Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Panduan Bertahan Hidup 7 Hari Tanpa Listrik: Mengubah Panik Menjadi Aksi Terukur

Redaksi Prokal • 2026-01-19 07:45:00
Ilustrasi mati lampu. (AI)
Ilustrasi mati lampu. (AI)

 

PROKAL.CO- Gangguan listrik skala besar atau pemadaman dalam durasi panjang sering kali datang tanpa peringatan dan berdampak luas pada aktivitas sehari-hari. Menanggapi potensi kerawanan tersebut, mantan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol (Purn) Dharma Pongrekun, memberikan imbauan serius mengenai pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.

Menurut Pongrekun, kesadaran mandiri merupakan pondasi utama ketahanan nasional. Ia menekankan bahwa setiap keluarga idealnya memiliki persiapan matang sebelum bantuan dari pihak luar atau pemerintah menjangkau wilayah terdampak secara penuh.

Strategi Tujuh Hari Pertama

Dalam arahannya, Pongrekun menyarankan setiap rumah tangga untuk menyiapkan panic kit atau perlengkapan darurat yang mampu menopang kebutuhan dasar selama tujuh hari pertama masa krisis. Periode satu minggu ini dinilai sebagai fase paling krusial ketika akses terhadap layanan publik mungkin terhenti akibat bencana alam, gangguan keamanan, maupun krisis energi.

Beberapa komponen utama yang wajib ada dalam panic kit tersebut meliputi:

Persediaan makanan tahan lama (bahan pangan kaleng atau instan).

Obat-obatan pribadi dan kotak P3K.

Alat penerangan berupa senter dengan baterai cadangan.

Alat komunikasi serta pengisi daya portabel (power bank).

Cadangan air bersih untuk konsumsi.

Senada dengan hal tersebut, pakar kesiapsiagaan darurat internasional, Aton Edwards, menggarisbawahi bahwa persiapan yang matang adalah kunci untuk mengubah rasa takut menjadi tindakan yang efektif. Dalam panduannya, Edwards menjelaskan bahwa menghadapi situasi kritis seperti mati listrik panjang memerlukan kombinasi antara perencanaan, pengetahuan, dan pelatihan.

Dengan memiliki strategi yang terukur, masyarakat diharapkan tidak memberikan respons berdasarkan kepanikan, melainkan berdasarkan prosedur keselamatan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Pesan utama yang ingin disampaikan oleh Dharma Pongrekun adalah agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada listrik atau layanan publik saat kondisi darurat terjadi. Kemampuan untuk bertahan hidup secara mandiri di tingkat keluarga dan komunitas akan memperkuat ketahanan wilayah secara kolektif.

Melalui kolaborasi antara kesadaran individu dan edukasi bersama keluarga, masa-masa sulit akibat pemadaman listrik panjang diharapkan dapat dilalui dengan risiko yang minimal. Persiapan ini bukan sekadar tindakan preventif, melainkan bentuk investasi keselamatan bagi setiap warga negara. (*)

Editor : Indra Zakaria