PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), terus berupaya menghidupkan sektor pariwisata di kawasan pesisir selatan.
Salah satunya melalui pengembangan wisata di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, yang dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi penyangga di jalur wisata menuju Bidukbiduk.
Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, melalui Staf Bidang Pengembangan Pariwisata, Andi Nursyamsi, mengatakan perjalanan dari Kota Tanjung Redeb, Ibu Kota Berau, menuju Bidukbiduk membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.
Dalam rentang waktu itu, dinilai perlu adanya titik-titik wisata yang bisa disinggahi wisatawan agar perjalanan wisatawan di Berau semakin terasa berwarna. Tujuannya bukan hanya untuk menarik kunjungan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal di sepanjang jalur tersebut.
Seperti di Kecamatan Talisayan memiliki beberapa titik wisata yang bisa dimaksimalkan. Salah satunya Taman Wisata Dumaring. Meskipun dikelola swasta, tetap menjadi bagian dari ekosistem wisata di daerah.
"Selain itu ada juga kawasan Mangrove Dumaring yang potensinya besar, baik secara lingkungan maupun pariwisata,” ujarnya.
Mangrove Dumaring saat ini sedang dikembangkan dengan konsep unik, yakni bertema bajak laut. Konsep tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pihak kampung dan Disbudpar.
Rencananya, kawasan itu juga akan disiapkan sebagai rest area bagi wisatawan yang melintas atau hendak menuju destinasi utama di ujung selatan Berau.
"Diwacanakan bisa jadi rest area. Kami juga ada rencana akan membenahi fasilitasnya agar lebih menarik," ungkapnya.
Meski begitu, pengembangan destinasi di kawasan Dumaring masih berada pada tahap perencanaan dan pematangan konsep. Disbudpar masih menyesuaikan kebutuhan dan potensi yang ada agar pengembangan tidak terkesan dipaksakan, serta bisa berjalan berkelanjutan.
Saat ini, salah satu daya tarik wisata di Kecamatan Talisayan adalah keberadaan hiu tutul yang biasa terlihat di sekitar dermaga nelayan. Namun, pihaknya menilai lokasi tersebut belum mencerminkan tempat wisata yang layak untuk dikunjungi.
Kalau memungkinkan, pihaknya ingin bangun dermaga wisata khusus. Sehingga, wisatawan tidak lagi ke area nelayan, tapi punya tempat sendiri untuk melihat hiu tutul.
"Itu jauh dari kesan layak. Makanya di Dumaring ini kalau memungkinkan kita bisa bangun dermaga wisata kecil," katanya.
Kemudian destinasi wisiata yang ada bisa disambungkan ke kawasan mangrove atau taman wisata sungai. Mereka bisa saling menopang.
Strategi ini diharapkan bisa menghidupkan kawasan pesisir sebagai destinasi terpadu. Dengan saling terhubungnya beberapa titik wisata di Talisayan dan sekitarnya, maka peluang hidup dan berkembangnya sektor pariwisata di wilayah itu akan semakin besar.
“Kalau tidak saling mendukung, akan susah untuk pengelolaannya. Jadi pengembangan ini kami arahkan agar antar destinasi bisa memberi manfaat satu sama lain,” jelasnya.
Apalagi, tahun ini Kampung Dumaring berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih posisi kedua dalam ajang Lomba Desa, Kampung, dan Kelurahan Tingkat Provinsi Kaltim. Dumaring menonjolkan sektor pariwisata Taman Sungai Dumaring, yang beberapa tahun lalu diresmikan langsung oleh Gubernur Kaltim periode 2018–2023, Isran Noor.
Sebelumnya, diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Kelembagaan dan Sosial Budaya Masyarakat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Muhammad Safari, prestasi ini diraih berkat pengembangan sektor unggulan yang dikelola secara konsisten oleh pemerintah kampung dan masyarakat setempat.
“Dumaring unggul di beberapa sektor yang menjadi fokus pengembangannya,” ujar Safari. Dumaring hanya berada satu tingkat di bawah Desa Padang Jaya, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser yang keluar sebagai juara pertama.
Selain pariwisata, sektor peternakan dan pertanian juga menjadi daya tarik tersendiri. Kampung Dumaring mengembangkan peternakan kambing etawa, sapi, hingga ayam petelur.
Di bidang pertanian, masyarakat mengembangkan komoditas jagung, produksi pakan ternak, serta hasil olahan seperti gula aren dan madu kelulut.
Tidak hanya itu, pengembangan sektor kriya juga menjadi nilai tambah. Masyarakat setempat memproduksi batik dan kerajinan tangan dari limbah kayu ulin, sebagai bentuk kreativitas dan pemanfaatan potensi lokal. (aja/far)
Editor : Faroq Zamzami