LONDON - Kesalahan strategi yang dilakukan tim Mercedes pada GP Singapura pekan lalu (22/9) sempat membuat Lewis Hamilton frustrasi. Dalam komunikasi radio, juara dunia F1 tujuh kali itu bahkan sempat berseloroh strategi tim yang salah itu telah “membunuhnya” di balapan tersebut.
Namun, pebalap 39 tahun itu kemarin akhirnya buka suara. Dia menyebut hubungannya dengan tim baik-baik saja. Menurut Hamilton, ketegangan di Singapura adalah hal biasa. Kerap terjadi pada momen-momen genting saat balapan.
“Banyak perbincangan tentang apa yang terjadi di Singapura. Seperti hubungan kerja sama lainnya, selalu ada momen-momen buruk untuk mendapatkan momen-momen terbaik,'' beber Hamilton. ''Kami tidak pernah takut menghadapi situasi seperti itu. Itu juga sebabnya kami telah menggapai banyak hal selama kemitraan ini,'' ucap Hamilton dilansir Crash.
Pada balapan di Sirkuit Marina Bay itu, Mercedes memutuskan menggunakan ban soft di awal balapan untuk Hamilton. Sialnya, keputusan itu blunder karena membuat Hamilton harus masuk pit stop lebih awal. Pebalap yang musim depan pindah ke Ferrari itu akhirnya harus puas hanya finis di posisi keenam. Padahal, dia start dari posisi ketiga.
Team Principal Mercedes Toto Wolff sudah mengakui timnya salah menerapkan strategi untuk Hamilton saat itu. Hamilton sendiri mengatakan keputusan itu memang sudah atas persetujuannya. “Kami salah melakukan perhitungan,” ucap Wolff.
Sementara itu, analis F1 yang juga mantan pembalap F1 David Coulthard mengaku heran dengan kemarahan Hamilton. Menurutnya, jika menggunakan ban soft di awal balapan memang sudah seharusnya bakal masuk pit stop lebih awal.
“Saya heran kenapa dia marah. Mungkin itu karena ada yang salah saat pengambilan keputusan. Jika keluar dengan soft, jelas kamu akan masuk pit lebih awal,” ucap Coulthard dilansir Crash. (irr/ady/jpg/er)
Editor : Indra Zakaria