui, penerapan tarif itu membuat anjlok lalu lintas di Tol Balsam. Seperti yang diberitakan sebelumnya, pada hari pertama penerapan tarif, jumlah kendaraan yang melintas hanya 1.043. Itu hasil pemantauan di sif 1, dari pukul 06.00 – 14.00 Wita.

Sedangkan di waktu yang sama pada Sabtu (13/6), ada 2.530 kendaraan yang melintas. Baik dari arah Gerbang Tol Samboja maupun dari Gerbang Tol Palaran. “Tren (penurunan) itu normal. Terjadi di APJT (Anak Perusahaan Jalan Tol) lain setelah diberlakukannya tarif,” ujarnya.

Namun diyakini, perlahan kondisi lalu lintas akan kembali normal seperti yang diperhitungkan, yakni enam bulan. Meski begitu, ada faktor lain yang menentukan kapan lalu lintas itu normal, yakni kondisi pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda akan berakhir. “Apalagi saat ini kita menghadapi pandemi dengan kebijakan pembatasannya. Jadi terjadi efek penurunan dua kali,” ungkapnya.

Kondisi saat ini disebutnya belum bisa dievaluasi. Termasuk apakah memengaruhi perhitungan sesuai dengan perubahan investasi yang sudah dibuat sebelumnya. Saragi menyebut, fokus utama pihaknya sekarang adalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan untuk di Seksi 1 dan Seksi 5 Tol Balsam. “Kami baru rapatkan. Dan Pak Menteri PUPR (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono) minta kami bisa menyelesaikan Juli (Seksi 1) dan Agustus (Seksi 5),” ujarnya.

Namun ada kendala. Sejauh ini, JBS belum bisa menyelesaikan sejumlah pekerjaan lantaran terhalang status aset. Adapun pekerjaan yang saat ini dilakukan adalah sisa pekerjaan yang tidak bisa ditalangani APBD (Seksi 1) dan APBN (Seksi 5). Dan dalam rapat teranyar, belum ada kepastian kapan aset bisa diserahkan ke pihaknya. “Nanti dari pemprov atau balai diserahkan ke Direktorat Jenderal Bina Marga. Nanti dari Bina Marga ke BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol), baru ke kami,” sebutnya.

Kembali ke perjalanan awak Kaltim Post di Tol Balsam, tepatnya di Seksi 2, 3, dan 4 yang sudah resmi dioperasikan. Selama berkendara di atas tol, sejumlah hal memang perlu diperhatikan pengguna. Salah satu yang paling penting adalah kondisi jalan. Di mana badan jalan berupa cor beton tidak terlalu mulus. “Banyak sambungan jalan yang membuat mobil berguncang,” kata Fuad Muhammad, fotografer Kaltim Post yang berada di balik kemudi.

Pengalamannya berkendara, kondisi jalan seperti itu mengandung risiko. Terutama saat kondisi jalan basah. Ban mobil bisa selip karena kekurangan cengkeraman pada permukaan jalan. Membahayakan keselamatan saat pengemudi kehilangan kendali. “Di sejumlah sambungan jalan ke jembatan juga tergolong tinggi. Dan guncangannya lebih terasa,” sebut pria yang sebelumnya sering berkendara di Tol Cipularang, Jawa Barat itu.

Karena itu, Tol Balsam hanya menerapkan batas kecepatan maksimal 80 km per jam dan minimal 60 km/jam. Namun, aturan itu banyak tidak dipedulikan pengguna. Dari pantauan media ini, kecepatan maksimum kerap diterobos kendaraan golongan 1 hingga 120 km per jam.

“Soalnya pengemudi kadang tidak sadar karena kondisi jalan yang lengang dengan sudut pandang yang luas, jadi kaki lebih dalam menginjak gas,” sebutnya yang juga mengalami hal serupa.

Berkendara di jalan tol juga perlu mempertimbangkan kondisi kendaraan. Terutama ban. Karena sepanjang perjalanan, awak media menemukan tiga kasus kendaraan mengalami pecah ban. Dan terpaksa menepi dan menunggu bantuan dari petugas tol.

Informasi nomor layanan bantuan petugas bisa dilihat di gerbang tol. Selain itu, setiap 15 menit, biasanya patroli petugas juga akan tampak menyisir jalan. Untuk layanan derek pun disiapkan dan tak dipungut biaya alias gratis. Sementara untuk korban kecelakaan, juga disiapkan ambulans.

“Menurut saya, memang dari sisi harga lebih mahal jika dibandingkan dengan di Jawa. Apalagi jika berkendara dari Samarinda ke Balikpapan belum ada rest area-nya,” ungkap Fuad. Untuk rest area dari arah Samarinda itu, disebut Saragi akan dirampungkan Juli mendatang. (rdh/rom/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#samarinda #tol samarinda-balikpapan