TANJUNG SELOR – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) membuka lembaran tahun 2026 dengan catatan kurang menggembirakan. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, nilai ekspor yang melalui pelabuhan di wilayah Bumi Benuanta pada Januari 2026 tercatat sebesar USD 82,50 juta. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 25,01 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (Januari 2025) yang sempat menyentuh USD 110,01 juta.
Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menjelaskan bahwa melemahnya performa ekspor ini dipicu oleh merosotnya angka ekspor nonmigas di hampir seluruh sektor utama. Sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kaltara pun tak luput dari tren negatif, dengan nilai USD 54,53 juta atau turun 23,38 persen. Namun, kejutan paling pahit datang dari sektor pertanian yang mengalami terjun bebas sebesar 76,14 persen, hanya menyisakan nilai USD 0,89 juta di awal tahun ini.
“Penurunan ekspor Januari 2026 ini terutama disebabkan oleh turunnya ekspor nonmigas sebesar 25,71 persen. Di sisi lain, ekspor hasil industri juga terkoreksi 25,10 persen menjadi USD 26,31 juta,” ujar Mustaqim baru-baru ini. Meski sektor-sektor utama melesu, ekspor migas justru muncul sebagai titik terang kecil dengan mencatatkan nilai USD 0,77 juta, setelah pada Januari tahun lalu tidak tercatat adanya aktivitas ekspor di sektor tersebut.
Dinamika ini juga memperlihatkan ketergantungan Kaltara pada pelabuhan di luar provinsi. Tercatat nilai ekspor sebesar USD 12,35 juta dilakukan melalui jalur luar daerah, dengan Jawa Timur sebagai mitra transit terbesar senilai USD 11,75 juta. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar bagi perdagangan luar negeri Kaltara di awal tahun, sekaligus menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi strategi penguatan sektor pertanian dan industri agar kembali kompetitif di pasar global.(*)
Editor : Indra Zakaria