Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Berau "Meledak"! 21 Ribu Wisatawan Serbu Destinasi Unggulan, Labuan Cermin Jadi Primadona

Redaksi Prokal • Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:15 WIB

RAMAI KUNJUNGAN: Lonjakan kunjungan wisatawan di salah satu objek wisata di Berau. (IZZA/BP)
RAMAI KUNJUNGAN: Lonjakan kunjungan wisatawan di salah satu objek wisata di Berau. (IZZA/BP)

 

TANJUNG REDEB – Sektor pariwisata Kabupaten Berau benar-benar menunjukkan taringnya. Hanya dalam kurun waktu enam hari, terhitung sejak 20 hingga 25 Maret 2026, Bumi Batiwakkal "diserbu" oleh 21.335 wisatawan. Angka fantastis ini tidak hanya melampaui target pemerintah daerah, tetapi juga memecahkan rekor kunjungan di beberapa titik hidden gem di pesisir selatan.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian yang berada di luar ekspektasi tersebut. "Alhamdulillah, apa yang kita harapkan tercapai, bahkan di luar ekspektasi," ujarnya, Sabtu (28/3).

Berdasarkan data Sistem Informasi Destinasi Wisata Berau (Sidewi), konsentrasi massa terbesar tersebar di empat destinasi utama: Air Panas Asin Pemapak, Tulung Ni Lenggo, Mangrove Tanjung Batu, dan si jernih dua rasa, Labuan Cermin.

Samsiah mengakui bahwa lonjakan ini merupakan buah manis dari promosi digital yang masif. Konten-konten visual yang estetik dari para influencer dan media massa di platform sosial media terbukti ampuh memancing rasa penasaran publik hingga viral.

“Rekan-rekan media dan influencer sangat membantu promosi. Banyak konten mereka yang viral, terutama saat menampilkan destinasi unggulan kita,” jelas Samsiah.

Selain faktor "fyp" di media sosial, perbaikan infrastruktur menjadi pahlawan di balik layar. Dibukanya jalur penghubung baru dari Kutai Timur melalui Jembatan Nibung telah memangkas waktu tempuh secara signifikan. Wisatawan kini tidak lagi terbebani oleh perjalanan panjang yang melelahkan.

Hal ini diakui oleh Nizar, salah seorang pelancong yang ditemui di kawasan Biduk-Biduk. Meski jaraknya jauh dari pusat kota, kualitas jalan yang mumpuni membuatnya tetap antusias. “Jalannya sudah bagus, walaupun jauh tetap rela ditempuh. Sekarang sering lihat di media sosial, jadi makin banyak yang datang ke sini,” ungkapnya.

Lonjakan ini bak pisau bermata dua. Di satu sisi, industri perhotelan dan penginapan di Berau sempat kewalahan hingga mencapai tingkat hunian 100 persen. Sebagian wisatawan pun terpaksa harus memutar otak mencari alternatif tempat menginap.

Namun, kondisi "laku keras" ini justru menjadi berkah bagi warga lokal. Rumah-rumah warga mendadak beralih fungsi menjadi homestay, menciptakan peluang ekonomi langsung bagi masyarakat pedesaan.

“Sebagian wisatawan harus mencari alternatif tempat menginap. Ke depan, kita berharap pertumbuhan ini diimbangi dengan kesiapan fasilitas dan pengelolaan destinasi yang lebih optimal agar pengalaman wisatawan tetap terjaga,” pungkas Samsiah. (*)

Editor : Indra Zakaria