International Monetary Fund (IMF) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di ASEAN. Dibandingkan dengan negara tetangga lainnya, seperti Malaysia dan Singapura, jumlah pengangguran di Indonesia sangat tinggi.
Dalam proyeksinya, IMF menyebut tingkat pengangguran Indonesia akan naik menjadi 5 persen pada 2025, dari sebelumnya 4,9 pada tahun 2024. Jumlah itu meningkat menjadi 5,1 persen pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi IMF terhadap negara lainnya di ASEAN, seperti Thailand yang diproyeksi sebesar 1 persen pada 2025-2026 atau tidak berubah dengan angka pengangguran di tahun 2024.
Kemudian, tingkat pengangguran di Vietnam diproyeksikan turun menjadi 2 persen pada 2025-2026, dibandingkan dengan 2,2 persen pada 2024.
Sedangkan tingkat pengangguran Malaysia berada di level 3,2 persen pada 2025 dan 2026 atau stagnan sejak 2024. Terakhir, IMF memproyeksikan tingkat pengangguran Filipina naik ke level 4,5 persen pada 2025 dan 2026, naik dibandingkan dengan 3,8 persen pada 2024.
Angka Pengangguran Indonesia Terbaru
Sementara itu, berdasarkan data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) angka pengangguran di Indonesia naik menjadi 7,28 juta orang per Februari 2025. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan angka pengangguran itu tercatat naik 1,11 persen secara tahunan atau ada kenaikan sebanyak 83.450 orang dibandingkan dengan angka pengangguran per Februari 2024.
"Jumlah orang yang menganggur sebanyak 7,28 juta orang dan dibandingkan dengan Februari 2024, jumlah pengangguran meningkat sebanyak sekitar 0,08 juta orang atau sekitar 83.000 orang, naik kira-kira 1,11 persen," kata Amalia, dikutip Selasa (13/5).
Lebih lanjut dia membeberkan, jumlah pengangguran tersebut merupakan 4,76 persen dari total jumlah angkatan kerja di pasar tenaga kerja Indonesia yang mencapai 153,05 juta orang.
Tak hanya ada penambahan jumlah pengangguran, pada Februari 2025 juga, BPS mencatat kenaikan jumlah angkatan kerja. Itu terjadi seiring dengan bertambahnya lulusan sekolah yang siap kerja.
Menurut dia, angkatan kerja baru per Februari 2025 bertambah menjadi 3,67 juta orang bila dibandingkan dengan tahun 2024. Peningkatan ini salah satunya dipengaruhi oleh bertambahnya angkatan kerja yang berasal dari ibu rumah tangga yang kembali bekerja.
"Dari angkatan kerja ini sebanyak 145,77 juta sudah bekerja, di dalamnya sudah termasuk tambahan orang bekerja sebanyak 3,59 juta. Jadi untuk kondisi Februari 2025 ada tambahan jumlah angkatan kerja sebanyak 3,67 juta orang dan juga ada tambahan orang yang bekerja sebesar 3,59 juta orang," beber Amalia.
"Sementara yang belum mendapatkan pekerjaan atau dengan kata lain menganggur di pasar kerja itu jumlahnya adalah 7,28 juta orang dan mendapat tambahan jumlah kira-kira sebanyak 83.450 orang," pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria