Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Perundungan Digital Bisa Berbahaya Bagi Remaja, Ini Penjelasan Psikolog

Siti Sulbiyah Kurniasih • Kamis, 17 April 2025 - 17:30 WIB
Ilustrasi perundungan digital.
Ilustrasi perundungan digital.

Ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak dan remaja. Namun, di balik kemudahan berbagi dan berinteraksi, tersembunyi sisi gelap yang kerap luput dari perhatian, yakni cyberbullying. Perilaku ini bisa terjadi tanpa batas waktu dan tempat.

Oleh: Siti Sulbiyah

Serial terbaru Netflix berjudul Adolescence, yang tayang perdana pada 13 Maret 2025, berhasil mencuri perhatian penonton global berkat pendekatan sinematiknya yang kuat serta penggambaran tema sosial yang mendalam, termasuk isu sensitif seperti cyberbullying.

Serial ini mengangkat kisah tragis Jamie Miller, seorang remaja yang membunuh teman sekelasnya, Katie Leonard, setelah menjadi korban perundungan dunia maya. Diceritakan, Katie dan sejumlah teman sekelas sering mengejek Jamie lewat media sosial menggunakan kode emoji dan bahasa sandi. Meskipun terlihat seperti candaan sepele, ejekan tersebut memberi dampak psikologis serius bagi Jamie, hingga akhirnya berujung pada tragedi.

Cerita ini menjadi refleksi nyata bagaimana dunia digital, jika tidak digunakan secara bijak, dapat menjadi ruang kekerasan yang merusak mental, khususnya bagi anak dan remaja.

Terkait kemungkinan korban melakukan aksi balas dendam seperti yang digambarkan dalam Adolescence, Wakil Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kalimantan Barat, Sarah, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa hal tersebut bersifat sangat kasuistik. Menurutnya, tidak semua korban memiliki respons yang sama.

“Orang-orang yang sudah menjadi korban, sedikit sekali yang bisa bangkit sampai pada tindakan balas dendam. Kalaupun bangkit, itu bukan menyelesaikan masalah,” tuturnya.

Balas dendam semacam ini menurutnya Justru bisa menjadikan mereka pelaku baru, baik terhadap orang yang merundung maupun terhadap orang lain yang tak terkait. Korban dalam hal ini menjadi pelaku kedua perundungan bagi orang lain sebagai pelampiasan.

Ia menekankan pentingnya mencegah agar korban tidak menjadi pelaku kedua. Hal ini penting dipahami karena aksi kekerasan balasan hanya memperpanjang rantai kekerasan yang ada.

Alumnus Magister Profesi Psikolog UGM tersebut mengatakan perundungan adalah tindakan agresif yang merendahkan seseorang, di mana terdapat ketimpangan relasi. “Artinya, pelaku dianggap memiliki posisi lebih tinggi dari korban,” jelasnya.

Sarah juga menambahkan bahwa dalam kasus perundungan, meskipun pelaku terdiri dari kelompok, biasanya terdapat satu sosok dominan sebagai pemimpin, sementara yang lain berperan sebagai pengikut atau pendukung.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa cyberbullying merupakan bentuk perundungan yang dilakukan di ruang digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, dan platform online lainnya.

Dampak cyberbullying terhadap korban sangat kompleks, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Sarah mengatakan korban bisa merasa tertekan, tidak nyaman, hingga mengalami penurunan motivasi. Dalam jangka panjang, cyberbullying bisa menimbulkan kecemasan berlebih, bahkan depresi.

“Jika tidak tertangani, kecemasan itu bisa menurunkan imunitas tubuh. Akhirnya mereka jadi lebih mudah sakit, kena hujan sedikit langsung flu, sedikit-sedikit demam,” tuturnya.

Lebih serius lagi, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi. Tanda-tanda depresi yang umum pada anak dan remaja, menurut Sarah, bisa muncul dalam bentuk perubahan perilaku yang drastis. Misalnya, anak yang biasanya ceria mendadak menjadi pendiam, menarik diri, atau sebaliknya menjadi terlalu berlebihan dalam berbicara.

Dalam kondisi tertentu, dalam kasus tertentu, bisa berujung pada ide bunuh diri. Meski ide bunuh diri bisa dicegah, ia menegaskan pentingnya dukungan sosial dan emosional dari lingkungan sekitar sebagai faktor protektif utama.

Menurutnya, tidak ada perbedaan dampak yang signifikan bagi korban perundungan konvensional dengan daring. Hanya saja kemungkinan, korban perundungan daring saat bertemu langsung dengan pelaku di dunia nyata, tekanan yang bisa jadi dirasakan menjadi dua kali lipat. “Besar dampaknya seperti efek combo,” ungkapnya.

Walau begitu, Sarah mengungkapkan bahwa tanda-tanda seseorang mengalami cyberbullying sering kali tidak langsung terlihat. Biasanya baru terlihat saat sudah masuk fase pertengahan.

“Baru notice terasa berubah mungkin sudah dalam keadaan cemas, depresi, menarik diri. Padahal mungking durasi dia menjadi korban sudah beberapa bulan,” ujarnya.

Tidak sedikit korban juga cenderung menutup diri dan menolak bantuan. Bahkan jika seseorang mencoba mendekat, mereka bisa bersikap seolah-olah tidak ada masalah, padahal sebenarnya belum menyelesaikan akar persoalan.**

 

Editor : Indra Zakaria