“Permintaan komoditas utama ekspor Kaltim seperti batu bara, LNG dan CPO (crude palm oil) mulai stabil seiring kebutuhan industri dan konsumsi yang meningkat di negara tujuan utama ekspor”.
Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim Tutuk SH Cahyono
Perekonomian Kaltim diprediksi tumbuh lebih baik pada triwulan III. Pemicunya adalah pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat dan kegiatan lapangan usaha yang mulai kembali berjalan.
SAMARINDA – Tak hanya aktivitas masyarakat yang mulai berangsur normal, kinerja ekspor juga sudah menunjukkan tren membaik dan mulai mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ini setelah negara-negara tujuan utama ekspor seperti Tiongkok, India, dan negara Asia lainnya mampu meredam penyebaran virus corona dan meningkatkan permintaan komoditas andalan Bumi Etam.
“Permintaan komoditas utama ekspor Kaltim seperti batu bara, LNG dan CPO (crude palm oil) mulai stabil seiring kebutuhan industri dan konsumsi yang meningkat di negara tujuan utama ekspor,” jelas Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono, Selasa (21/7).
Selain itu, perbaikan juga bersumber dari berlangsungnya proyek-proyek yang sempat tertunda karena adanya pembatasan aktivitas. Sehingga mampu mendorong kinerja investasi. Kebijakan new normal yang ditempuh oleh pemerintah juga memberi dampak positif terhadap konsumsi masyarakat maupun kapasitas fiskal pemerintah setelah pada triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan terbatas.
Dari sisi lapangan usaha, perekonomian Kaltim pada triwulan III 2020 akan ditopang oleh kinerja sektor pertambangan dan industri pengolahan yang akan mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sektor pertambangan, permintaan dunia yang diperkirakan mulai pulih pasca mewabahnya Covid-19 menjadi faktor utama peningkatan produksi pertambangan batu bara.
“Sementara itu, faktor cuaca juga lebih kondusif dibandingkan semester I 2020. Ini akan mendorong kenaikan produksi batu bara,” katanya. Namun demikian, kinerja sektor pertambangan bisa tertahan oleh tren penurunan harga komoditas di pasar internasional.
Di sektor industri pengolahan, kenaikan permintaan CPO baik domestik maupun luar negeri ikut meningkatkan kinerja industri pengolahan Kaltim. Kenaikan permintaan domestik didorong oleh implementasi kebijakan B30 (pencampuran solar dengan biodiesel 30 persen), sementara kenaikan permintaan di luar negeri didorong konsumsi dunia yang akan mengalami perbaikan.
“Kenaikan kinerja di sektor pertambangan dan industri pengolahan ini pada akhirnya juga dapat mendorong kinerja sektor-sektor lainnya yang terkait di Kaltim,” tuturnya.
Berdasarkan assessment terhadap indikator makroekonomi terkini, serta memperkirakan risiko yang bersumber dari internal dan eksternal, perekonomian Kaltim 2020 diperkirakan tumbuh pada rentang minus 0,26 sampai 0,26 persen (year on year/yoy). Lebih baik dibandingkan daerah lain.
Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Dayang Donna Faroek mengatakan, new normal membuat banyak tempat usaha yang sempat tutup menjadi beroperasi kembali. Kondisi ini bisa membuat ekonomi berjalan kembali. Bisnis mulai berjalan, daya beli kembali meningkat, perekonomian di semester dua tahun ini diyakini tumbuh lebih tinggi.
“Kita berharap demikian, walaupun tidak mungkin ekonomi bisa langsung kembali seperti sebelum Covid-19,” jelasnya. Pihaknya berharap ekonomi tidak mengalami kemunduran atau stagnasi. Untuk itu, para pelaku usaha harus beradaptasi dengan situasi Covid-19. Sehingga ekonomi tetap jalan, tanpa meninggalkan protokol kesehatan.
“Selain pelaku usaha, konsumen juga harus mengikuti penerapan protokol kesehatan. Agar ekonomi bisa bergerak tanpa meningkatkan kasus Covid-19,” pungkasnya.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut perekonomian Indonesia mulai pulih. Terdapat tanda-tanda yang menjadi bukti bahwa ekonomi nasional telah bangkit dari dampak pandemi Covid-19 yang melumpuhkan aktivitas bisnis.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut indikator pertama pemulihan terlihat dari membaiknya kinerja sektor industri makanan dan minuman. Sektor ini menunjukkan perbaikan dari level negatif ke level positif. “Industri makanan minum cukup solid. Mei terpuruk (minus 50 persen) dan Juni sudah kembali (10 persen),” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (20/7).
Indikator kedua, terlihat dari kinerja sektor perdagangan eceran yang membaik mendekati ke level nol persen pada bulan Juni 2020. Pada Mei 2020, kinerja sektor ini terkontraksi 40 persen. Indikator ketiga, terlihat pada pertumbuhan sektor perdagangan besar. “Dari Mei negatif di atas 30, sekarang sudah single digit,” pungkasnya. (ctr/ndu2/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria