BALIKPAPAN – Tantangan berat harus dihadapi Persiba Balikpapan pasca-laga tandang melawan Persela Lamongan. Bukan soal taktik di lapangan, melainkan kendala logistik perjalanan pulang yang memaksa tim berjuluk Beruang Madu ini menempuh jalur laut akibat ludesnya tiket pesawat di tengah puncak arus balik Lebaran 2026.
Kabar mengenai kepulangan skuat Persiba menggunakan kapal laut sempat ramai setelah beberapa pemain mengunggah momen di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Manajemen akhirnya angkat bicara untuk menjelaskan situasi darurat yang dialami tim kebanggaan warga Balikpapan tersebut.
Tiket Pesawat Ludes, Skenario Darurat Dijalankan
Chief Operating Officer (COO) Persiba, Imam Turmudzi, mengungkapkan bahwa manajemen sebenarnya telah menyusun rencana kepulangan jauh-jauh hari. Namun, ledakan jumlah pemudik membuat perburuan tiket untuk rombongan besar berjumlah 31 orang menjadi misi yang hampir mustahil.
“Kami sudah mengatur berbagai opsi, bahkan menyiapkan skenario kepulangan hingga tanggal 2 April. Namun, saat puncak arus balik seperti ini, kursi penerbangan sangat terbatas dan tersebar di jadwal yang berbeda,” ujar Imam pada Senin (30/3).
Pihak manajemen sempat berupaya mencari rute alternatif melalui Semarang, Yogyakarta, hingga Jakarta, namun hasilnya nihil. Jika dipaksakan berangkat terpisah-pisah dengan pesawat, hal tersebut dikhawatirkan akan merusak kekompakan dan ritme persiapan tim.
Keputusan menggunakan transportasi laut diambil sebagai solusi paling realistis agar seluruh pemain dan ofisial bisa tiba di Balikpapan secara bersamaan. Mengingat Persiba sudah ditunggu laga penting pada 4 April 2026 mendatang, manajemen tidak ingin mengambil risiko lebih besar terkait ketidakhadiran pemain. “Semua opsi sudah kami coba, dan jalur laut adalah yang paling memungkinkan agar tim tetap berkumpul utuh,” tambahnya.
Meski harus menempuh perjalanan panjang yang memakan waktu lebih lama dibanding jalur udara, tim pelatih tidak tinggal diam. Selama di atas kapal, para pemain tetap diinstruksikan untuk menjaga kondisi fisik agar tidak merosot (drop). Latihan ringan dan pengaturan istirahat menjadi kunci agar setibanya di Balikpapan, skuat tetap siap tempur. (*)
Editor : Indra Zakaria