BALIKPAPAN–Pilihan sekolah tinggi di Kaltim semakin beragam jika rencana kampus bereputasi dunia membuka cabang di IKN terealisasi. Rencana itu sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini memilih untuk mengirimkan anaknya berkuliah di luar negeri. Karena menginginkan anaknya mendapat pendidikan berstandar internasional.
Ditemui Kaltim Post, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menuturkan, banyak keuntungan apabila ekspansi kampus asing terwujud. “Kalau kita sekolahnya di sini, berarti jadi lebih murah. Dibanding mengirim anak ke luar negeri, dong,” ucapnya. Anggota DPR RI dapil Kaltim ini juga mengamini, bahwa masih banyak, bahkan jumlahnya mencapai ribuan orang Indonesia yang memilih berkuliah di luar negeri. Terutama ke negara-negara yang memiliki perguruan tinggi berskala internasional, seperti Inggris, Australia, dan terdekat adalah Singapura. Bahkan Hetifah pun menguliahkan kedua anaknya di Inggris.
“Kalau misalnya (perguruan tinggi internasional) dibuat di sini, dosennya ‘kan bisa orang Indonesia. Terus anak Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang berstandar internasional,” kata perempuan kelahiran Bandung 30 Oktober 1964 ini.
Akan tetapi, menurut politikus Partai Golkar ini, rencana kedatangan kampus asing yang ingin membuka cabang di Indonesia, jangan dianggap menjadi hal negatif. Biar menjadi persaingan positif bagi perguruan tinggi dalam negeri.
Karena itu, Hetifah menekankan hal ini sangat bergantung dengan cara memandang rencana masuknya kampus asing ke Indonesia. “Masyarakat akan senang jika sekolah internasional yang terjangkau harganya ada di sini. Sebenarnya kita senang aja. Mungkin ada beberapa orang yang merasa khawatir kalah bersaing dengan kampus berstandar internasional,” ucapnya. Pihaknya pun akan mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk membuat aturan khusus bagi perguruan tinggi internasional di Indonesia.
“Bukannya kita tidak percaya pada perguruan tinggi lokal. Justru kita support supaya tidak kalah dari perguruan tinggi asing. Jadi bisa bersaing secara positif. Apalagi sekarang banyak orang luar Kaltim, yang mendaftar di perguruan tinggi yang ada di Kaltim. Makanya kita masih butuh banyak perguruan tinggi. Bahkan di IKN (Ibu Kota Nusantara) ada perguruan tinggi luar Kaltim mau buat perguruan tinggi di sana,” sebutnya.
Diwartakan sebelumnya, saat ini sudah ada tujuh kampus top dunia yang antre membuka cabang di Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Kelembagaan Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek Lukman. Kampus top dunia itu adalah Deakin University (Australia), Lancaster University (Inggris), Western Sydney University (Australia), King’s Collage London (Inggris), Georgetown University (Amerika Serikat),
Curtin University (Australia), dan Manchester University (Inggris).
Lukman lantas menjelaskan alasan dibukanya akses kampus-kampus asing itu masuk ke Indonesia. Di antaranya, ada kecenderungan orang Indonesia yang kuliah di negara tetangga ternyata juga mengambil kampus asing di negara yang bersangkutan.
’’Kalau lihat 44 ribu mahasiswa (Indonesia) di Malaysia, bukan kuliah di (perguruan tinggi) Malaysia,’’ katanya. Tetapi kuliah di kampus-kampus ternama dari negara lain yang membuka kampus di Malaysia. Misalnya, kuliah di Curtin University cabang Malaysia. Begitu pun mahasiswa Indonesia yang kuliah di Singapura. Banyak yang mengambil studi di kampus asing di sana. Mempertimbangkan fenomena tersebut, akhirnya muncul pemikiran, kenapa kampus-kampus asing itu tidak sekalian dipersilakan membuka cabang di Indonesia. Dengan begitu, masyarakat Indonesia bisa mengakses kuliah di kampus ternama, tetapi dengan biaya yang lebih hemat. Sebab, mereka tidak perlu tinggal di Singapura atau Malaysia.
’’Jadi membayar lebih terjangkau, tetapi ijazahnya diterima di mana pun,’’ tuturnya. (riz/k8)
RIKIP AGUSTANI
ikkifarikikki@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria