Di balik tragedi tenggelamnya KMP Muchlisa di Teluk Balikpapan, Senin (5/5) lalu, publik dikejutkan oleh kisah seorang perempuan muda yang luar biasa: Khayu Mutiara Purwati, perwira pelayaran yang menjabat sebagai Mualim 1—jabatan tertinggi kedua di atas kapal setelah nakhoda.
Usianya baru 22 tahun. Namun dedikasinya pada dunia pelayaran telah membawanya ke posisi yang jarang ditempati perempuan, apalagi seusianya. Khayu adalah lulusan SMK Wisuda Karya Kudus, berasal dari keluarga sederhana di Kelurahan Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Dedikasi di Tengah Gelombang
Sebagai Mualim 1 di atas kapal milik PT Sadena Mitra Bahari itu, Khayu memiliki tanggung jawab besar—mengatur navigasi, memastikan alat keselamatan berfungsi, memimpin awak dek, dan bahkan siap mengambil alih komando jika kapten tidak bisa bertugas. Posisinya vital. Dan ia mengembannya dengan penuh tanggung jawab dan semangat.
Namun takdir berkata lain. KMP Muchlisa tenggelam di perairan Penajam Paser Utara, membawa 44 orang di dalamnya. Dari jumlah itu, 42 orang berhasil selamat, dua meninggal dunia. Salah satunya adalah Khayu. Ia ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Rabu (7/5) pagi, dalam kondisi meninggal dunia di ruang dekat cardeck, pada kedalaman 12 meter.
Tangis dan Kehilangan
Kehilangan Khayu meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga dunia pelayaran Indonesia. Sang ibu, yang sudah berada di Balikpapan sejak hari kedua pencarian bersama keluarga besar, tak kuasa menahan tangis saat jenazah putrinya diangkat dari laut. Mereka hanya berharap satu hal: Khayu pulang dalam keadaan utuh. Doa itu dikabulkan.
Perempuan Pelaut, Simbol Keteguhan
Khayu adalah simbol semangat perempuan Indonesia yang menembus batas profesi yang didominasi pria. Ia membuktikan bahwa laut bukan milik laki-laki saja—perempuan pun bisa berdiri di jembatan komando kapal, mengatur haluan, dan bertanggung jawab atas keselamatan kru dan penumpang.
Menurut rekan-rekannya, Khayu dikenal sebagai sosok yang ramah, pekerja keras, dan penuh dedikasi. Di balik wajah ceria, ia memiliki mental baja. Meski terpisah dari keluarga, hidup jauh di tengah lautan, ia tetap menjalani tugasnya dengan senyum dan semangat.
Inspirasi yang Tak Tenggelam
Khayu bukan sekadar awak kapal. Ia adalah pahlawan keluarga, teladan bagi generasi muda, dan bukti nyata bahwa mimpi besar bisa diraih dengan kerja keras. Tragedi ini mungkin mengakhiri pelayarannya, tetapi semangatnya akan terus berlayar, menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia yang ingin menaklukkan dunia maritim.
Selamat jalan, Khayu Mutiara Purwati. Namamu akan terus terukir di gelombang laut Indonesia. Laut bukan akhir—tapi awal dari abadi dikenang.(arif fadillah)
Editor : Indra Zakaria