Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dolar AS Tembus Rp17.000, Bank Indonesia Siapkan Intervensi Redam Gejolak Ekonomi

Redaksi Prokal • Rabu, 8 April 2026 - 15:33 WIB
Ilustrasi dolar dan rupiah.
Ilustrasi dolar dan rupiah.

 

JAKARTA – Nilai tukar rupiah memasuki fase mengkhawatirkan setelah dolar Amerika Serikat resmi menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Di tengah fluktuasi yang tajam ini, otoritas moneter dan fiskal mulai bersuara terkait langkah-langkah penyelamatan stabilitas ekonomi nasional.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan tinggal diam melihat pelemahan mata uang Garuda.

“Bank sentral akan mengerahkan seluruh instrumen moneter yang tersedia untuk meredam gejolak ini. Intervensi dilakukan secara konsisten di berbagai lini, mulai dari pasar spot hingga instrumen derivatif seperti DNDF dan pasar offshore,” tegas Destry saat merespons volatilitas pasar yang sempat menyentuh level Rp17.100 per dolar AS.

Anjloknya nilai tukar ini dipicu oleh memanasnya suhu geopolitik di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz, yang mengerek harga minyak dunia di atas US$100 per barel. Kondisi tersebut memberikan tekanan besar pada kas negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa kondisi fiskal saat ini sedang mengalami tantangan yang cukup berat akibat lonjakan belanja.

“Defisit APBN hingga triwulan I 2026 telah mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap PDB. Meskipun pendapatan negara mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat, lonjakan belanja yang signifikan memang memperlebar tekanan fiskal kita,” ujar Purbaya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga kesehatan anggaran. “Sebagai langkah antisipatif, kami kini menyiapkan strategi efisiensi anggaran serta optimalisasi penerimaan dari sektor komoditas unggulan seperti batu bara dan nikel,” imbuhnya.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut, terutama memasuki periode repatriasi dividen perusahaan pada April hingga Mei mendatang. Dampaknya pun sudah terasa di pasar modal, di mana arus modal asing keluar mencapai Rp1,8 triliun dalam sehari.

Meski demikian, pemerintah dan BI tetap optimistis bahwa posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas utama akan menjadi penyangga yang kuat untuk menahan depresiasi rupiah lebih dalam melalui tambahan devisa hasil ekspor. Saat ini, pelaku pasar masih menanti perkembangan global serta arah kebijakan lanjutan yang akan diambil oleh otoritas moneter dalam jangka pendek. (*)

Editor : Indra Zakaria
#dolar #rupiah